Nasib Industri Film di Tengah Pandemi, Dipaksa Berinovasi Tiada Henti

- Jumat, 30 Juli 2021 | 18:25 WIB
Pengunjung menyaksikan film yang di putar di Bioskop CGV 23 Paskal, Jalan Pasirkaliki, Kota Bandung, Jumat (19/3/2021). Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung menyebutkan Bioskop yang beroperasi pada masa pandemi Covid-19 masih minim pengunjung meski telah kantongi izin dengan jumlah kunjungan hanya sekitar 10 persen dibandingkan dengan keadaan normal sebelum pandemi Covid-19.
Pengunjung menyaksikan film yang di putar di Bioskop CGV 23 Paskal, Jalan Pasirkaliki, Kota Bandung, Jumat (19/3/2021). Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung menyebutkan Bioskop yang beroperasi pada masa pandemi Covid-19 masih minim pengunjung meski telah kantongi izin dengan jumlah kunjungan hanya sekitar 10 persen dibandingkan dengan keadaan normal sebelum pandemi Covid-19.

LENGKONG AYOBANDUNG.COM  Pandemi Covid-19 melumpuhkan hampir semua sektor industri di berbagai dunia.

Salah satunya yang terdampak ialah industri film. Kebijakan penanganan penyebaran virus Covid-19 berdampak pada tersendatnya produksi film serta pendapatan film.

Lantaran sebagian besar profit berasal dari penjualan tiket bioskop, seluruh stakeholder industri perfliman pun terpaksa memutar otak untuk dapat survive.

Untungnya, para pelaku industri film kini mendapat angin segar karena munculnya tren streaming film online seperti Netflix, Bioskoponline, Hooq,  Disney+, Iflix, Wetv, Mola. Dengan adanya aplikasi ini, konsumen tidak perlu lagi datang ke bioskop, karena mudahnya akses aplikasi.

Banyaknya film berkualitas dan tak terbatas menjadikan layanan streaming ini pilihan utama hiburan terlebih lagi pada situasi pandemi Covid-19 ini.

Kehadiran layanan streaming tersebut membuat industri film mulai dapat beradaptasi di tengah kondisi saat ini, dengan memanfaatkan perkembangan teknologi digital dalam memproduksi dan mendistribusikan film mereka.

Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri terhadap produsen film. Ketika mereka mendistribusikan filmnya ke platform-platform digital, maka segmentasi penonton film akan lebih luas, mereka akan dituntut lebih kreatif dan produktif karena ketatnya persaingan antara sesama pegiat film.

Peralihan cara untuk menonton film dari konvensional ke digital akan membentuk budaya baru, dengan keduanya menawarkan kelebihan dan kekurangannya masing-masing tanpa menghilangkan esensi menonton film itu sendiri. [Enrico Arya Pradita]

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Terkini

Gabus, dari Rawa Jadi Ikan Hias Jutaan Rupiah

Selasa, 21 September 2021 | 16:34 WIB

FESTRA 2021: Menjaga Kebudayaan Indonesia

Selasa, 7 September 2021 | 10:24 WIB

Inovasi Baru, Budi Daya Stroberi di Peti Kemas

Kamis, 5 Agustus 2021 | 17:55 WIB

7 Hama Tanaman Hias Aglonema dan Cara Mengatasinya

Minggu, 1 Agustus 2021 | 19:10 WIB

5 Komunitas Unik yang Hanya Ada di Bandung Raya

Minggu, 1 Agustus 2021 | 12:00 WIB
X