Dahulu Primadona, Burung Love Bird Kini Dijual Murah

- Kamis, 29 Juli 2021 | 21:05 WIB
Burung jenis love bird kini sudah tidak terhitung jumlahnya, seperti yang ada di pasar pusat jual-beli burung, Pasar Sukahaji, Kota Bandung. Pengunjung dapat dengan mudah menemukan jenis burung ini yang kini harganya sudah jauh lebih murah.
Burung jenis love bird kini sudah tidak terhitung jumlahnya, seperti yang ada di pasar pusat jual-beli burung, Pasar Sukahaji, Kota Bandung. Pengunjung dapat dengan mudah menemukan jenis burung ini yang kini harganya sudah jauh lebih murah.

BOJONGLOA KALER, AYOBANDUNG.COM Dulu sempat menjadi primadona dan langka, kini burung cantik yang dikenal bernama love bird ini sudah jauh lebih murah dan berlimpah di pasaran.

Seperti yang terlihat di salah satu pasar burung terbesar di Kota Bandung, Pasar Sukahaji Bandung, terlihat hampir seluruh pedagang burung memiliki jenis burung mungil ini.

Setelah sempat meledak dan dicari banyak orang, harga love bird kini turun drastis dan tak kunjung kembali membaik. Menurut penuturan salah satu pedagang burung yang sudah lebih dari sepuluh tahun berjualan di Pasar Sukahaji, Kiki, mengatakan harga burung love bird kini hanya kisaran puluhan ribu rupiah per ekornya.

Love bird justru sekarang lagi jatuh harganya. Paling dijual Rp40-50 ribu. Paling kenceng Rp200 ribu paling,” tutur Kiki saat ditemui tengah menemani beberapa pembeli yang datang ke Pasar Sukahaji dna tertarik untuk melihat barang dagangannya (29 Juli 2021).

Kiki merasa, turunnya harga love bird ini tidak normal. Meskipun Kiki juga tahu fenomena ini merupakan hal biasa dalam penjualan barang koleksi, sama seperti yang terjadi pada tanaman hias dan ikan hias.

Dibilang normal sih engga. Dulu kalau warna gini dulu Rp15 juta, sekarang cuma Rp150 ribu,” terang Kiki sambil menunjuk love bird jenis biola.

Alasan turunnya harga love bird yang drastis menurut pandangan Kiki adalah karena saat ini jumlah burung yang sudah banyak di pasaran. Kiki juga tidak mengelak jika ada permainan harga yang biasa dilakukan saat burung sedang banyak dicari orang.

Gimana ya, mungkin karena sudah terlalu banyak dianakin (dikembangbiakkan) mungkin. Dulu kurang (banyak), sekarang lagi banyak. Dari sana-nya gitu, mungkin nanti naik lagi, nggak tahu kapan,” ucap Kiki.

Turunnya harga love bird membuat sebagian besar pedagang burung berusaha menjual seluruh love bird yang mereka miliki. Alasannya, perawatan dan pakan yang mahal membuat pedagang lebih rugi.

“Makanya kemarin teman-teman juga dikeluarin (dijual) semua, soalnya pakannya mahal,” terang Kiki.

Harga love bird masih bisa naik kembali ketika burung tersebut telah memenangkan sebuah kontes. Hal ini disampaikan oleh Kikin yang sudah sepuluh tahun gemar melakukan kontes burung, salah satunya kontes burung love bird. Love bird yang awalnya hanya berharga puluhan ribu, setelah memenangkan kontes bisa ditawar dengan harga jutaan rupiah.

“Dinilainya dari durasi, suaranya panjang gitu. Warnanya nggak pengaruh yang penting suaranya,” kata Kikin saat ditanya mengenai penilaian kontes love bird.

Menurut Kiki dan Kikin, merawat love bird tidak terlalu sulit. Hanya saja, burung love bird tidak bisa lebih dari dua burung dalam satu kandang. Selain akan lebih mudah sakit, mereka akan berkelahi dan melukai satu sama lain.

“Kalau ini (burung love bird) kan kanibal, galak. Jadi harus dipisahkan kalau malam. Kalau bisa lampunya dimatiin biar pada istirahat tidur. Kalau lampunya terang, burungnya otomatis berantem,” jelas Kiki.

Kiki bercerita pengalaman temannya yang pernah tertipu saat membeli burung berwarna nyentrik ini. Saat harga normal love bird warna biola di pasaran mencapai Rp15 juta per ekor, seseorang menjual sepasang love bird hanya dengan harga Rp6 juta. Merasa untung, teman Kiki tanpa menaruh rasa curiga langsung membeli kedua pasang burung tersebut.

“Ternyata bulunya diwarnai. Itu pewarnanya bagus, tidak luntur. Ketahuannya ketika burung ganti bulu, tumbuhnya beda,” jelas Kiki.

Sementara itu, selain harga love bird yang menurun dan tidak kunjung mengalami kenaikan, sama halnya dengan yang terjadi pada Pasar Sukahaji.

Kiki bercerita, setelah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat, Pasar Sukahaji masih belum ramai pengunjung.

“Pengunjungnya kurang, nggak kayak dulu. Soalnya luar kota masih PPKM, jadi luar kotanya nggak bisa masuk. Banyak (pembeli) luar kota yang belanja,” tutur Kiki.

Kiki juga mengatakan tidak bisa mengetahui kedepannya burung jenis apa yang akan tren di pasaran. Ia hanya berharap harga burung love bird akan kembali membaik kedepannya.

Nggak bisa diprediksi, ini juga nggak tahu kapan naiknya,” tutup Kiki sambil tertawa. [Jessy Febriani]

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Terkini

Gabus, dari Rawa Jadi Ikan Hias Jutaan Rupiah

Selasa, 21 September 2021 | 16:34 WIB

FESTRA 2021: Menjaga Kebudayaan Indonesia

Selasa, 7 September 2021 | 10:24 WIB

Inovasi Baru, Budi Daya Stroberi di Peti Kemas

Kamis, 5 Agustus 2021 | 17:55 WIB
X