Kelas Pengganti, Komunitas Seni yang Berekspansi saat Pandemi

- Selasa, 30 Maret 2021 | 17:02 WIB
Beberapa saat sebelum Kelas Pengganti mempertunjukan Kalanirsuara di Gedung Rumentang Siang, Bandung.
Beberapa saat sebelum Kelas Pengganti mempertunjukan Kalanirsuara di Gedung Rumentang Siang, Bandung.

SUMUR BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Sebuah komunitas seni pertunjukan asal Jatinangor melebarkan sayap ke Kota Bandung sebagai langkah untuk beradaptasi dengan pandemi. Komunitas yang menamai dirinya Kelas Pengganti ini sadar kelompoknya tidak akan bertahan lama jika hanya mengandalkan Jatinangor sebagai tempat untuk bertumbuh. 

Kelas Pengganti dibentuk pada 2018 oleh Muhammad Hakim Dutama dan Idham Nur Indrajaya yang merupakan lulusan Fakultas Ilmu Budaya Unpad. Awalnya, nama Kelas Pengganti tidak diproyeksikan untuk jangka panjang. Nama itu dikondisikan hanya untuk keperluan penampilan dari Tama dan Idham saat mereka diminta untuk mendeklamasikan puisi di sebuah kedai makan. 

"Pada awalnya memang hanya untuk tampil di hari itu saja. Tapi, tiba-tiba ada kawan-kawan yang terlihat bersemangat untuk melanjutkan Kelas Pengganti," ujar Tama. 

Akhirnya, beberapa orang pun diajak untuk bergabung. Di awal bergabungnya orang-orang baru, Kelas Pengganti lebih diproyeksikan sebagai penampil musik eksperimental. Namun, seiring berjalannya komunitas tersebut, bidang-bidang seni yang lain pun ikut tumbuh. 

-
Cuplikan adegan dalam Kalanirsuara yang terinspirasi dari perjalanan hidup Dialita (Ayobandung.com/Idham Nur Indrajaya)

Saat pandemi sudah masuk ke Indonesia, kampus-kampus yang ada di Jatinangor pun dinonaktifkan dan perkuliahan dilangsungkan secara virtual. Akibatnya, seluruh komunitas yang berdiri di bawah naungan kampus-kampus di sana pun setidaknya sempat mengalami mati suri. 

Pandemi pun dilihat sebagai suatu kondisi yang memaksa Kelas Pengganti untuk keluar dari zona nyamannya. Mereka selalu menganggap Jatinangor sebagai ekosistem yang cukup ideal bagi komunitas-komunitas untuk bertumbuh. Namun, mereka juga sadar bahwa sebelum pandemi Covid-19, Kelas Pengganti terlalu bergantung kepada aktivitas kampus. 

Setidaknya, Bandung punya masyarakat seni yang tentunya lebih banyak dan lebih variatif dari segi pemikiran dan sebagainya. Selain itu, Bandung juga punya basis massa yang cakupannya lebih luas dibanding Jatinangor

"Kalau Tama dari awal sudah langsung tercetus untuk ke Bandung. Tapi, kalau saya sendiri sebenarnya sempat benar-benar drop saat Kelas Pengganti benar-benar sulit untuk membuat aktivitas apapun. Bahkan untuk membuat Podcast sekaipun," ujar Idham.

Pandemi yang awalnya disoroti sebagai beban, akhirnya dinilai oleh Kelas Pengganti sebagai paksaan yang positif. Saat ini, anggota yang bergabung dengan Kelas Pengganti bukan hanya alumni Unpad saja, beberapa alumni dari kampus dan komunitas yang lain pun ikut bergabung. Saat ini, mereka sedang mempersiapkan pertunjukan berjudul Air Gede yang akan dipertunjukkan di Cianjur dan Bandung. 

Halaman:

Editor: Eneng Reni Nuraisyah Jamil

Tags

Terkini

Gabus, dari Rawa Jadi Ikan Hias Jutaan Rupiah

Selasa, 21 September 2021 | 16:34 WIB

FESTRA 2021: Menjaga Kebudayaan Indonesia

Selasa, 7 September 2021 | 10:24 WIB

Inovasi Baru, Budi Daya Stroberi di Peti Kemas

Kamis, 5 Agustus 2021 | 17:55 WIB
X