Peraih Nobel Ini Sebut Penerima Vaksin Meninggal dalam 2 Tahun?

- Sabtu, 29 Mei 2021 | 07:26 WIB
Unggahan yang mencatut nama peraih Nobel Luc Montagnier beredar luas di media sosial, termasuk Facebook.
Unggahan yang mencatut nama peraih Nobel Luc Montagnier beredar luas di media sosial, termasuk Facebook.

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Beberapa pekan terakhir, pesan yang kabarnya berasal dari pernyataan peraih Nobel Luc Montagnier soal vaksin Covid-19 menyebar luas di media sosial maupun aplikasi pesan instan terenkripsi. Di Facebook, misalnya, postingan yang menjadi viral berasal dari akun Ryan Shough pada 22 Mei 2021.

Unggahannya telah dibagikan lebih dari 1.000 kali. Ia berharap klaim yang mengatakan bahwa "tidak ada peluang untuk bertahan hidup" bagi penerima vaksin Covid-19 adalah kabar yang tidak benar.

"Tidak ada harapan dan tidak ada pengobatan bagi mereka yang telah divaksinasi. Kita harus bersiap untuk mengkremasi jenazah," demikian klaim yang disebut-sebut bersumber dari wawancara dengan Montagnier

Unggahan tersebut telah ditandai sebagai informasi palsu oleh Facebook. Menurut laporan USA Today, Montagnier memang pernah melontarkan komentar anti-vaksinasi dan terlibat dalam gerakan tersebut, namun dia tak membuat pernyataan seperti yang menyebar luas belakangan ini.

Montagnier merupakan penerima Hadiah Nobel pada 2008 bersama ilmuwan Francoise Barre-Sinoussi berkat penelitiannya mengidentifikasi virus HIV. Montagnier juga terkenal dengan komentar kontroversialnya tentang asal usul virus corona.

Dalam unggahan di Facebook, Montagnier disebut mengatakan semua penerima vaksin Covid-19, produksi manapun, akan meninggal karena antibody dependent enhancement (ADE). Apa itu ADE?

Kekhawatiran soal ADE pernah terjadi dengan vaksin demam berdarah dengue (DBD). Kondisi ADE mewakili terjadinya peningkatan aktivitas--bisa berupa keparahan penyakit--yang disebabkan oleh keberadaan suatu antibodi tertentu pada tubuh.

Awalnya, para ilmuwan sempat khawatir tentang ADE ketika mengembangkan vaksin. Faktanya, kasus tersebut tidak ditemukan selama uji klinis atau peluncuran vaksin Covid-19 ke publik.

Dalam beberapa variasi unggahan di Facebook, ada wawancara dua menit dengan Montagnier yang membahas vaksin Covid-19 dan varian virus corona. Ahli virologi itu memang membuat klaim mengenai vaksin dapat menyebabkan ADE, membuat penyakit lebih parah dari sebelumnya.

Halaman:

Editor: Fira Nursyabani

Tags

Terkini

X