Eksistensi Kopi Palintang, Rasa Khas Mantap yang Mulai Naik Daun

- Minggu, 29 Agustus 2021 | 11:44 WIB
Eksistensi kopi palintang sedang bagus belakangan ini. Rasa khas sedap yang dimilikinya membuat popularitas kopi palintang naik daun. Maman Suherman, pria berusia 61 tahun ini menjadi salah satu petani sekaligus pengolah kopi di gunung Palintang. (Ayobandung.com/Muslim Yanuar Putra)
Eksistensi kopi palintang sedang bagus belakangan ini. Rasa khas sedap yang dimilikinya membuat popularitas kopi palintang naik daun. Maman Suherman, pria berusia 61 tahun ini menjadi salah satu petani sekaligus pengolah kopi di gunung Palintang. (Ayobandung.com/Muslim Yanuar Putra)
LENGKONG, AYOBANDUNG.COM — Eksistensi kopi palintang sedang bagus belakangan ini. Rasa khas sedap yang dimilikinya membuat popularitas kopi palintang naik daun.
 
Palintang adalah salah satu penghasil kopi di daerah Cipanjalu, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung.
 
Salah satu penggiat yang mengemukan kopi Palintang adalah Maman Suherman. Pria berusia 61 tahun ini menjadi salah satu petani sekaligus pengolah kopi di gunung Palintang.
 
Berawal dari petani kopi biasa, Maman memutuskan untuk mencoba mengolah sendiri biji kopi yang ia tanam. Hal ini ia lakukan karena harga jual biji kopi mentah, ketika ia jual ke tengkulak, tak seberapa.
 
Pada kala itu, harga 1 kg biji kopi hanya dihargai Rp2.5003.000/kg. Ia juga bercerita hasil panen kopinya dari total kebun seluas 2 hektar hanya dihargai Rp2 Juta rupiah saja, tak sebanding dengan kerja keras yang ia lakukan.
 
Pada tahun 2014, ia mencoba untuk mengolah dari biji kopi dari mulai proses pemetikan hingga proses lainnya untuk menghasilkan kopi dengan kualitas premium.
 
Berawal dari informasi yang ia dapatkan dari anak angkatnya Aulia Asmarani. Maman mulai mencoba mengikuti pelatihan dan uji coba biji kopi yang ia proses.
 
Selama satu tahun ia mengikuti proses uji coba dengan disertai mengikuti perlombaan. Hasil kerja kerasnya terbayar, biji kopi yang ia proses mendapati juara ke 2 dalam salah satu perlombaan kopi lokal pada tahun 2015.
 
Sejak itu, Maman yang kini menjabat sebagai Ketua Kelompok Tani Layangsari memutuskan untuk mulai mengemas dan memasarkan kopi buatannya. Dengan mengusung tema Micro Lot kopi, yaitu kopi yang diolah oleh petani kopi langsung.
 
Biasanya memiliki kebun seluas 1-2 hektar, petani kopi mengerahkan usaha dan perawatan ekstra terhadap pohon kopi untuk menghasilkan buah kopi yang bagus. Panen dan proses paska panen pun diterapkan dengan standar tertentu agar kopi beras (green bean) yang dihasilkan memiliki kualitas yang tinggi. 
 
Proses untuk menghasilkan kopi dengan kualitas premium yaitu biji kopi harus langsung segera di proses. Serta tidak melewati batas waktu 8 jam setelah biji kopi dipetik dari pohonnya
 
"Karena disini adalah proses terpenting untuk menghasilkan kopi premium, maksimal 8 jam harus sudah diolah. Jika melebihi batas waktu, hasilnya nanti akan lain," ujarnya.
 
Saat ini maman memilik 4 jenis proses yang menghasilkan cita rasa berbeda. Varian proses tersebut menghasilkan produk antara lain :
 
1. Natural: Proses ini menghasilkan cita rasa kopi yang alami diawali dengan proses pemetikan, setelah itu biji kopi dicuci hingga bersih, lalu dijemur selama kurang lebih satu bulan untuk mengelupaskan kulit secara alami. Varian ini dibanderol dengan harga Rp.40.000/ 100 gram.
 
2. Honey: Proses ini menghasilkan cita rasa kopi yang memiliki perpaduan manis berbagai macam buah. Proses diawali dengan proses pemetikan, setelah itu biji kopi dicuci hingga bersih, lalu kulit dikupas dan dijemur selama kurang lebih satu bulan. Varian ini dibanderol dengan harga Rp.35.000/ 100 gram.
 
3. Fullwash: Proses ini menghasilkan cita rasa kopi yang cukup halus. Proses diawali dengan proses pemetikan, lalu biji kopi dikupas kulitnya, direndam dalam karung selama 8 jam, setelah itu biji kopi dicuci hingga bersih, kemudian kembali direndam dalam air selama 8 jam sebelum dijemur selama kurang lebih satu bulan. Varian ini dibanderol dengan harga Rp.30.000/ 100 gram.
 
4. Wine:  Proses ini menghasilkan cita rasa kopi yang memiliki sentuhan anggur dan sangat halus. Proses diawali dengan proses pemetikan, setelah itu biji kopi dicuci hingga bersih, di masukkan ke dalam plastik kedap udara dan di tutup selama 35 hari lalu dijemur selama kurang lebih satu bulan. Varian ini dibanderol dengan harga Rp.50.000/ 100 gram.
 
Meski begitu, Maman bercerita proses untuk memili produk ini tidaklah mudah, banyak halangan dan tantangan yang ia lewati semasa proses pengembangan kopi Palintang ini. Salah satunya modal yang ia danai menggunakan pinjaman kredit dari Bank.
 
Ketika ditanya, adakah bantuan dari pemerintah ia mengatakan masih minim bahkan hampir tidak ada. Meski begitu, pada akhirnya ia bisa memiliki produk yang bisa mengangkat nama daerah Palintang.
 
"Saya melakukan ini karena ingin mengangkat nama Palintang, agar dikenal menjadi penghasil kopi premium. Bukan hanya menjadi penghasil kopi reguler saja," tambahnya.
 
Mengenai pemasaran, ia memang mengatakan pemesan banyak dari luar daerah, seperti Bogor, Sukabumi, Subang dan berbagai daerah di Indonesia. Bahkan kopi hasil buatannya pernah dijadikan oleh oleh bagi turis mancanegara.

"Pernah ada bule dateng ke rumah pengen beli kopi abah, katanya buat oleh oleh pulang ke negaranya. saya gak tau lupa darimana hehe," ujarnya sambil terkekeh.
 
 
Maman berharap kedepannya produk yang ia miliki bisa terus bersaing dipasaran, terutama bagi para penikmat kopi. Di bantu anak angkatnya kini penjualan mulai merambah ke penjualan online dan marketplace.
 
Ia juga berharap semoga dengan adanya Micro Lot kopi ini bisa mengangkat nama Kopi Palintang semakin dikenal luas oleh para pecinta kopi. [*]

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

3 Resep Kreasi Tahu Susu Lembang, Mudah dan Nikmat

Selasa, 12 Oktober 2021 | 13:41 WIB

Resep dan Cara Membuat Kulit Lumpia Basah atau Kering

Senin, 11 Oktober 2021 | 11:22 WIB

6 Tempat Nongkrong Instagramable di Bandung

Minggu, 10 Oktober 2021 | 10:00 WIB

5 Bakso Enak di Bandung, Cocok untuk Makan Siang

Kamis, 23 September 2021 | 11:20 WIB

5 Rekomendasi Jajanan Khas Bandung yang Wajib Kamu Coba

Minggu, 19 September 2021 | 16:27 WIB

Rekomendasi 15 Kuliner Enak dan Populer di Bandung

Sabtu, 18 September 2021 | 11:09 WIB

Cara Membuat Somay, Resep Siomay Tanpa Ikan untuk Dijual

Selasa, 14 September 2021 | 12:18 WIB

Catat Jam Ngemil saat Diet agar Berat Badan Turun!

Kamis, 9 September 2021 | 20:09 WIB
X