Waspada Sakit Gusi Bisa Berhubungan dengan Serangan Jantung dan Diabetes, Kenali Cirinya

- Rabu, 29 Juni 2022 | 14:53 WIB
[Ilustrasi] Waspada Sakit Gusi Bisa Berhubungan dengan Serangan Jantung dan Diabetes, Kenali Cirinya (Pixabay)
[Ilustrasi] Waspada Sakit Gusi Bisa Berhubungan dengan Serangan Jantung dan Diabetes, Kenali Cirinya (Pixabay)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Penyakit gusi sebaiknya tidak dianggap sepele. Sebuah penelitian berskala besar telah menemukan kaitan antara penyakit tersebut dengan serangan jantung dan diabetes.

Menurut studi, pengidap kedua penyakit itu lebih mungkin untuk mengalami gangguan gusi. Hasil penelitian telah dipresentasikan di EuroPerio10, kongres terkemuka dunia di bidang periodontologi dan kedokteran gigi implan yang diselenggarakan oleh European Federation of Periodontology (EFP).

Penulis studi, Ida Stødle dari Universitas Oslo, Norwegia, menjelaskan bahwa riset yang dia gagas merupakan studi observasional. Artinya, penelitian tersebut tidak menyiratkan hubungan sebab akibat.

Baca Juga: Tahun Ajaran Baru Tunjangan Sertifikasi Guru Dihapus? Ini Penjelasan Kemdikbud

"Namun, temuan ini meningkatkan kesadaran tentang korelasi antara penyakit kronis yang memengaruhi banyak orang. Pengetahuan ini dapat membantu upaya untuk mencegah penyakit," ujar Stødle.

Menurut statistik, setengah jumlah orang dewasa di seluruh dunia pernah mengidap penyakit gusi alias periodontitis. Analisis yang digagas Stødle melibatkan 4.933 peserta yang dipilih secara acak dari studi kesehatan berbasis masyarakat Trøndelag.

Peserta mengisi kuesioner tentang faktor sosiodemografi dan gaya hidup, obat-obatan, serta riwayat penyakit seperti diabetes tipe dua dan serangan jantung. Tim pun melakukan penilaian klinis gigi dan jaringan lunak.

Baca Juga: Selamat! BSU 2022 Cair Hanya ke Rekening Bank Ini, Cek Nama Penerima BSU BPJS Ketenagakerjaan Segera

Ditambah pula dengan pemeriksaan radiologis gigi, pengukuran berat badan, tinggi badan, dan tekanan darah. Peserta juga menjalani pengukuran kadar kolesterol serum, dan hemoglobin terglikasi (HbA1c).

Stødle menjelaskan, kondisi diabetes para peserta yang dinilai dari kuesioner mencakup spektrum keparahan yang luas. Ada peserta yang diabetesnya tidak terkontrol, tetapi ada juga yang terkontrol dengan baik.

Halaman:

Editor: Eneng Reni Nuraisyah Jamil

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X