Waspadai Penyakit Pascacovid-19, Kabut Otak dan Kehilangan Memori

- Rabu, 1 Desember 2021 | 10:58 WIB
Gejala penyakit pascacovid yang dirasakan para pengidap Covid-19 ternyata tidak hanya terjadi saat dirinya mengalami penyakit tersebut. Namun pada sebuah studi penelitian, masih terdapat banyak efek samping yang berpotensi dialami penyintas Covid-19, salah satunya kabut otak dan kehilangan memori.Ilustrasi penyintas Covid-19 (Freepik)
Gejala penyakit pascacovid yang dirasakan para pengidap Covid-19 ternyata tidak hanya terjadi saat dirinya mengalami penyakit tersebut. Namun pada sebuah studi penelitian, masih terdapat banyak efek samping yang berpotensi dialami penyintas Covid-19, salah satunya kabut otak dan kehilangan memori.Ilustrasi penyintas Covid-19 (Freepik)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Gejala penyakit pascacovid yang dirasakan para pengidap Covid-19 ternyata tidak hanya terjadi saat dirinya mengalami penyakit tersebut. Namun pada sebuah studi penelitian, masih terdapat banyak efek samping yang berpotensi dialami penyintas Covid-19, salah satunya kabut otak dan kehilangan memori.

Dilansir dari Health.com, Covid-19 tidak hanya menyebabkan gejala-gejala yang terjadi selama pasien mengidap penyakit tersebut seperti sesak napas, batuk, demam, dan anosmia. Bahkan setelah pasien sembuh dari virus, masih terdapat banyak potensi gejala pascacovid, sebut saja kabut otak dan kehilangan memori.

Tetapi hal tersebut masih dalam pengembangan para ahli yang mana mereka masih dalam tahap penentuan, apakah sebenarnya kedua gejala pascacovid tersebut benar-benar terjadi karena virus ini atau sebab lainnya.

Baca Juga: 12 Daftar HP Oppo Terbaru Desember 2021, Cek Harga hingga Spesifikasi

Dinukil Republika.co.id, studi yang dipublikasikan pada 22 Oktober 2021 di JAMA Network Open, membuat analisis data dari 740 orang di rentang usia rata-rata 49 tahun yang mengidap Covid-19 selama 7,5 bulan terakhir. Hasilnya adalah sebagian besar dari mereka mengalami defisit kognitif atau kesulitan berpikir, seperti kabut otak.

Masalah yang ditemukan umumnya adalah pengkodean memori, yakni mempelajari informasi baru dan ingatan, dimana masing-masingnya terjadi hanya sekitar 24 persen dan 23 persen dari peserta studi. Mereka yang dirawat di rumah sakit dengan mengidap Covid-19 lebih berisiko mengalami masalah tersebut dibandingkan yang dirawat jalan.

"Kami mulai melihat bahwa, dari waktu ke waktu, begitu banyak pasien yang mengeluhkan kesulitan yang tersisa ini (gejala pascacovid-19)," kata Seorang Neuropsikolog Klinis dan Ilmuwan di Divisi Penyakit Dalam Umum di Sekolah Kedokteran Icahn di Rumah Sakit Mount Sinai di New York City, Jacqueline H. Becker, PhD.

Baca Juga: 27 HP Xiaomi Terbaru Desember 2021, Segini Harga dan Spesifikasinya

Becker mendapati bahwa kabut otak ini berada pada masa long Covid-19, yakni sebuah kondisi misterius yang dapat berkembang pasca Covid-19. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) juga mencatat bahwa kondisi tersebut terjadi di rentang waktu empat minggu atau lebih setelah virus tertular.

Halaman:

Editor: Eneng Reni Nuraisyah Jamil

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Ini Beda Cacar Monyet dengan Cacar Air

Selasa, 24 Mei 2022 | 17:38 WIB

Ciri atau Tanda Pria dan Wanita Selingkuh

Rabu, 18 Mei 2022 | 12:06 WIB

Makan Malam, Menaikkan Berat Badan atau Tidak?

Selasa, 17 Mei 2022 | 16:18 WIB

5 Cara Menghilangkan Batuk dalam Sekejap

Senin, 16 Mei 2022 | 23:43 WIB
X