Menengok Geliat Inovasi Tenun Sutra Alam Majalaya di Tengah Pandemi

- Senin, 15 November 2021 | 22:38 WIB
Pengrajin Tenun di rumah produksi Sutra Alam Majalaya, Jalan Pangilingan, Kampung Leuwinanggung RT 04/07 Desa Talun, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung.(Ayobandung.com/Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Pengrajin Tenun di rumah produksi Sutra Alam Majalaya, Jalan Pangilingan, Kampung Leuwinanggung RT 04/07 Desa Talun, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung.(Ayobandung.com/Eneng Reni Nuraisyah Jamil)

“Untuk kami yang bergelut di bidang fesyen memang harus punya inovasi, gimana caranya supaya pasar selalu tertarik. Tentu caranya dengan riset yang menyesuaikan dengan pasar,” lanjut Evi.

Evi mengakui, saat berinovasi kendala memang selalu muncul. Salah satunya ada kebocoran desain sebelum motif tenun resmi dikenalkan. Namun, kondisi itu tak menyurutkan niat Evi lantaran dia menilai dalam berbisnis inovasi harus selalu ada dan berjalan.

“Memang terkadang, ada kebocoran atau ada yang menjiplak. Tapi apa boleh buat karena tenun tradisional ini tak bisa dihak paten, kita biarkan saja karena ini warisan nenek moyang. Tapi jika bicara inovasi, ada nilai yang tidak bisa diukur,” katanya.

Pengrajin Tenun di rumah produksi Sutra Alam Majalaya, Jalan Pangilingan, Kampung Leuwinanggung RT 04/07 Desa Talun, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung.(Ayobandung.com/Eneng Reni Nuraisyah Jamil)

Evi menjabarkan, produk kain tenun ATBM Sutra Alam Majalaya bisa tetap bertahan karena menonjolkan nilai eksklusivitas karya buatan tangan. Nilai eksklusif inilah yang juga Evi terapkan saat memasarkan produk tenun Sutra Alam Majalaya.

Pasalnya, untuk menghasilkan 1 set kain tenun dibutuhkan waktu waktu 2 hari hingga satu minggu pengerjaan. Tentu, lamanya pembuatan ini dipengaruhi dengan tingkat kerumitan dari motif dan pola tenun sulam yang dihasilkan.

Evi Sopian dan produk tenun hasil karya rumah produksi Sutra Alam Majalaya, Jalan Pangilingan, Kampung Leuwinanggung RT 04/07 Desa Talun, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung.(Ayobandung.com/Eneng Reni Nuraisyah Jamil)

Contohnya, satu set kain tenun ATBM berikut selendang memiliki harga di kisaran dari paling murah Rp800 ribu hingga Rp1,2 juta. Namun, jika motif lebih rumit serta bahan yang digunakan menggunakan benang sutra, harga satu set kain tenun mencapai Rp3 jutaan.

“Yang kita kerjakan di sini termasuk Ulos fesyen dan kita di sini jual seni. Apalagi, kita juga menghargai tenaga manusia yang mengerjakannya karena itu upah juga disesuaikan dengan tingkat kerumitan membuat selembar kain tenun ini,” ungkap Evi.

Sementara itu, Evi mengakui, sebagai mitra UMKM Bank Indonesia Jawa Barat, rumah produksinya mendapatkan program pembinaan pelaku usaha tenun ATBM. Salah satunya, Bank Indonesia Jawa Barat membantu menginisiasi pengembangan Teknik pemasaran untuk industri tenun khas Majalaya.

Halaman:

Editor: Eneng Reni Nuraisyah Jamil

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X