Penemuan Janin Bandung, Apa Hukum Menggugurkan Kandungan dalam Islam? Pola Hidup Berpengaruh

- Kamis, 11 November 2021 | 14:56 WIB
Ilustrasu janin bayi; Janin bayi ditemukan di gorong Gedebage, Cinambo, Kota Bandung. Dari penemuan janin Bandung, apa hukum menggugurkan kandungan dalam Islam? (Pixabay)
Ilustrasu janin bayi; Janin bayi ditemukan di gorong Gedebage, Cinambo, Kota Bandung. Dari penemuan janin Bandung, apa hukum menggugurkan kandungan dalam Islam? (Pixabay)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Sesosok janin bayi ditemukan di saluran gorong-gorong di perempatan Jalan Gedebage, Kecamatan Cinambo, Kota Bandung, Rabu, 10 November 2021, kemarin. Penemuan janin Bandung tersebut pertama kali ditemukan oleh petugas kebersihan. Mengamati penemuan janin Gedebage ini, lantas apa hukum menggugurkan kandungan dalam Islam?

Anak merupakan salah satu anugerah yang diberikan Allah SWT kepada umatnya. Namun, tampaknya tidak semua umat muslim menerima hadiah tersebut. Praktik aborsi hingga kini masih santer terdengar dan dilakukan oleh masyarakat Indonesia.

Dalam dunia medis, istilah aborsi berarti menggugurkan kandungan sebelum janin dapat hidup di luar tubuh ibunya. Sementara itu dalam Bahasa Arab, aborsi disebut dengan istilah al-Ijhadh. Kata al-Ijhadh berasal dari kata ajhadha-yajhidhu yang memiliki arti 'wanita yang melahirkan anaknya secara paksa dalam keadaan belum sempurna penciptaannya'. Dalam kitab al Misbah al Munir juga disebutkan bahwa aborsi dalam fikih disebut isqath (menggugurkan), ilqaa (melempar), atau tharhu (membuang).

Baca Juga: Bocoran Spesifikasi Oppo A95 4G, Berapa Harga HP Oppo Terbaru Ini?

Mengamati Penemuan janin Bandung, apa hukum menggugurkan kandungan dalam Islam?

Dinukil Republika.co.id, para ulama diketahui memiliki pendapat berbeda tentang aborsi ini. Mazhab Imam Hanafi menilai aborsi mubah atau boleh tanpa sebab atau 'udzur selagi belum ada tanda-tanda kehidupan dan usia kandungan belum mencapai usia 120 hari. Jika janin telah berusia 4 bulan, Allah SWT telah meniupkan ruh ke dalam janin tersebut.

Meski demikian, ada beberapa ulama dari mazhab ini yang menyebut aborsi makruh jika menggugurkan tanpa sebab dan udzur. Sebab-sebab udzur ini di antaranya; dikhawatirkan karena mengancam kesehatan ibu sebab penyakit yang ganas, atau dapat menyebabkan janin cacat, dan sebagainya. Sebagian ulama ini pula menyatakan mutlak hukumnya adalah mubah atau boleh jika menggugurkan kandungan karena sebab 'udzur (darurat).

Imam Maliki menilai menggugurkan kandungan adalah haram, meski usia kandungan belum mencapai 40 hari. Para ulama ini berpatokan pada QS Al-Mu'minun ayat 13 yang berisi, "Kemudian Kami menjadikannya nuthfah (setetes mani) dalam tempat berdiam yang kokoh." Tidak boleh janin dikeluarkan dari tempatnya kecuali dengan satu sebab yang syar'i.

Dalam mazhab Syafi'i, dibolehkan menggugurkan janin sebelum berusia 40 hari. Namun ada pendapat lain yang menyatakan janin memiliki kehormatan sehingga apapun kondisinya tidak boleh dirusak. Sebagian imam dalam mazhab ini menilai menggugurkan kandungan diizinkan dalam dua tahapan, saat masih berupa nuthfah (setetes mani) dan 'alaqah (segumpal darah) dan sebelum ke tahapan mudhghah (segumpal daging).

Halaman:

Editor: Eneng Reni Nuraisyah Jamil

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Langkah Cerdas Mencegah Diabetes pada Milenial

Jumat, 30 September 2022 | 15:29 WIB
X