Sejarah Gunung Parang Purwakarta, Dihuni 5 Empu Pembuat Pusaka

- Minggu, 26 September 2021 | 10:00 WIB
Gunung Parang Purwakarta. (Ayopurwakarta.com/Dede Nurhasanudin)
Gunung Parang Purwakarta. (Ayopurwakarta.com/Dede Nurhasanudin)
PURWAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Gunung Parang menjadi salah satu destinasi wisata pilihan di Purwakarta karena keindahan alamnya. Gunung yang berlokasi di Kecamatan Tegalwaru ini banyak dikunjungi wisatawan, terutama para pecinta alam baik dalam maupun luar kota.
 
Di balik keindahannya, Gunung Parang ternyata menyimpan cerita yang menarik.
 
Juru Kunci Gunung Parang, Abah Wahyudin mengatakan, gunung ini awalnya bernama Gunung Barang karena menurut cerita masyarakat pada zaman dulu, gunung ini merupakan tempat dibuatnya senjata pusaka Prabu Siliwangi.
 
 
Ia menuturkan, konon, alasan gunung ini dinamai Gunung Barang karena semua barang-barang pusaka zaman kerjaan Raja Padjajaran dibuat di Gunung Barang ini.
 
Gunung Barang tempatnya di Jawa Barat maka dari itu diberi nama Gunung Barang Pancer Tunggal. Pancer yang artinya tengah-tengah di Jawa Barat.
 
"Di Gunung Barang ada lima makam empu yakni Mak Eyang Barang, Mak Haji Bengker Buana Sakti, Mak Eyang Cakra Buana, Ibu Dewi Sekarwangi dan Dewi Cahya Sakti," kata dia kepada Ayopurwakarta.com, Jumat, 24 September 2021
 
Semasa hidupnya, mereka pembuat benda pusaka dari besi di atas gunung pada masa Kerajaan Padjajaran. "Semua barang-barang, kelima empu itu yang bikin," kata dia.
 
Selain dari lima itu, ada yang pokok memiliki sejarah, yakni Raden Surya Kencana yang tak lain adalah cucu dari Prabu Siliwangi.
 
"Makam Mak Eyang Barang, Dewi Sekarwangi dan Ibu Dewi Cahya Sakti, sama patilasan Raden Surya Kencana berada di atas yang sekarang pos 4. Kemudian makam Mak Haji Bengker Buana Sakti ada di yang sekarang menjadi pos 2 jalur pendakian," kata dia.
 
Makam-makam tersebut, lanjut dia menjadi tempat ziarah khususnya masyarakat di Jawa Barat untuk memanjatkan doa.
 
Seiring perkembangan, Gunung Barang yang lebih dikenal dengan Gunung Parang menjadi tempat wisata sejak 2013.
 
"Bukan lagi menjadi tempat ziarah," ujar abah yang juga pengelola wisata Gunung Parang jalur buhun tersebut.
 
 
Selain itu, di sini juga terdapat Goa Belanda yang juga menyimpan sejarah. Berdasarkan masyarakat zaman dulu terdapat cerita beragam soal goa tersebut.
 
"Ada yang bilang untuk jalur kereta api, untuk bersembunyi, menyimpan harta benda hasil rampokan rakyat pada zaman dulu, ada juga versi lain cari intan dan emas," kata Abah Wahyudin.

Editor: Fira Nursyabani

Tags

Artikel Terkait

Terkini

10 Hotel Seru untuk Staycation di Bandung

Minggu, 10 Oktober 2021 | 05:30 WIB

5 Cara Produktif Kerja setelah Liburan

Minggu, 3 Oktober 2021 | 12:00 WIB

Bukit Anti Galau, Pesona Baru Wisata Kota Cirebon

Sabtu, 2 Oktober 2021 | 13:36 WIB
X