Efektivitas Vaksin Covid-19 Berkurang Seiring Waktu, Apa Dampaknya?

- Jumat, 24 September 2021 | 08:08 WIB
Vaksinasi Covid-19; Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa vaksin Covid-19 akan kehilangan efektivitasnya seiring waktu. Apa dampaknya? (Biro Adpim Jabar/Rizal FS)
Vaksinasi Covid-19; Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa vaksin Covid-19 akan kehilangan efektivitasnya seiring waktu. Apa dampaknya? (Biro Adpim Jabar/Rizal FS)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa vaksin Covid-19 akan kehilangan efektivitasnya seiring waktu. Akan tetapi, para ahli di Amerika Serikat menyimpulkan bahwa dosis penguat (booster) tidak diperlukan untuk sebagian besar orang yang lebih muda dan lebih sehat tanpa pekerjaan berisiko tinggi.

Pada Kamis (23.9), Food and Drugs Administration (FDA) telah mengizinkan pemberian dosis booster untuk orang Amerika Serikat yang berusia 65 tahun ke atas serta orang dewasa yang lebih muda yang memiliki penyakit kronis. Warga yang memiliki pekerjaan yang menempatkan mereka pada risiko tinggi tertular Covid-19 juga akan mendapat dosis penguat.

Keputusan itu sebenarnya meleset dari rencana Presiden AS Joe Biden untuk memberikan dosis ketiga kepada hampir semua orang dewasa guna menopang perlindungan di tengah penyebaran varian delta yang sangat menular. Namun, lebih banyak rintangan peraturan terbentang di depan sebelum pemberian booster dapat dimulai.

Baca Juga: 19 Daftar HP Samsung RAM Besar Baterai Jumbo 1 Jutaan Terbaik 2021

Sebelumnya, Pfizer Inc mengungkapkan hasil studi kontroversialnya yang menggunakan data dari Amerika Serikat dan Israel tentang kecenderungan kuat memudarnya kekebalan pada semua kelompok umur setelah enam bulan dalam konteks menghadapi varian delta. Hasil ini mendukung permintaan perusahaan untuk pemberian dosis sekitar enam bulan setelah dosis kedua pada individu berusia 16 tahun dan lebih tua yang memenuhi syarat.

Sembari menunggu penilaian Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA), saat itu Pfizer mengatakan, kekebalan terhadap infeksi ringan berkurang sekitar enam sampai delapan bulan setelah dosis kedua. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) mengatakan, data dunia nyata tetap menunjukkan bahwa perlindungan yang diberikan vaksin Covid-19 terhadap penyakit parah, rawat inap, dan kematian tetaplah kuat.

Hanya saja, dalam satu penelitian belum lama ini, perlindungan vaksin Covid-19 terhadap infeksi turun ketika varian delta menyerang, yakni 91 persen di musim semi lalu turun menjadi 78 persen pada bulan Juni dan Juli. Selain itu, CDC dilaporkan telah melihat petunjuk bahwa untuk orang berusia 75 tahun ke atas, perlindungan terhadap rawat inap sedikit menurun selama musim panas.

Moderna Inc juga telah mengunggah studinya sendiri tentang berkurangnya kekebalan. Studi Moderna membandingkan sekitar 14 ribu orang yang telah menerima dosis pertama setahun yang lalu dengan 11 ribu lainnya yang divaksinasi sekitar delapan bulan lalu.

Perusahaan menyimpulkan bahwa kelompok yang baru divaksinasi memiliki tingkat infeksi terobosan 36 persen lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang divaksinasi lebih lama. AS telah menawarkan dosis ekstra vaksin Pfizer-BioNTech atau Moderna, setidaknya 28 hari setelah mendapatkan suntikan kedua khusus untuk orang-orang dengan sistem kekebalan yang sangat lemah.

Namun demikian, para ilmuwan telah terbelah pendapatnya mengenai penggunaan booster vaksin Covid-19 dan siapa yang harus menerimanya. Sebagian dari mereka juga mempertanyakan bukti berkurangnya kekebalan dan apa yang harus dilakukan tentang hal itu.

Baca Juga: Penyebab Jantung Bengkak: Gejala hingga Daftar Makanan untuk Penderita Jantung Bengkak

The New York Times menunjukkan pada bulan Agustus bahwa produsen vaksin memiliki insentif untuk mempromosikan kekebalan yang berkurang. Hal ini karena suntikan booster akan memberi mereka keuntungan besar dan bahwa diskusi berlebihan tentang berkurangnya kekebalan berkontribusi pada skeptisisme vaksin.

Banyak yang berpendapat bahwa memvaksinasi semua orang Amerika akan membantu menggagalkan mutasi virus di masa depan dan menghilangkan kebutuhan akan booster atau vaksin baru. Jurnal The Atlantic dan Nature sama-sama mengatakan bahwa meskipun vaksin tidak bertahan selamanya, memori kekebalan seluler tubuh menciptakan perlindungan yang tahan lama terhadap penyakit parah, untuk sementara waktu.

"Meskipun level perlindungan berubah, baik vaksin maupun sistem kekebalan kita belum mengecewakan atau bahkan mendekati membuat kecewa. Efektivitas vaksin bukanlah monolit, demikian juga dengan imunitas. Upaya untuk aman dari virus bergantung pada inang dan patogen; perubahan dalam keduanya dapat menghancurkan penghalang yang memisahkan keduanya tanpa melenyapkannya, persis seperti yang kita lihat sekarang," kata The Atlantic dinukil Republika.co.id.

Publikasi tersebut menambahkan bahwa kasus terobosan (breakthrough infection) masih cukup jarang, merujuk pada laporan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat yang menunjukkan bahwa vaksin Moderna dan Pfizer-BioNTech memblokir tingkat infeksi hingga sekitar 90 persen di musim semi dan masih sekitar tahun 60-an dan 70-an.

Halaman:

Editor: Eneng Reni Nuraisyah Jamil

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sesak Napas Setelah Sembuh Covid-19, Apa Penyebabnya?

Kamis, 14 Oktober 2021 | 21:30 WIB

Waspada, Pilek Menahun Bisa Jadi Tanda 3 Penyakit Ini

Kamis, 14 Oktober 2021 | 18:31 WIB
X