Virus Epstein-Barr Picu Risiko Long Covid-19, Kok Bisa?

- Senin, 20 September 2021 | 12:20 WIB
[Ilustrasi] eberapa pasien virus corona Covid-19 mengalami gejala berkelanjutan hingga berminggu-minggu atau berbulan-bulan, yang disebut Long Covid-19. (Freepik)
[Ilustrasi] eberapa pasien virus corona Covid-19 mengalami gejala berkelanjutan hingga berminggu-minggu atau berbulan-bulan, yang disebut Long Covid-19. (Freepik)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Beberapa pasien virus corona Covid-19 mengalami gejala berkelanjutan hingga berminggu-minggu atau berbulan-bulan, yang disebut Long Covid-19.

Studi oleh Kantor Statistik Nasional (ONS) Inggris melaporkan bahwa sekitar 380 ribu orang di Inggris mengalami gejala Long Covid-19 yang berlangsung selama lebih dari setahun.

Studi yang sama juga menemukan bahwa 835 ribu orang mengalami Long Covid-19 setidaknya selama 12 minggu. Pakar kesehatan pun beranggapan bahwa ada kemungkinan adanya hubungan antara gejala Long Covid-19 dengan reaktivasi virus Epstein-Barr.

Baca Juga: 13 HP Murah Layar 90 Hz Terbaik Mulai 1 Jutaan

Sekitar sepertiga dari orang yang sembuh dari infeksi virus corona Covid-19 terus mengalami gejala berkepanjangan yang disebut dengan Long Covid-19.

Gejala Long Covid-19 biasanya terjadi sekitar 12 minggu atau lebih yang biasanya mencakup kabut otak, ruam kulit atau sakit kepala. Gejala lain Long Covid-19 juga termasuk rasa sakit tenggorokan, insomnia, sendi, dan demam ringan hingga berat.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa virus Epstein-Barr (EBV) yang menyebabkan demam kelenjar bisa menjadi penyebab utama mereka mengembangkan Long Covid-19 dalam waktu lama.

Satu studi dari Rumah Sakit Renmin di Rumah Sakit Umum Universitas Wuhan, Hubei, mencari lebih lanjut tentang virus Epstein-Barr (EBV) dan gejala Long Covid-19.

Para peneliti mengamati 67 orang yang dirawat di rumah sakit karena virus corona Covid-19. Lalu, memerintahkan mereka semua menjalani tes virus Epstein-Barr (EBV).

Dari 67 orang tersebut, sekitar 55 persen orang mengalami infeksi virus Epstein-Barr (EBV) yang diaktifkan kembali. Mereka menemukan bahwa pasien ini lebih mungkin mengalami demam, meskipun tidak ada kelompok pasien yang mengalami peningkatan suhu tubuh di rumah sakit.

Selain itu, tak ada gejala atau tanda vital lain yang berbeda antara kedua kelompok tersebut.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), virus Epstein-Barr (EBV), juga dikenal sebagai virus herpes manusia 4, yang merupakan anggota dari keluarga virus herpes.

Baca Juga: Gejala Diabetes pada Kaki hingga Makanan yang Boleh dan Tidak Boleh Dikonsumsi

"EBV salah satu virus manusia yang paling umum dan ditemukan di seluruh dunia. Kebanyakan orang terinfeksi EBV di beberapa titik dalam hidup mereka," kata CDC, dikutip dari Express.

EBV biasanya menyebar paling sering melalui cairan tubuh, terutama air liur. EBV bisa menyebabkan mononukleosis menular yang juga disebut mono dan penyakit lainnya.

Reaktivasi virus Epstein–Barr (EBV) yang dihasilkan dari respons inflamasi terhadap infeksi virus corona Covid-19 mungkin menjadi penyebab terjadinya Long Covid-19.

Studi Long Covid-19 telah menguraikan bukti pertama yang menghubungkan reaktivasi EBV dengan Long Covid-19, serta analisis prevalensi Long Covid-19.

"Kami menjalankan tes antibodi EBV pada pasien Covid-19 yang pulih, lalu membandingkan tingkat reaktivasi EBV dari mereka yang memiliki gejala Long Covid-19 dengan mereka yang tidak memiliki gejala Long Covid-19," kata penulis Utama studi, Jeffrey E Gold.

Ia juga mengatakan mayoritas pasien yang mengalami gejala Long Covid-19 biasanya positif reaktivasi EBV. Tapi, hanya 10 persen dari kelompok kontrol yang menunjukkan reaktivasi EBV.

Baca Juga: KARTU PRAKERJA GELOMBANG 21 DITUTUP MINGGU? Diumumkan Kapan?

Para peneliti mensurvei 185 pasien yang dipilih secara acak pulih dari virus corona Covid-19 dan menemukan bahwa 30,3 persen pasien mengalami gejala Long Covid-19 yang konsisten, termasuk pada pasien virus corona yang tanpa gejala.

"Orang-orang yang menjalani pengobatan Long Covid-19 bisa mengurangi efek EBV dan virus lain dari keluarga sama," kata Profesor Lawrence Young, ahli virologi di University of Warwick.

Halaman:

Editor: Eneng Reni Nuraisyah Jamil

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Meniran Diklaim Bisa Jadi Obat Covid-19, Benarkah?

Selasa, 30 November 2021 | 14:31 WIB

BAB Setiap Hari Sehat? Ini Jawabannya

Selasa, 30 November 2021 | 12:15 WIB

Sakit Perut Haid, Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya!

Senin, 29 November 2021 | 21:41 WIB

Waspadai 5 Efek Samping Setelah Sembuh Demam Berdarah

Senin, 29 November 2021 | 18:17 WIB
X