Virus Epstein-Barr Picu Risiko Long Covid-19, Kok Bisa?

- Senin, 20 September 2021 | 12:20 WIB
[Ilustrasi] eberapa pasien virus corona Covid-19 mengalami gejala berkelanjutan hingga berminggu-minggu atau berbulan-bulan, yang disebut Long Covid-19. (Freepik)
[Ilustrasi] eberapa pasien virus corona Covid-19 mengalami gejala berkelanjutan hingga berminggu-minggu atau berbulan-bulan, yang disebut Long Covid-19. (Freepik)

Dari 67 orang tersebut, sekitar 55 persen orang mengalami infeksi virus Epstein-Barr (EBV) yang diaktifkan kembali. Mereka menemukan bahwa pasien ini lebih mungkin mengalami demam, meskipun tidak ada kelompok pasien yang mengalami peningkatan suhu tubuh di rumah sakit.

Selain itu, tak ada gejala atau tanda vital lain yang berbeda antara kedua kelompok tersebut.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), virus Epstein-Barr (EBV), juga dikenal sebagai virus herpes manusia 4, yang merupakan anggota dari keluarga virus herpes.

Baca Juga: Gejala Diabetes pada Kaki hingga Makanan yang Boleh dan Tidak Boleh Dikonsumsi

"EBV salah satu virus manusia yang paling umum dan ditemukan di seluruh dunia. Kebanyakan orang terinfeksi EBV di beberapa titik dalam hidup mereka," kata CDC, dikutip dari Express.

EBV biasanya menyebar paling sering melalui cairan tubuh, terutama air liur. EBV bisa menyebabkan mononukleosis menular yang juga disebut mono dan penyakit lainnya.

Reaktivasi virus Epstein–Barr (EBV) yang dihasilkan dari respons inflamasi terhadap infeksi virus corona Covid-19 mungkin menjadi penyebab terjadinya Long Covid-19.

Studi Long Covid-19 telah menguraikan bukti pertama yang menghubungkan reaktivasi EBV dengan Long Covid-19, serta analisis prevalensi Long Covid-19.

"Kami menjalankan tes antibodi EBV pada pasien Covid-19 yang pulih, lalu membandingkan tingkat reaktivasi EBV dari mereka yang memiliki gejala Long Covid-19 dengan mereka yang tidak memiliki gejala Long Covid-19," kata penulis Utama studi, Jeffrey E Gold.

Ia juga mengatakan mayoritas pasien yang mengalami gejala Long Covid-19 biasanya positif reaktivasi EBV. Tapi, hanya 10 persen dari kelompok kontrol yang menunjukkan reaktivasi EBV.

Halaman:

Editor: Eneng Reni Nuraisyah Jamil

Tags

Artikel Terkait

Terkini

5 Penyebab Rambut Rontok dan Cara Mengatasinya

Sabtu, 27 November 2021 | 15:37 WIB

Sering Mengantuk Setelah Makan, Ini Penyebabnya

Kamis, 25 November 2021 | 16:21 WIB
X