BPOM Sebut Belum Ada Obat Herbal Covid-19, Masih Diteliti!

- Selasa, 14 September 2021 | 11:42 WIB
Daun sambiloto herbal asli Indonesia disebut bisa jadi obat herbal terapi pasien Covid-19. Namun, BPOM menyampaikan, sampai saat ini belum ada obat herbal terapi Covid-19 yang bisa digunakan untuk terapi penyembuhan pasien Covid-19. (Ist)
Daun sambiloto herbal asli Indonesia disebut bisa jadi obat herbal terapi pasien Covid-19. Namun, BPOM menyampaikan, sampai saat ini belum ada obat herbal terapi Covid-19 yang bisa digunakan untuk terapi penyembuhan pasien Covid-19. (Ist)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- BPOM menyampaikan, sampai saat ini belum ada obat herbal terapi Covid-19 yang bisa digunakan untuk terapi penyembuhan pasien Covid-19.

Beberapa obat herbal bagi pasien Covid-19 saat ini masih dalam tahap penelitian oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik BPOM, Reri Indriani mengatakan, herbal sebagai terapi tambahan untuk pasien Covid-19 saat ini masih dalam tahap penelitian.

Baca Juga: Sakit Kepala Migrain Bisa Berbahaya, Ini 11 Cara Mengatasinya Tanpa Obat

"Saat ini dalam penelitian untuk obat herbal bisa digunakan sebagai terapi tambahan obat konvensional untuk perbaikan pasien Covid-19," ujar dia mewakili Kepala Badan POM, Penny K Lukito dalam webinar series "Strategi Membangun Brand Obat Tradisional dan Suplemen Kesehatan", Selasa (14/9/2021) dikutip Suara.com.

Lebih lanjut, Reri menuturkan, obat tradisional termasuk herbal hingga hari ini menjadi alternatif masyarakat untuk memelihara kesehatan tubuh mereka di masa pandemi walaupun belum ada yang mempunyai indikasi sebagai obat Covid-19.

Peluang ini kemudian disambut para pelaku usaha produk herbal. BPOM mencatat adanya peningkatan peredaran produk-produk ini secara daring hingga klaim atau promosi seiring peluang peningkatan permintaan dari masyarakat terhadap suplemen kesehatan dan obat herbal.

Dalam hal ini, BPOM mengingatkan pelaku usaha bisa melakukan inovasi dan berkreasi secara bertanggung jawab sehingga tidak menyesatkan masyarakat melalui klaim produk mereka.

"Kami hargai inovasi kreavitas pelaku usaha, tetapi harus dilakukan secara bertanggung jawab. Kreativitas dan inovasi pelaku usaha untuk memperkenalkan produknya, membangun brand produk perlu difasilitasi dan dikawal agar berkembang tetapi tidak bertentangan dengan regulasi yang kami tetapkan," kata Reri.

Halaman:

Editor: Eneng Reni Nuraisyah Jamil

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Awas Ukuran Penis Mengecil, Ini Penyebabnya

Senin, 17 Januari 2022 | 18:29 WIB

Video Belatung di Vagina Wanita Dr Boyke Turun Tangan

Minggu, 16 Januari 2022 | 13:55 WIB

Tips Diet dengan Konsumsi Kopi, Emang Bisa?

Minggu, 16 Januari 2022 | 11:00 WIB

Gejala DBD Anak, Waspadai Selama Musim Hujan

Minggu, 16 Januari 2022 | 10:00 WIB

Cara Menyelamatkan Diri saat Gempa Bumi kata BNPB

Jumat, 14 Januari 2022 | 17:05 WIB

4 Dampak Buruk Akibat Nonton Film Porno

Jumat, 14 Januari 2022 | 12:14 WIB
X