Kasus Deposito Bank BNI, Ekonom Sebut Bank Bisa Dipidana Bila Terbukti Lalai

- Kamis, 24 Juni 2021 | 09:38 WIB
Bank BNI.
Bank BNI.

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM--Bank BNI terancam dikenakan pidana bila terbukti lalai menjaga deposito nasabah sebesar Rp20,1 miliar milik Hendrik dan Heng Tao Pek.

Ekonom SBM ITB, Anggoro Budi Nugroho mengatakan, pada Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan di pasal 49 ada ancaman pidana penjara dan denda bagi aparat perbankan yang terbukti mengubah, mengaburkan/menghilangkan catatan pembukuan transaksi.

Menurutnya, kedua korban yang menempuh jalur hukum sudah tepat untuk menemui titik temu.

"Sudah tepat, masuk ke ranah hukum karena ada perlindungan UU untuk nasabah," ujarnya, Kamis 24 Juni 2021.

Di sisi lain, kata dia, perekrutan sumber daya manusia (SDM) bank harus terus ditinjau dan bersandar pada nilai-nilai individu pegawai yang memiliki kredibilitas dan integritas. Hal ini untuk menghindari tindakan pengaduan hukum dari nasabah.

Dia mengaku, deposito menjadi salah satu produk andalan perbankan bagi sebagian besar orang setelah tabungan.

Salah satu perbedaan dari kedua produk tersebut yakni deposito memiliki keuntungan jauh lebih tinggi dibandingkan tabungan bila nasabah memarkirkan dana.

"Perbankan pun perlu mengedukasi terlebih dahulu kepada calon nasabah yang akan memarkirkan dana di deposito untuk menghindari permasalahan di kemudian hari," ujarnya.

Edukasi tersebut bisa berupa tidak menempatkan dana melalui oknum perantara, sekali pun pegawai bank untuk memperkecil risiko fraud.

Sebelumnya, Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi mempersoalkan klaim sepihak yang dinyatakan oleh PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. atau BNI terhadap bilyet deposito palsu senilai Rp 20,1 miliar milik Hendrik dan Heng Tao Pek.

"Klaim palsu menjadi tidak masuk akal," kata Tulus ketika dihubungi, Senin, 21 Juni 2021.

Padahal, kedua nasabah tersebut mengaku selama ini rutin untuk mengecek dana yang didepositokan, dan selalu mencetak buku tabungannya tiap bulannya. Ia pun tak menemukan kejanggalan apa pun.

Kronologi bermula ketika Hendrik tertarik menyimpan uangnya di BNI, karena ada iming-iming bunga deposito sebesar 8,25 persen per bulan. Lalu ia mentransfer uang total Rp 20,1 miliar dari Bank Maspion ke BNI lewat sistem RTGS. Seluruh transaksinya diklaim legal dan disertai bukti pendukung. Transaksi ini dilakukan di cabang Peti Kemas Pelabuhan Makassar sejak pada 2018 silam.

Pada Maret 2021 lalu, Hendrik tak bisa mencairkan depositonya, karena BNI menilai empat bilyet deposito yang dimilikinya adalah palsu.

Hendrik pin melaporkan kasus yang dialaminya ke polisi dan pengadilan, setelah sebelumnya ia tak mempertanyakan nasib uang depositonya yang tak kunjung berbuah hasil.

BNI merespons, jika pihaknya sangat menghormati proses hukum yang sedang berjalan, yang dilaporkan oleh nasabahnya.

Untuk itu, Tulus meminta BNI lebih transparan dalam proses investigasi internalnya, khususnya sebelum menyatakan jika bilyet deposito kedua nasabah tersebut palsu.

"Kepalsuannya di mana? Harus dijelaskan," ucapnya.

-
BNI. (bni.co.id)

Meski BNI memiliki kuasa dan kapabilitas untuk memeriksa soal keaslian bilyet deposito, tetapi, lanjut Tulus, dalam hal ini BNI perlu melibatkan nasabah agar nasabah bisa tahu dan merasa yakin dan adil untuk kedua pihak.

"Kalau perlu, Kepolisian harus dilibatkan ikut mengecek keaslian bilyet. Apalagi ini juga menyangkut nilai uang yang sangat besar," ujarnya.

Tulus juga mengapresiasi terkait langkah yang dilakukan nasabah dengan mengecek tabungannya secara berkala.

Dia menduga jika ada oknum dari perbankan yang mampu membobol data nasabah dan meraup seluruh tabungan.

"Dugaannya ada oknum perbankan bisa menjebol data konsumen atau orang luar yang bisa membobol. Ini yang harus diselidiki," tuturnya.

Jika pada akhirnya uang nasabah BNI sebesar Rp 20,1 miliar itu hilang karena klaim BNI bahwa bilyet deposito nasabah palsu, maka bank tetap harus bertanggung jawab.

"Karena artinya bank kecolongan. Keandalan sistem BNI dipertanyakan," kata Tulus.

Editor: Rizma Riyandi

Tags

Terkini

Berusia 17 Tahun, LPS Ungkap Rencana Selanjutnya

Kamis, 22 September 2022 | 16:26 WIB

Saat Isu Akuisisi, Laba BTN Syariah Menggila

Minggu, 18 September 2022 | 16:03 WIB

BTN Syariah on Track Dukung Program Pemerintah

Senin, 12 September 2022 | 19:06 WIB
X