Penurunan Tanah 20 Cm Tiap Tahun di Kota Cimahi, Waspada Banjir dan Retak Tanah!

- Jumat, 6 Agustus 2021 | 19:25 WIB
Penurunan tanah di Kota Cimahi mencapai 20 sentimeter per tahun.  Akibat penurunan muka tanah ini memang tak akan tenggelam seperti di daerah-daerah pesisir. Namun, dampak paling terasa yaitu rentan banjir dan berpotensi retak tanah. 
Penurunan tanah di Kota Cimahi mencapai 20 sentimeter per tahun.  Akibat penurunan muka tanah ini memang tak akan tenggelam seperti di daerah-daerah pesisir. Namun, dampak paling terasa yaitu rentan banjir dan berpotensi retak tanah. 

CIMAHI, AYOBANDUNG.COM — Kota Cimahi menjadi salah satu daerah di kawasan Cekungan Bandung yang mengalami penurunan muka tanah atau land subsidence.

Berdasarkan penelitian Geodesi Institut Teknologi Bandung (ITB) penurunan tanah di wilayah tersebut mencapai 20 sentimeter per tahun. 

Dosen Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Heri Andreas mengatakan, fenomena land subsidence di Kota Cimahi mayoritas terjadi di wilayah Selatan, seperti Melong dan Leuwigajah. 

"Daerah di selatan Cimahi paling parah, yang berdiri di atas tanah sedimen yang lebih lunak. Di situ sampai hari ini masih ada penurunan tanahnya," kata Heri saat dihubungi wartawan, Jumat 6 Agustus 2021. 

Selain kondisi alamiah tanah, penurunan muka tanah di wilayah itu disebabkan maraknya eksploitasi air tanah oleh industri. Jika dipersentase kedua penyebab tersebut, yang paling berkontribusi besar adalah aktivitas pengambilan air tanah. 

"Ada kombinasi antara kompaksi alamiah dan eksploitasi air tanah. Kalau beban infrastuktur kan tidak ada. Faktor mana yang berkontribusi terbesar? Kompaksi alamiah dari hasil risetnya itu sebanyak 1-2 cm pertahun. Sekarang sisanya itu dari air tanah. Artinya lebih dominan yang persentase terbesar," kata Heri.

Akibat penurunan muka tanah ini memang tak akan tenggelam seperti di daerah-daerah pesisir. Namun, dampak paling terasa yaitu rentan banjir dan berpotensi retak tanah. 

"Tapi dampaknya bisa mengganggu infrastruktur bangunan, seperti retak-retak, tapi dari subsidence memang kecil. Lalu bisa membentuk cekungan banjir, itu pun kalau posisi daerahnya dekat sungai besar. Beruntung di Cimahi Gradien topografinya masih curam, jadi air tidak menggenang meskipun ada cekungan subsidence atau kita sebut con subsindence," jelas Heri. 

Namun, Heri lebih menggarisbawahi dampak kekeringan akibat eksploitasi air tanah yang terjadi. Meskipun kekeringan bukan dampak langsung dari terjadinya subsidence namun masih satu rangkaian sebab akibat. 

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Terkini

Guru di Cimahi Positif Covid-19, Sekolah Ditutup

Kamis, 18 November 2021 | 19:02 WIB
X