Mengenal Lebih Dekat Kearifan Lokal di Kampung Adat Cireundeu

- Kamis, 24 Juni 2021 | 08:30 WIB
Protokol kesehatan di Kampung Adat Cirendeu.
Protokol kesehatan di Kampung Adat Cirendeu.

CIMAHI, AYOBANDUNG.COM — Wargi Cimahi kemungkinan sudah mengenal Kampung Adat Cirendeu, yang terletak di Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan. Tetapi, apakah sudah tahu apa keunikan dari kampung ini?

Disebut "Cirendeu" karena kampung ini memiliki banyak sekali tanaman rendeu. Tanaman rendeu adalah bahan obat herbal. Hingga saat ini, warga Kampung Adat Cirendeu pun masih mempertahankan adat istiadatnya dalam mengolah pohon itu.

Dalam populasinya, Kampung Adat Cirendeu memiliki 50 kepala keluarga atau 800 jiwa, dengan bermata pencaharian sebagian besar sebagai petani singkong dan bercocok tanam.

Masyarakat Cirendeu masih mengakar kuat dalam memegang tradisi yang diwariskan oleh tetua terdahulu, kebanyakan masyarakat Cirendeu tidak suka merantau dan berpisah dengan sanak saudaranya.

Prinsip Hidup Masyarakat Cirendeu

Masyarakat Kampung Adat Cirendeu memiliki pegangan hidup dalam menjalani kehidupan terdapat kalimat yang melekat dalam kehidupanya. Teu Boga Sawah Asal Boga Pare, Teu Boga Pare Asal Boga Beas, Teu Boga Beas Asal Bisa Nyangu, Teu Nyangu Asal Dahar, Teu Dahar Asal Kuat.

Kalimat ini berarti: tidak punya sawah asal punya padi, tidak punya padi asal punya beras, tidak punya beras asal bisa memasak nasi, tidak memasak nasi asal makan, tidak makan asal kuat.

Tujuannya untuk mengingatkan manusia agar tidak bergantung pada satu makanan bahan pokok yaitu beras saja. Oleh sebabnya, masyarakat Cirendeu memiliki inisiatif dalam mengelola dan mengkonsumsi bahan makanan pokok dengan menggunakan singkong.

Budaya Masyarakat Cirendeu

Dalam menentukan lokasi rumah saat dibangun, ada aturan yang mengikat yaitu memiliki pintu samping yang menghadap ke arah timur dengan tujuan agar matahari masuk ke dalam rumah.

Masyarakat Cirendeu mayoritas beragama Muslim, namun masih ada masyarakat yang menganut kepercayaan adat. Setiap tanggal 1 Sura, sesuai dengan kalender Saka Sunda, diadakan upacara adat, upacara dilakukan dengan memainkan alat musik khas sunda seperti gondang, karinding, suling dan angklung buncis.

Masyarakat adat di kampung ini adalah bagian dari Sunda Wiwitan yang tersebar di daerah Cirebon, Kuningan, Tasikmalaya, Sukabumi hingga ke Lebak Banten. Sunda Wiwitan berasal dari kata sunda dan wiwitan yang berarti Sunda asal. Ia diyakini sebagai suatu agama yang besar. 

Dalam konsep agama pada kepercayaan masyarakat Kampung Adat Cirendeu, yang menganut sunda wiwitan, Tuhan yang dipercaya Gusti Sikang Wira Sakang Sawiji Wiji yang berarti di atas segalanya adalah maha pencipta dan setiap manusia akan kembali kepada Tuhan atau Mulih Ka Jati Mulang Ka Asal.

Selain itu, dalam pepatah Sunda yang juga terkenal di Kampung Adat Cirendeu, juga disebutkan, ulah poho kana kulah getih sorangan yang berarti jangan lupa kepada tanah kelahiran.

Penghargaan sebagai Kampung Ketahanan Pangan

-
Ilustrasi singkong (Pixabay)

Kampung Adat Cirendeu mendapatkan anugerah sebagai kampung dengan ketahanan pangan terbaik oleh Walikota Cimahi, Ajay Priatna. 

Penghargaan ketahanan pangan itu mengharapkan masyarakat Cirendeu terus bisa berinovasi dalam mengembangkan singkong ke dalam berbagai olahan makanan.

Tidak hanya penghargaan ketahanan pangan, Kampung Adat Cirendeu juga mendapatkan penghargaan dari Puslitbang Kementerian Agama, mengenai moderasi beragama di Kampung Adat Cirendeu.

Kampung Adat Cirendeu memang memiliki toleransi yang kuat antar masyarakatnya, yang mengamalkan pandangan hidup orang Sunda, yaitu Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh yang berarti saling mengajarkan, saling menyayangi dan saling memelihara. [Muhammad Qeis]

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Terkini

Tukang Bubur di Bandung Nyambi Jual Pil Psikotropika

Kamis, 2 Desember 2021 | 17:11 WIB

ODGJ dan Disabilitas Cimahi Bakal Dibuatkan KTP

Selasa, 30 November 2021 | 17:24 WIB
X