Potret Toleransi di Kampung Adat Cireundeu

- Minggu, 18 April 2021 | 13:42 WIB
Gerbang Kampung Adat Cireundeu, Desa Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi.
Gerbang Kampung Adat Cireundeu, Desa Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi.

CIMAHI, AYOBANDUNG.COM -- Suasana sejuk sudah terasa saat menginjakan kaki di Kampung Adat Cireundeu, RW 10, Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi.

Kampung itu masih terlihat asri dengan berbagai pepohonan. Tanpa gedung bertingkat, warga di sana nampak damai menikmati hidup.

Kesejukan dan kedamaian semakin terasa ketika melihat toleransi antarkeyakinan dan antaragama di Kampung Adat Cireundeu.

Tanpa sekat, mereka selalu seirama dan satu tujuan untuk memupuk dan menjaga toleransi.

Di tengah mayoritas umat Muslim, di Kampung Adat Cireundeu, RW 10 terdapat sekitar 60 Kepala Keluarga (KK), dengan 240 jiwa yang menganut aliran kepercayaan Sunda Wiwitan.

"Memang sudah turun-temurun dari para sesepuh sudah Sunda Wiwitan," ujar Abah Widi, salah seorang sesepuh Kampung Adat Cireundeu, kepada Suara.com, jaringan Ayobandung.com, Sabtu (17/4/2021).

Saat ditemui, pria 58 tahun itu tengah asyik dengan kegiatannya membakar sampah di pekarangan rumahnya. Dengan semangat, Abah Widi menceritakan indahnya toleransi di kampungnya yang sudah terjaga sejak dulu.

Kampung Adat Cireundeu diperkirakan sudah ada sejak abad ke-16 atau sekitar 500 tahun yang lalu. Keberadaan kampung adat tersebut dikuatkan dengan penelitian adanya batu penyanggah rumah saat itu.

Para sesepuh atau karuhun yang ada di dalamnya di antaranya Eyang Nursalam, Eyang Ama, hingga Aki Madrais yang disebut membuat 'lembur' atau kampung saat itu.

Halaman:

Editor: Fira Nursyabani

Tags

Terkini

Cara Buat Kartu Kuning AK1 untuk Pencari Kerja

Minggu, 24 Oktober 2021 | 11:00 WIB

Ribuan Keping KTP di Kota Cimahi Dibakar, Ada Apa?

Rabu, 13 Oktober 2021 | 21:35 WIB
X