Nasib Pilu Pedagang BEC Selama PPKM, Terpaksa Berjualan di Pinggir Jalan

- Minggu, 1 Agustus 2021 | 06:00 WIB
Seorang pedagang kaki lima di Istana BEC sedang menunggu konsumen di depan kios kecilnya. Bara (40) sebelumnya berjualan di dalam gedung, namun kini terpaksa pindah ke pinggir jalan.
Seorang pedagang kaki lima di Istana BEC sedang menunggu konsumen di depan kios kecilnya. Bara (40) sebelumnya berjualan di dalam gedung, namun kini terpaksa pindah ke pinggir jalan.

SUMURBANDUNG, AYOBANDUNG.COM – Setahun sudah pandemi berjalan, berbagai peraturan untuk mengurangi risiko penyebaran virus telah diterapkan pemerintah salah satunya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Bohong rasanya jika bilang sektor perekonomian tak terkena dampak pandemi terutama pada pedagang kecil. Salah satu yang harus menanggung konsekuensi ini adalah para penjual barang elektronik dari Istana BEC, Sumur Bandung, Kota Bandung.

Berdasarkan penelusuran Ayobandung.com para pedagang dan pramuniaga berbagai konter elektronik terlihat memenuhi sekitar trotoar Istana BECAkibat penerapan PPKM, para pedagang elektronik BEC mau tidak mau menghampar kios jualan mereka ke pinggir jalan untuk mempertahankan usaha mereka.

“Dari mana bisa dapat uang jika tidak berjualan. Ada anak dan istri yang harus dinafkahi” tutur salah seorang pramuniaga konter elektronik dengan nama samaran Bara (40).

Sebelum terkena imbas pandemi, Bara bekerja sebagai pramuniaga sebuah konter elektronik di Istana BEC. Namun konter itu sendiri bangkrut dan terpaksa memutus kerjakan para karyawannya, termasuk Bara.

Melihat banyaknya konter yang gulung tikar, para pedagang kaki lima sekitar Istana BEC pun tergerak untuk membantu mempekerjakan karyawan yang terkena PHK.

Saat ini Bara sendiri ikut bekerja pada usaha kecil aksesoris ponsel dan servis milik temannya, sambil sesekali ikut membantu menawarkan produk ponsel pada konsumen. Meskipun pendapatan yang dihasilkan tidak menentu, Bara mengakui kadang dalam sehari hanya bisa menghasilkan Rp.25.000–Rp.100.000 saja.   

“Kalau dulu kan ada sering ada (pembeli) yang lewat, sekarang yang lewat saja tidak ada. Paling 1-2 pembeli (dalam sehari) ada.” Ujar Bara yang tetap tegar menunggu rezekinya.

Konsekuensi berjualan di trotoar mau tidak mau juga mesti ditelan bulat-bulat oleh Bara. Selain terpaksa harus dibubarkan oleh Satpol PP, ia juga mengakui setiap hari harus menghadapi risiko kemungkinan kerusakan barang lantaran membawa serta produk elektronik dalam boks besar, yang berisi laptop-laptop milik sebuah konter untuk ditawarkan kepada konsumen.

“Sangat riskan sekali lah. Ini kan barang orang (konter) saya bawa dari atas (dalam gedung) ke sini. Kalau ini tidak laku, saya bawa lagi ke rumah tidak bisa ke dalam. Soalnya BEC tutup jam 2 siang” Pungkas Bara. 

Dari penelusuran tersebut, terselip harapan para pedagang elektronik BEC agar bisa kembali berjualan seperti dulu lagi tanpa gelisah tak bisa menafkahi keluarga di rumah.  [Alya Nur Anisya]

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Terkini

Waspada, Ini Daerah Rawan Pohon Tumbang di Bandung

Jumat, 22 Oktober 2021 | 17:56 WIB

Peserta PTM di Bandung yang Terpapar Covid Bertambah

Jumat, 22 Oktober 2021 | 16:02 WIB

Atlet Cemas Tak Dapat Kadeudeuh dari Pemkot Bandung

Jumat, 22 Oktober 2021 | 15:15 WIB

PTM di 12 Sekolah di Bandung Dihentikan Sementara!

Jumat, 22 Oktober 2021 | 13:13 WIB

Ini 2 Potensi Jabar dalam Pemulihan Ekonomi Nasional

Kamis, 21 Oktober 2021 | 17:32 WIB

Kota Bandung Resmi Masuk PPKM Level 2

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:00 WIB
X