Masjid Mungsolkanas, Saksi Bisu Perjuangan Ulama dari Bilik Surau

- Sabtu, 17 April 2021 | 14:32 WIB
Para ulama terdahulu di Masjid Mungsolkanas Bandung.
Para ulama terdahulu di Masjid Mungsolkanas Bandung.

“Kalau dulu jemaah yang ke sini, mulai dari Gandok, Setia Budhi, sampai Cihampelas bawah. Sekarang jemaahnya yang terdekat saja,” lanjutnya.

-
Para ulama terdahulu di Masjid Mungsolkanas Bandung (dok. DKM Masjid Mungsolkanas)

Masih mengenang kondisi masjid di masa lalu, ternyata dulunya terdapat sebuah pemandian umum pertama di Kota Bandung yakni pemandian Cihampelas. Letaknya persis di belakang Masjid Mungsolkanas. Kini pemandian tersebut telah berubah menjadi apartemen.

“Jadi mau tidak mau, (karena) pusat peribadatan di sini (Masjid Mungsolkanas), dan pusat olahraga juga di sini berupa wahana berenenag dan berkuda, otomatis (suasananya) ramai," jelasnya

Didirikan ketika zaman kolonial Belanda, menjadikan satu-satunya masjid di Kota Bandung ini juga difungsikan sebagai tempat para ulama berdiskusi untuk menyusun strategi perlawanan pada penjajah.

"Masjid ini juga merupakan saksi bisu para ulama dulu bebas dari kolonial belanda, karena pusat peribadatan Islam ya di sini. Tidak menutup kemungkinan ini juga menjadi tempat untuk ulama menyusun strategi bagaimana mengalahkan penjajah pada masa waktu itu," kata dia.

-
Al-Qur'an tua yang masih rapi tersimpan di Masjid Mungsolkanas Bandung (Ayobandung.com/Ghina Tsuroya/magang)

Selain itu, berdasarkan kisah yang dituturkan sesepuh, lanjut Diki, Presiden pertama RI Bung Karno disebut beberapa kali menjadikan masjid Mungsolkanas sebagai tempat istirahat usai ngampus.

“Beliau (Ir. Soekarno) kan kuliah di ITB, jadi dekat ke sini. Dulu ITB ke masjid ini tidak jauh, tinggal jalan melewati persawahan,” tuturnya.

Masjid Mungsolkanas telah mengalami empat kali renovasi, yakni pada 1997, 2001, 2004, 2007, dan yang terakhir ada pemugaran pada 2018 karena atap masjid yang bocor. Seluruh dana merupakan hasil dari swadaya dari masyarakat. Kini, luasnya mencapai 40 x 60 m dengan 3 lantai, dan dapat menampung 400–600 jemaah.

Tidak ada corak asli yang dipertahankan saat renovasi dilakukan. Peninggalan dari masa lalu yang tersisa hanya sebuah Al-Qur'an hasil goresan tangan yang usianya sama tua dengan masjid.

“Saya berpesan pada generasi selanjutnya agar tidak meninggalkan sejarah. Kalau lupa sejarah, maka (berarti) juga lupa perjuangan ulama terdahulu,” tutupnya. (Ghina Tsuroya)

Halaman:

Editor: Nur Khansa Ranawati

Tags

Terkini

PPKM Diperpanjang, Kasus Covid-19 Bandung Tersisa 93

Selasa, 19 Oktober 2021 | 06:00 WIB

Wagros Jadi Wadah UMKM Jabar Pulihkan Ekonomi

Senin, 18 Oktober 2021 | 20:59 WIB

Lansia di Jabar Bisa Vaksinasi Covid-19 di Bidan Desa

Senin, 18 Oktober 2021 | 20:56 WIB

Pohon Tumbang Melintang di Jalan Tamansari Bandung

Senin, 18 Oktober 2021 | 11:33 WIB

Tiga Kios Terbakar di Jalan Soekarno Hatta

Minggu, 17 Oktober 2021 | 16:11 WIB
X