Para Pemanjang Usia Aksara Sunda (2)

- Kamis, 18 Februari 2021 | 11:58 WIB
Tenaga pengajar di Universitas Kristen Maranatha, Willyanto Wirawan Ngapon (42), saat membaca buku ceritanya Si Cimeng yang dia tulis dalam aksara Sunda, di kediamannya, di Arcamanik, Kota Bandung, Rabu (10/2/2021).
Tenaga pengajar di Universitas Kristen Maranatha, Willyanto Wirawan Ngapon (42), saat membaca buku ceritanya Si Cimeng yang dia tulis dalam aksara Sunda, di kediamannya, di Arcamanik, Kota Bandung, Rabu (10/2/2021).

Di media sosial, dia bergabung dengan berbagai grup aksara Sunda. Peran grup media sosial membantunya mempelajari aksara Sunda secara daring. “Atmosfernya bagus. Sambil diskusi, saya sambil nanya dan ngelancarin nulis, akhirnya sedikit-sedikit mulai menguasai,” ujarnya.

Sempat ada kekhawatiran dari Willy terhadap kebudayaan yang tertindas ketika teknologi berkembang pesat. “Tapi ternyata enggak. Semakin zaman modern, semakin banyak muncul komputerisasi, hal-hal yang bersifat tradisi juga semakin terangkat,” ujarnya.

Berbagai kampanye pelestarian aksara leluhur pun bisa lebih luas. Willy sendiri membuat video dengan terjemahan aksara Sunda. 

Selain itu, Willy berpandangan, tidak sedikit orang yang mulai jenuh dengan hal-hal modern. Hal ini bisa menjadi peluang tumbuhnya budaya dan Aksara Sunda.

Di dunia kerja, tahun 2018, secara independen Willy membuat grup Pengguna aksara Nusantara (Gurat). Anggotanya Civitas Akademika Universitas Kristen Maranatha, mulai mahasiswa, dosen, hingga karyawan. Dengan menggunakan aplikasi font aksara Sunda, Jawa, Lampung, dan Bali, mereka aktif berkomunikasi, sebagai upaya melestarikan aksara Sunda. "Sampai sekarang terus berlanjut," katanya.

-
Tenaga pengajar di Universitas Kristen Maranatha, Willyanto Wirawan Ngapon (42), saat menulis catatan dalam Aksara Sunda di kediamannya. (Ayobandung.com/M Naufal Hafizh)

Tahun 2020, Willy berupaya menambah khazanah buku beraksara Sunda dengan membuat Si Cimeng. Teknologi membantunya mengetik aksara Sunda di laptopnya. "Setelah terbit, pernah ada yang nanya soal buku saya, ‘Kenapa gak ada terjemahannya?’ Emang sengaja. Kalau ada artinya, nanti aksara Sundanya tidak dibaca,” katanya, sambil menunjukkan panduan membaca aksara Sunda di halaman belakang Si Cimeng.

Pengembang Aksara Sunda Lokal

I love this app. It amazing,” komentar Tiara Zanitra, salah seorang pengguna aplikasi kibor Aksara Sunda buatan Ihsan Hasanudin. 

Membacanya, Ihsan sulit mengungkapkan perasaan. “Wah.. kumaha nya, Kang. Bungah!

Bungah dalam bahasa Indonesia berarti senang. Namun, kata itu tampaknya tak mampu menampung makna bungah, terutama nilai rasanya.

Halaman:

Editor: Fira Nursyabani

Tags

Terkini

X