Para Pemanjang Usia Aksara Sunda (1)

- Kamis, 18 Februari 2021 | 11:12 WIB
Mang Ino (47), salah seorang pegiat aksara Sunda menunjukkan berbagai kreasi aksara Sunda di rumahnya, di Kampung Gadog, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, Rabu (10/2/2021). Di media sosial dan aplikasi perpesanan, dia menggunakan aplikasi aksara Sunda.
Mang Ino (47), salah seorang pegiat aksara Sunda menunjukkan berbagai kreasi aksara Sunda di rumahnya, di Kampung Gadog, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, Rabu (10/2/2021). Di media sosial dan aplikasi perpesanan, dia menggunakan aplikasi aksara Sunda.

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Ada hal unik di warung Mang Ino yang menyatu dengan rumahnya di Kampung Gadog, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. Dindingnya dipenuhi pepatah leluhur yang ditulis dengan aksara Sunda. Terpajang pula kaligrafi surat Al-Fatihah dengan arti yang ditulis dengan aksara Sunda.

Tak sulit menemukan rumah pria 47 tahun itu. Hampir semua orang di lingkungannya sudah tahu. Selain karena memiliki warung isi galon satu-satunya di sana, Mang Ino dikenal karena kemampuannya menulis aksara Sunda dan mengkreasikannya dalam berbagai bentuk seni rupa. “Aksara latin bisa dikreasikan, mengapa aksara Sunda tidak?” katanya. Ketika aksara Korea dipelajari, kenapa aksara Sunda tidak?

“Ini salah satu upaya saya sebagai orang Sunda,” tuturnya.

Aksara Sunda dibuat sedemikian rupa olehnya agar masyarakat tertarik. Menurutnya, meski sulit, harusnya orang Sunda bisa aksara Sunda. Ada nilai yang harus diketahui, ada adab leluhur yang harus dipelajari.

“Misalnya ini,” katanya sambil menunjuk salah satu seni lukis aksara Sunda. Lebih kurang, maknanya, jika ingin belajar telaga, angsa akan bercerita. Jika ingin mengenal hutan, gajah akan bercerita. “Intinya, jika ingin mempelajari sesuatu, tanyakanlah kepada ahlinya.”

Mata ulah sadeuleu-deuleuna, biwir ulah saucap-ucapna, leungeun ulah sacokot-cokotna (Mata jangan sembarangan melihat, bibir jangan asal berucap, tangan jangan asal mengambil). Itu terkandung dalam naskah Sunda kuno Sanghyang Siksa Kandang Karesian,” kata Mang Ino. Jika digali, nilai-nilai tersebut masih sangat relevan dengan kehidupan sekarang.

Belajar dari Ibu

Tidak semua ibu mampu menulis aksara leluhurnya. “Ini anugerah. Ada ‘wujud’ dari leluhur yang sampai kepada ibu dan saya,” katanya yang bernama asli Nanang Hapid, Rabu (10/2/2021).

Saat Mang Ino kecil, selepas mengaji malam di masjid, ibunya selalu mengenalkan seluk-beluk aksara Sunda. Tidak ada pesan khusus. Kala itu, dia memandang tindakan sang Ibu sebagai upaya turun-temurun. “Hanya mengajarkan,” kisahnya.

Halaman:

Editor: Fira Nursyabani

Tags

Terkini

Waspada, Ini Daerah Rawan Pohon Tumbang di Bandung

Jumat, 22 Oktober 2021 | 17:56 WIB

Peserta PTM di Bandung yang Terpapar Covid Bertambah

Jumat, 22 Oktober 2021 | 16:02 WIB

Atlet Cemas Tak Dapat Kadeudeuh dari Pemkot Bandung

Jumat, 22 Oktober 2021 | 15:15 WIB

PTM di 12 Sekolah di Bandung Dihentikan Sementara!

Jumat, 22 Oktober 2021 | 13:13 WIB

Ini 2 Potensi Jabar dalam Pemulihan Ekonomi Nasional

Kamis, 21 Oktober 2021 | 17:32 WIB

Kota Bandung Resmi Masuk PPKM Level 2

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:00 WIB
X