Ini Tantangan Media di Era Disrupsi dan Covid-19

- Minggu, 25 Oktober 2020 | 16:38 WIB
Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Jawa Barat, Rahim Asyik Fajar Dewanto.
Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Jawa Barat, Rahim Asyik Fajar Dewanto.

Rahim menilai, mayoritas media saat ini mengandalkan pendapatan dari pemerintah daerah. Mereka akan berebut advertorial, iklan banner, atau display untuk mengisi kas perusahaan. Imbas media berebut lahan pendapatan yang segitu-gitu saja, hampir tidak ada lahan pendapatan ada yang baru.

"Itu yang bikin ketika ada situasi krisis gak bisa bertahan karena disertifikasinya kurang," katanya.

Rahim mengatakan, situasi covid-19 ini menyadarkan perusahaan media tentang 3 hal penting. Pertama, membicarakan sustainability media. Kedua, kualitas konten dan inovasi yang dapat dikembangkan media untuk menyosialisasikan suatu produk maupun program, dan poin ketiga, menguatkan perhatian terhadap media lokal.

"Media lokal itu memang masih problematik, apakah tempatnya saja atau kontennya. Cuma media lokal ini kalau dia punya kelebihan dan engagement-nya bagus dengan komunitas, dan lokalitas berita itu bisa memperkuat bisnis mereka," Kara Rahim.

Rahim mengatakan, di era digital memang tidak terbatas. Namun untuk mendapatkan pasar dibutuhkan kaki. Karenanya, menurut Rahim, untuk penetrasi bisnis yang lebih dalam, salah satu cara bisnis media bertahan di era disrupsi dan pandemi covid-19 ini dengan mengangkat lokalitas konten pemberitaannya.

"Jadi lokalitas berkaitan dengan industri juga. Media lokal dibutuhkan ke depan dan dia bisa menjadi masa depan. Cuman Media lokalnya harus memperbaiki diri sehingga engagement dengan publiknya kuat, dia akan efektif untuk industri dan media itu akhirnya bisa tumbuh. Kalau Media lokal perlahan-lahan mulai canggih terampil mengolah SEO-media lokal bisa tumbuh," ujarnya.

Halaman:

Editor: Dadi Haryadi

Tags

Terkini

X