Ini Tantangan Media di Era Disrupsi dan Covid-19

- Minggu, 25 Oktober 2020 | 16:38 WIB
Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Jawa Barat, Rahim Asyik Fajar Dewanto.
Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Jawa Barat, Rahim Asyik Fajar Dewanto.

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Media termasuk dalam 11 sektor usaha di bawah komunikasi yang harus tetap beroperasi dalam situasi dan krisis apapun, salah satunya di bawah bayang-bayang pandemi covid-19. 

Begitulah penyataan Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Jawa Barat, Rahim Asyik Fajar Dewanto dalam Webinar 'Garcombs 2020', acara yang digagas Mahasiswa Doktoral Ilmu Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Padjadjaran, Minggu (25/10/2020).

Namun dalam kenyataannya, mayoritas perusahaan media saat ini tengah terseok-seok terimbas pukulan pandemi Covid-19. Rahim memaparkan, berdasarkan survei yang dilakukan Imogen Communication Institute (ICI) pada April lalu terhadap 140 media di 10 kota besar di Indonesia, mayoritas atau 70,2% responden menyatakan pandemi Covid-19 ini berdampak terhadap bisnis media.

Lalu 39% dari dampak tersebut terkonsentrasi pada menurunnya pemasukan iklan dan berkurangnya sponsor kegiatan. Akibatnya, arus kas perusahaan terganggu dan sebagian harus melakukan efisiensi karyawan. Sementara itu, sebanyak 15,3% responden menyatakan tidak ada dampak pandemi terhadap bisnis media. Lalu sebanyak 14,5% menyatakan tidak tahu.

"Survei dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. Respondennya macam-macam reporter, fotografer, redaktur, asisten redaktur, redaktur pelaksana, pemimpin redaksi, wapemred, kepala biro, dan sebagainya," kata Rahim.

Dari survei AMSI, Rahim juga mengatakan, pendapatan media turun sekitar 40%. Akibatnya, sebagian media sudah melakukan PHK dan pemotongan gaji. Dalam survei AMSI, sebagian perusahaan media pun menyatakan hanya sanggup bertahap sampai September 2020, paling kuat Desember 2020. Jika tak lagi kuat, sebagian menyatakan siap tutup.

"Sebenernya sebelum covid-19 media sudah mengalami disrupsi. Tapi setelah ditambah covid-19 menjadi dua pukulan. Melihat situasi sekarang, memang mulai banyak perusahaan media yang mulai merumahkan karyawannya dalam jumlah yang saya kira cukup signifikan. Penurunan yang sama terjadi di media cetak, omzetnya turun dikisaran 40%, saya kira cukup besar, ada juga pemotongan gaji karyawan, merumahkan karyawan, dan bahkan mem-PHK," katanya.

Direktur Produksi Ayomedia Network itu juga menilai, untuk bertahan di era disrupsi ini, berkenaan pula dengan produksi konten. Apalagi keinginan pemerintah terhadap media di tengah pandemi Covid-19 ada dua tugas. Satu, pemerintah ingin membantu industri media tetap beroperasi. Kedua, industri media bisa bahu-membahu melakukan perang terhadap covid-19.

"Jadi fungsi medianya untuk publikasi dalam AKB dan penegahan penularan covid. Yang menarik, kenapa media dengan mudah kolaps ketika ada semacam krisis, bahkan sebelum krisis sudah mulai kolaps? Mungkin karena sumber pendapatan medianya," kata Rahim.

Halaman:

Editor: Dadi Haryadi

Tags

Terkini

X