Pandemi Covid-19, Mahasiswa STIE INABA Tolak Bayar Penuh Biaya Kuliah

- Senin, 15 Juni 2020 | 13:25 WIB
Mahasiswa STIE INABA melakukan aksi tolak bayar penuh biaya kuliah saat pandemi Covid-19.
Mahasiswa STIE INABA melakukan aksi tolak bayar penuh biaya kuliah saat pandemi Covid-19.

REGOL, AYOBANDUNG.COM -- Sejak pandemi Covid-19 ada di Indonesia pada awal Maret , kegiatan pembelajaran di perguruan tinggi beralih ke daring. Beragam keluhan pun mulai disampaikan mahasiswa, baik dari efektivitas maupun fasilitas pembelajaran yang kurang memadai.

Mayoritas mahasiswa menuntut agar uang pembangunan hingga uang kuliah tunggal (UKT) diturunkan selama pandemi. Pasalnya, banyak dari mereka menganggap hak yang diterima mahasiswa selama pembelajaran daring tak sebanding dengan biaya yang dibayarkan. 

Hal yang banyak diresahkan para mahasiswa, yakni keterbatasan fasilitas hingga subsidi pulsa saat kuliah daring. Sejumlah kampus menyerukan keresahan tersebut, salah satunya mahasiswa STIE INABA

Mahasiswa INABA sepakat, selama pandemi Covid-19, kegiatan belajar mengajar sementara tidak dilaksanakan melalui pertemuan langsung. Namun, ada hal yang dirasa memberatkan, yang justru dituntut pihak kampus selama pemberlakukan kuliah daring tersebut.

Koordinator aksi dari Aliansi Mahasiswa INABA Muhammad Taufan menyampaikan, selama perkuliahan daring, mahasiswa hanya diberikan tugas online, bukan pembelajaran online. Yang menjadi polemik, mahasiswa tidak diberikan fasilitas penunjang yang memadai untuk mengikuti perkuliahan online. Salah satunya subsidi kuota gratis sebesar 30 GB yang direncanakan pihak kampus.

Taufan menyampaikan, wacana subsidi ini merupakan hasil kerja sama antara STIE INABA dengan provider yang ditentukan secara sepihak. Namun pada kenyataannya selama kuliah daring, kuota pribadi mahasiswa yang terpakai, bukan kuota 30 GB tersebut.

"Pembelajaran selama pandemi itu awalnya hanya-hanya tugas online, ketika mahasiswa melakukan petisi akhirnya kampus mengadakan perkuliahan online. Namun itu pun tidak efektif karena sinyal hingga keterbatasan kuota. Kuota yang digunakan bukan kuota yang dijanjikan pihak kampus tapi kuota reguler kami. Sedangkan kuota yang tersedot itu bisa hampir 1 GB hanya untuk satu SKS. Bisa dibayangkan ketika ada 8 mata kuliah perkuliahan online, berapa GB yang harus kita keluarkan tiap minggu? Apalagi tiap bulan selama pandemi ini belum berakhir," kata Taufan ketika ditemui Ayobandung.com, di pelataran kampus STIE INABA, Senin (15/6/2020).

Selain itu, menurut Taufan, mahasiswa mempertanyakan tidak adanya pemotongan pembayaran perkuliahan selama pandemi virus vorona. Padahal, kata dia, pemerintah pusat melalui surat edaran dari Dirjen Pendidikan Tinggi nomor 302/E.E2/KR/2020 telah membahas perihal masa belajar penyelenggaraan program Pendidikan.

Merujuk kewajiban yang dituntut kampus kepada mahasiswa agar membayar seluruh biaya perkuliahan, pihaknya mempertanyakan hal tersebut. Lantaran tidak ada timbal balik secara keseluruhan dari apa yang dibayarkannya. 

Halaman:

Editor: M. Naufal Hafizh

Tags

Terkini

X