[Lipkhas] Menyusur Sejarah 'Kota Kecil' yang Hilang di Gunung Puntang (Bagian II)

- Minggu, 12 Januari 2020 | 13:51 WIB
Wisatawan mengunjungi tempat wisata Bumi Perkemahan (Bumper) Gunung Puntang di Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung, Sabtu (4/1/2020). (Ayobandung.com/Kavin Faza)
Wisatawan mengunjungi tempat wisata Bumi Perkemahan (Bumper) Gunung Puntang di Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung, Sabtu (4/1/2020). (Ayobandung.com/Kavin Faza)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Reruntuhan bangunan tua yang terdapat di area wisata Gunung Puntang, Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung menyimpan sejarah kemegahan Stasiun Radio Malabar--stasiun legendaris penghubung komunikasi suara antara Bandung dan Den Haag pada 1927.

Saat ini, sisa-sisa bangunan yang terserak di lahan seluas puluhan hektar tersebut masih dapat dilihat pengunjung sebagai situs bersejarah. Apa yang menyebabkan komplek perkantoran yang dijuluki "kota kecil" di tengah hutan tersebut hancur?

Terdapat dua buah versi yang menceritakan sejarah kehancuran stasiun radio yang mulai dibangun pada 1917 tersebut. Versi pertama menyebut bahwa kedatangan Jepang pada 1942 menjadi penyebab kehancuran komplek tersebut.

Pendudukan tentara Jepang membuat para pegawai Stasiun Radio Malabar berkebangsaan Belanda harus angkat kaki sementara gedung-gedungnya diluluhlantakkan.

Meski demikian, belum ada catatan sejarah yang secara spesifik menggambarkan akurasi hal tersebut. Sementara versi kedua memaparkan bahwa Stasiun Radio Malabar dihancurkan para pemuda Kota Bandung dalam peristiwa Bandung Lautan Api.

Paparan versi yang kedua termaktub dalam tulisan wartawan senior Harian Kompas, Her Suganda dalam bukunya Jendela Bandung, Pengalaman Bersama KOMPAS (2007). Dia mewawancarai salah satu pelaku penghancuran stasiun radio tersebut, yakni Entang Muchtar.

Entang kala itu berstatus sebagai pegawai angkatan muda perusahaan telekomunikasi milik pemerintah Hindia Belanda, yakni Post, Telegraaf en Telefoon Dienst (PTT). Perusahaan ini pulalah yang mendanai pembangunan Stasiun Radio Malabar lewat anggaran pembangunan pemerintah Hindia Belanda.

Namun, dia bersama rekan-rekannya diperintahkan untuk menghancurkan bangunan tersebut oleh Komandan Resimen Mayor Daan Yahya. Hal tersebut salah satunya dilakukan guna menghindari pendudukan sekutu pascakemerdekaan Indonesia.

AYO BACA : [Lipkhas] Menyusuri Sejarah 'Kota Kecil' yang Hilang di Gunung Puntang (Bagian I)

Halaman:

Editor: Fira Nursyabani

Tags

Terkini

Kota Bandung Antisipasi Gelombang Ketiga Covid-19

Selasa, 19 Oktober 2021 | 19:30 WIB

Hujan Deras Bikin Banjir Cileuncang di Kota Bandung

Selasa, 19 Oktober 2021 | 15:25 WIB

PPKM Diperpanjang, Kasus Covid-19 Bandung Tersisa 93

Selasa, 19 Oktober 2021 | 06:00 WIB

Wagros Jadi Wadah UMKM Jabar Pulihkan Ekonomi

Senin, 18 Oktober 2021 | 20:59 WIB

Lansia di Jabar Bisa Vaksinasi Covid-19 di Bidan Desa

Senin, 18 Oktober 2021 | 20:56 WIB
X