Mengenal Maggot, Si Pengolah Sampah Organik

- Sabtu, 11 Januari 2020 | 09:54 WIB
Budidaya Maggot. (Ayobandung.com/Kavin Faza)
Budidaya Maggot. (Ayobandung.com/Kavin Faza)

LENGKONG, AYOBANDUNG COM -- Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung memprioritaskan penggunaan maggot dan teknik biopori vertikal dalam pengelolaan sampah organik. Kedua metode itu dinilai paling banyak memberikan manfaat dan relatif mudah diimplementasikan.

Penggunaan maggot dan biopori vertikal disampaikan oleh Wali Kota Bandung Oded M Danial pada awal pekan ini di Balai Kota Bandung. Menurutnya, penggunaan kedua metode tersebut merupakan bagian dari program pengelolaan sampah di Kota Bandung yang menggunakan konsep Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan).

Mungkin masyarakat banyak yang belum mengetahui, apa itu maggot. Kenapa Pemkot Bandung menggunakannya untuk pengelolaan sampah? Bagaimana cara mendapatpan maggot?

Begitu juga dengan teknik biopori vertikal. Mungkin masyarakat bertanya, apa bedanya teknik biopori vertikal dengan teknik biopori yang selama ini sudah banyak dilakukan?

AYO BACA : Geliat Budi Daya Belatung Pemakan Sampah Organik

Dari dua metode tersebut, kita akan membahas maggot dan mengapa digunakan dalam pengelolaan sampah. Maggot atau belatung merupakan larva dari lalat Black Soldier Fly (Hermetia Illucens, Stratimydae, Diptera) atau BSF.

Meskipun keluarga lalat, namun ukuran BSF yang dikenal sebagai lalat tentara ini, lebih panjang dan besar. Meskipun dari keluarga lalat, namun BSF tidak menularkan bakteri, penyakit, bahkan kuman kepada manusia.

Seperti halnya belatung, maggot berguna secara ekologis dalam proses dekomposisi bahan-bahan organik. Maggot mengonsumsi sayuran dan buah. Tak hanya buah dan sayuran segar, maggot pun mengonsumsi sampah sayuran dan buah. Karenanya manggot sangat cocok digunakan dalam pengelolaan sampah organik.

Sebanyak 10.000 maggot dapat menghabiskan 1 kg sampah organik dalam waktu 24 jam. Maggot sangat cepat berkembang biak.

Halaman:

Editor: M. Naufal Hafizh

Tags

Terkini

X