Kurangi Sampah dengan Olah Limbah Ala Parongpong Zero Waste

- Jumat, 19 April 2019 | 16:22 WIB
Parongpong bekerja sama dengan United in Diversity Indonesia dan Go Limbah mengolah sampah popok bayi menjadi brick pannel. (Nur Khansa Ranawati/ayobandung.com)
Parongpong bekerja sama dengan United in Diversity Indonesia dan Go Limbah mengolah sampah popok bayi menjadi brick pannel. (Nur Khansa Ranawati/ayobandung.com)

COBLONG, AYOBANDUNG.COM -- Tahap pencoblosan Pemilihan Umum 2019 serempak dilaksanakan Rabu (17/4/2019). Jutaan warga Indonesia ikut terlibat dalam hajat akbar politik elekroral tersebut menentukan wajah pimpinan Indonesia di masa depan.

Tiga hari sebelum pemilihan, Minggu (14/4/2019) aparat gabungan dan Bawaslu di berbagai daerah menggelar penyisiran untuk menertibkan alat peraga kampanye menghadapi masa tenang. Ribuan APK berisi logo partai dan wajah calon yang berebut kekuasaan dirazia.

Lantas, dibawa ke mana sampah alat peraga kampanye tersebut?

Tak ada yang tahu pasti ke mana gerangan sampah-sampah spanduk pemanis pesta demokrasi elekroral tersebut bermuara. Yang pasti, sampah-sampah spanduk itu akan ditampung di gudang milik Satpol PP untuk kemudian diambil para peserta kampanye. Bagaimana nasib sampah-sampah tersebut setelahnya masih menjadi misteri. Disimpan, digunakan atau didaur ulang, semuanya serba boleh jadi.

Berangkat dari pergulatan semacam itu, ditambah dengan kepedulian kritis untuk menjaga kelestarian lingkungan, Parongpong Zero Waste menginisiasi gerakan "The Trash Bag Project". Gerakan ini merupakan sebuah proyek daur ulang spanduk bekas kampanye untuk diolah menjadi trashbag.

Gerakan membuat trashbag spanduk residu hajat politik elektoral ini menyedot perhatian massa, khususnya warganet. Tak sedikit di antara mereka yang dibuat antusias. Parongpong sendiri membatasi rentang waktu partisipasi pengumpulan bekas ApK sebagai bahan dasar olahan trashbag selama 17-20 April 2019.

"Bentuk jadinya kita akan bikin trashbag dengan ukuran biasa. Kami lagi bikin prototipe dan ukurannya akan sebesar trashbag," kata pendiri Parongpong Zero Waste, Rendy Aditya Wachid. Rendy mengatakan prototipe trashbag spanduk ini sengaja dibuat untuk mengikuti Happiness Festival ID yang akan diselenggarakan pada tanggal 27-28 April 2019 di Lapangan Banteng, Jakarta.

Didirikan sejak Desember 2018, Parongpong Zero Waste telah memiliki misi untuk mengurangi produksi sampah berbagai bentuk. Spesialisasi Parongpong adalah mengolah sampah residual yang masih bisa digunakan atau diolah kembali.

Rendy melihat selama ini sampah-sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir bukanlah sampah terpilah. Banyak di antara sampah-sampah tersebut yang masih bisa digunakan atau diolah. Pada prinsipnya, dia menilai jika sampah-sampah yang dibuang ke TPA merupakan hasil pilahan, maka volume produksi sampah bisa ditekan.

"Sampah yang dibuang ke TPA selama ini adalah sampah yang enggak kita pilah. Kalau kita enggak bisa ngolah sampah yang kita produksi harusnya kita enggak produksi (sampah) sama sekali. Jadi poa pikir yang mau dikembangin," urainya.

Sedari mula, Parongpong selalu menjadikan sampah-sampah tak terpakai sebagai bahan baku produk yang hendak mereka olah. Produk-produk tersebut diolah sedemikian rupa sehingga bisa dipakai dan memiliki nilai guna.

Beberapa jenis barang hasil olahan sampah telah diproduksi Parongpong. Sebelum memuli proyek pembuatan trashbag dari APK, mereka telah banyak menghasilkan produk olahan dalam bentuk lain, termasuk di antaranya sedotan stainless, sikat pembersih, sendok, garpu dan sedotan bambu, stainless razor, all in one cleaner, pensil, wooden chopstick, dll. Seluruh barang olahan tersebut dijual di Tokopøng.

Teranyar, Parongpong bakal mengeluarkan produk berbahan dasar popok untuk diolah menjadi brick panel. Pada proyek yang akan dilaunching dalam waktu dekat tersebut, mereka bekerjasama dengan Softek Indonesia. Selama ini Parongpong memang lebih fokus bekerja sama dengan pihak korporasi. Alasannya, Rendy menilai kerjasama dengan pihak swasta lebih cepat, efisien dan riil.

"Kalau sama pemerintah cenderung berakhir jadi potong pita dan foto-foto yang sqnagat patut disayangkan, karena menurut kami segala aktivitas manusia yang enggak menghasilkan value, ya, sia-sia," jelasnya.

Pihak Parongpong juga membuka diriterhadap komunitas yang mau mengajak berkolaborasi. Dalam beberapa proyek sebelumnya, Parongpong juga rutin menjalin kerjasama kolaborasi. Syaratnya, kerjasama yang diajukan harus memiliki visi jangka panjag.

"Kalau ada yang mah bekerjasama, bisa kirim profilnya ke kami. Tapi kami enggak mau kalau kerjasamanya enggak sustain dan bersifat sesaat. Kalau begitu malah akan jadi bingung sendiri karena tujuannya enggak jelas," kata dia.
 

Editor: Fira Nursyabani

Tags

Terkini

X