Preman Tobat: Pertemuan dengan Imam Samudera Membuat Kemod Berbalik Arah

- Selasa, 6 November 2018 | 10:02 WIB
Bayu Ruben alias Kemod
Bayu Ruben alias Kemod

BATUNUNGGAL, AYOBANDUNG.COM--Bayu Ruben alias Kemod pernah merajai jalanan Kota Bandung di tahun 1997-an. Eks pentolan Brigez ini sudah kenyang makan asam garam merasakan dinginnnya sel tahanan.

Pada tahun 2006, saat meringkuk di penjara dengan pengamanan paling maksimum di Indonsia yaitu Nusakambangan, ia bertemu dengan salah satu pelaku Bom Bali I Imam Samudera. Pertemuannya itu kelak menjadi titik balik hidupnya.

"Imam berpesan pada saya, jihadlah untuk keluargamu, kalau sudah tercukupi, buat saudaramu, lalu buat agamamu. Orang-orang enggak banyak yang tahu arti Jihad sebenarnya. Malah banyak yang meninggalkan anak istrinya kelaparan," katanya saat ditemui di kediaman orangtuanya, Senin (5/11/2018).

Kemod yang juga menjadi Duta Antinarkoba itu pun menyadari perbuatannya. Setelah itu, dia mengajak teman-temannya yang pernah menggeluti dunia kriminal untuk berhijrah. 

AYO BACA : Preman Tobat: Kemod, Penguasa Jalanan Bandung yang Sering Masuk Bui

Salah satu kiprahnya adalah membuat komunitas untuk merangkul eks residivis. Ada tiga komunitas yang ia bentuk yaitu Lucifer, Residivist, dan Masberto. Atas kepeduliannya itu ia mendapatkan Original Rekor Indonesia (ORI) sebagai inspirator preman sedunia. 

Lucifer, Residivist, dan Masberto alias masyarakat bertato adalah wadah eks residivis untuk memperbaiki diri. Wadah tersebut menyediakan berbagai pendidikan dan keterampilan agar anggotanya bisa menciptakan lapangan pekerjaan sendiri atau disalurkan ke tempat pekerjaan lain. Namun hal yang paling penting bagi mereka adalah bertukar cerita dan pengalaman setelah keluar dari lapas. Pengalaman ini sangat dibutuhkan eks residvis untuk saling menguatkan dalam melawan stigma masyarakat yang masih menilai mereka sebagai kriminalis.

"Lucifer bergerak di penghijrahan dan pekerjaan seperti jualan baju. Atau yang suka coret-coret di jalanan kita salurkan buat menggambar di kafe. Sekitar 80% kafe di Bandung adalah hasil karya Lucifer," beber Kemod kelahiran 1976 itu.

Ia menambahkan Lucifer, Residivist, dan Masberto adalah tiga wadah yang erat dan saling ketergantungan.

Halaman:

Editor: Andres Fatubun

Tags

Terkini

X