Preman Tobat: Kemod, Penguasa Jalanan Bandung yang Sering Masuk Bui

- Selasa, 6 November 2018 | 09:10 WIB
Bayu Ruben alias Kemod, mantan preman Bandung. (ayobandung.com/Fathia Uqimul Haq)
Bayu Ruben alias Kemod, mantan preman Bandung. (ayobandung.com/Fathia Uqimul Haq)

BATUNUNGGAL, AYOBANDUNG.COM--Namanya Bayu Ruben, namun orang mengenalnya Kemod, si penguasa jalanan Kota Bandung.

AYO BACA : Preman Tobat: Iskandar Bule, Manusia Tersangar di Bandung Tempo Dulu (Bag. 1)

Lelaki lulusan ASTI--sekarang Institut Seni Budaya Indonesia--ini dikenal sebagai aktor di beberapa judul film dan sinetron. Salah satunya sinetron "Preman Pensiun" yang pernah top di layar kaca. Kemod menjadi salah satu pemain bersama artis kawakan lainnya.

Beradu akting sudah dilakoninya sejak 1995 dalam film layar lebar bersama Fedi Nuril, Desta, Ayu Ratna, dan Ari Daging dalam film "Garasi". Kemod yang berperan sebagai Aryo diceritakan pernah ditinggal band-nya bersama Ayu Ratna yang menyebabkan dendam kepada Fedi Nuril. Terjadilah cekcok. Adegan itu ternyata berlanjut ke dunia nyata.

Selain itu, Kemod juga pernah bermain band bersama Stone Morphine sebagai basis. Tak heran, dia mampu menciptakan lagu yang selalu didengungkan oleh para demonstran hingga saat ini yang berjudul "Dara Juang".

AYO BACA : Preman Tobat: Iskandar Bule, Manusia Tersangar di Bandung Tempo Dulu (Bag. 2)

Perlawanan pada masa rezim Soeharto menggerakkannya untuk membuat lagu, puisi, bahkan plesetan lirik lagu nasional dengan keadaan Indonesia yang tak juga merdeka.

"Rendra menamai saya burung beo. Karena bait saya keras mengenai perlawanan. Bahkan ada satu bait yang dipakai Wiji Thukul buatan saya yaitu 'cuman ada satu kata, lawan'. Kalau rakyat enggak bisa melawan, ya lawan," kata Bayu, saat ditemui di rumah orang tuanya di Kelurahan Samoja, Senin (5/11/2018).

Aksi pemalakan telah dilakoni Kemod sejak kelas 4 SD. Alasannya adalah kesibukan orang tua, sehingga dirinya tidak mendapatkan perhatian yang utuh dari rumah. Kekecewaan itulah yang membuat dia beraksi demikian dan terbawa hingga dewasa.

Kebiasaan melakukan kekerasan, memalak anak-anak sekolah pun seolah menjadi kewajiban. Menurutnya, orang dilahirkan untuk berbuat baik. Sementara itu, datangnya orang jahat adalah dari orang baik yang tersakiti.

"Ibu sibuk dari pagi sampai malam pasti untuk masa depan anaknya. Tapi mungkin rasa labil jadi kayak enggak ada waktu ibu buat saya. Akhirnya pelarian di jalanan menemukan rumah baru untuk jati diri sendiri," ujarnya.

Kemod menuturkan, hidup di jalanan harus keras. Kalau lemah dibuang orang. Sebab jalanan laiknya rimba.

Ayah dari empat anak itu belajar keras di jalanan, bergaul di terminal, di lampu merah. Dirinya pun lebih banyak bergaul justru dengan seniornya.

"Dari SMP sudah nusuk orang, bacok orang, malakin," kata alumni SMP YPU itu.

Latar belakang Kemod melakukan hal itu karena pengaruh dari orang dan ingin menunjukkan diri sebagai yang paling kuat.

Pada tahun 1995, Kemod mendirikan komunitas RM2K dan AMX.

Komunitas itu adalah wadah berkumpulnya anak muda balapan motor liar, mabuk-mabukan, kumpul tidak jelas, yang diikuti sampai 800 orang. Dari wadah inilah dia akhirnya merasakan dinginnya bui.

"Kami pernah dilicikin sama XTC pas balap motor, jadi perang sama XTC. Brigez ngajak gabung karena musuhnya sama," kata pemain sinetron "Menghitung Hari" itu.

Dia pernah menembak anak XTC pada awal tahun 1997 di kawasan Bandung Indah Plaza. Bulan Desember 1997, Kemod bebas. Namun, tahun selanjutnya, tepatnya Februari 1998, dia terlibat dalam pembunuhan salah satu anggota GBR. Kemod akhirnya kembali masuk penjara.

"Tahun 2001 masuk lagi bui, kasus perampokan, pembunuhan," lanjutnya.

Untuk mendapatkan jatah preman di jalanan, ia harus berkelahi hingga berdarah-darah.

Diakuinya, setiap hari, dia bisa menagih iuran paksa di Jalan Bunga Sepatu sebanyak Rp25.000 per jongko. Begitu pun di sepanjang Jalan Malabar, pedagang memberikan uang Rp2,5 sampai Rp3 juta per bulan. Akibat perbuatannya ini, Kemod kembali keluar masuk penjara.

Uang yang dikumpulkannya tak dia makan sendiri. Dia membagikan uang itu kepada sebuah pesantren yang dihuni anak-anak yatim. Pesantren tersebut tidak tahu aksi Kemod yang sesungguhnya. Mereka hanya mengetahui Kemod adalah seorang pemain sinetron dan film sehingga memiliki banyak uang.

"Untung mereka enggak ada TV, jadi ya tahunya artis aja banyak uang," kenangnya.

Namun, aksi baku tembak yang pernah terjadi antara Kemod dan polisi menyadarkannya bahwa Tuhan memberikan kesempatan kedua untuknya. Kepala Kemod yang terkena peluru polisi tak langsung membuatnya mati. Padahal, teman-temannya meninggal saat peluru menembus bahu dan pinggir perutnya.

"Padahal peluru masuk ke kepala, tapi saya masih diberi umur. Di sisa umur ini ingin membuat yang terbaik. Berhentilah (jadi preman), enggak ada gunanya juga. Saya ingin menyeru kepada teman-teman yang lain untuk berbuat baik. Dulu kan mendidik yang jahat, kalau orang tersebut ngajarin kejahatan ke bawahnya lagi, saya yang kena dosanya. Saya ingin menghapus dosa itu dengan mengajak teman-teman ke arah yang lebih baik," tegasnya.

AYO BACA : Preman Tobat: Pertemuan dengan Imam Samudera Membuat Kemod Berbalik Arah

Editor: Rizma Riyandi

Tags

Terkini

Citra Politisi di Media Digital Lebih Sulit Dikendalikan

Selasa, 27 September 2022 | 16:47 WIB

UMKM Binaan bank bjb Sukses Ekspor Produk ke Luar Negeri

Selasa, 27 September 2022 | 15:53 WIB
X