Menyedihkan, Ini Alasan Kenapa Bandung Disebut Kota Kembang

- Kamis, 10 Agustus 2017 | 16:11 WIB
Alun-Alun Bandung sebagai ikon Kota Bandung.(Diki Gumilang)
Alun-Alun Bandung sebagai ikon Kota Bandung.(Diki Gumilang)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM--Bandung adalah soal gaya dan keindahan. Maka tidak heran bila para meneer Belanda memberikan sebutan Bandung sebagai Paris van Java dan Kota Kembang.

Layaknya Paris karena Bandung tempo dulu menghadirkan etalase fesyen para kaum elit Kincir Angin. Apalagi latar belakang sejarah Bandung sebagai lahan perkebunan kopi dan teh memberikan nuansa keindahan disertai udara sejuk khas pegunungan.

Sebuah analogi kisah yang selaras dengan julukan Bandung sebagai Kota Kembang. Beragam tanaman bunga tumbuh subur di tanah Pasundan menghiasi jalanan kota. Terlebih pada masa kepemimpinan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil dibangun beragam taman yang semakin melekatkan sebagai identitas julukan Kota Kembang.

Namun pernyataan tersebut tidak seluruhnya dapat dibernarkan karena nyatanya terdapat hipotesis kedua yang melatarbelakangi mengenai alasan kenapa Bandung disebut sebagai Kota Kembang.

Adalah penjabaran dari penulis sejarah Haryoto Kunto dalam buku karangannya berjudul 'Wajah Bandoeng Tempo Doeloe' yang menjelaskan bila nama Kota Kembang bukan berasal dari pengertian bunga secara lahiriah dan mutlak. Melainkan berasal dari kata kembang dayang yang berarti perempuan tunasusila.

Kisah bermula ketika pada masa Asisten Residen Priangan Pieter Sijthoff di tahun 1896, Bandung dipercaya menggelar sebuah gelaran besar yaitu Kongres Perkumpulan Pengusaha Perkebunan Gula yang berkedudukan di Surabaya.

Dalam buku berjudul 'Bandung Kilas Peristiwa di Mata Filatelis Sebuah Wisata Sejarah' karangan Sudarsono Katam diceritakan bila Kota Bandung terpilih sebagai tuan rumah karena sebelumnya telah dibuka jalur transportasi angkutan kereta api dari Batavia ke Bandung dan Surabaya tahun 1884.

Namun kondisi Kota Bandung saat itu tidak ubah layaknya dusun perkampungan penuh perkebunan. Sebuah kenyataan yang membuat Pieter kebingungan untuk dapat memberikan pelayanan memuaskan pada para peserta kongres.

Lalu sebuah ide lahir dari pria pemilik perkebunan kina di kawasan Bandung Selatan bernama Williem Schenk yang mengusulkan agar Pieter turut serta membawa perempuan cantik beparas Indo Belanda dari perkebunan kina di Pasirmalang.

Paras mojang Bandung kala itu memang dikenal cantik dan berkulit putih sewajarnya perwajahan Indo Belanda. Bukan tanpa alasan ketika perempuan Bandung memiliki wajah Indo Belanda karena pada tahun 1830 hingga 1870 Pemerintah Belanda memberlakukan sistem tanam paksa di Nusantara.

Sistem tersebut menghadirkan sebuah regulasi bila para warga Belanda yang bekerja di Bandung tidak diperbolehkan membawa serta istri dan keluarga. Tidak dapat dipungkiri bila hidup sendiri tanpa istri membuat banyak pria Belanda menjalin hubungan dengan gadis pribumi tanpa status pernikahan.

Maka tidak mengherankan bila erselang belasan tahun kemudian banyak remaja Bandung baik lelaki maupun perempuan memiliki paras dengan sentuhan Indonesia dan Belanda khas perwajahan masyarakat Eropa.

Sehingga kehadiran dan pelayanan mojang Bandung kala itu ternyata mendapat respons positif dari peserta kongres dan turut membawa gelaran berjalan sukses.

Sejak saat itu para Belanda memberikan julukan Bandung sebagai "De Bloem Der Indische Bergstede" yang berarti "Bunga dari Pegunungan Hindia Belanda." Sebuah julukan yang menjadi latar belakang sebutan Kota Kembang.

Editor: Adi Ginanjar Maulana

Tags

Terkini

X