bandung

Mengintip Kampung Dobi di Ciguriang

Kamis, 23 November 2017 | 17:25 WIB
Hanya ada alat pancing beserta etalase sampah yang menghiasi area bibir dari mata air Ciguriang yang berlokasi di Kebon Kawung, Kota Bandung. Nasibnya kini kumuh dan berakhir sebagai sarana pemancingan warga sekitar.

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM—Hanya ada alat pancing beserta etalase sampah yang menghiasi area bibir dari mata air Ciguriang yang berlokasi di Kebon Kawung, Kota Bandung. Nasibnya kini kumuh dan berakhir sebagai sarana pemancingan warga sekitar.

Tidak banyak yang menyadari jika dulu Ciguriang merupakan salah satu kampung tertua di Kota Bandung. Pernyataan tersebut setidaknya tersirat dalam buku berjudul "Semerbak Bunga di Bandung Raya" karangan Haryoto Kunto.

Dalam penjabaran singkatnya Haryoto Kunto menceritakan jika Ciguriang merupakan tempat bermukimnya para dobi atau jasa cuci pakaian pada zaman kolonial Belanda. Masyarakat modern lebih mengenalnya dengan istilah binatu atau laundry.

"Dulu para binatu seantero Kota Bandung kalau mencuci di Kampung Dobi di Ciguriang. Memang aliran yang besar berasal dari mata air Ciguriang namun ada juga Sumur Siuk dan lainnya," ujar pegiat sejarah Komunitas Aleut Irfan Teguh kepada AyoBandung, Kamis (23/11/2017).

Sebenarnya jejak keberadaan Kampung Dobi tidak hanya dapat ditemukan di Bandung, tapi juga di sepanjang Pulau Sumatera dan Jawa. Salah satu jejak Kampung Dobi dapat ditemukan di Kota Padang dan Johor di Malaysia.

Kata dobi sendiri berasal dari bahasa India yang merujuk pada aktivitas mencuci pakaian para dobi ghat di sepanjang sungai di Kota Mumbai. Bahkan popularitas dobi ghat hingga menarik minat Bollywood untuk membuat film dengan tema serupa.

Maka tidak mengherankan jika kemudian Joanne Rowling memberi nama Dobi pada karakter peri sang asisten rumah tangga dalam cerita Harry Potter. Alasannya karena memiliki makna dan arti serupa dengan peran dobi di Ciguriang.

Kembali ke Ciguriang. Dulu aktivitas mencuci pakaian para dobi sangat bergantung pada sumber mata air Ciguriang. Fakta menarik tersaji karena para dobi di Ciguriang mayoritas diisi oleh kaum pria.

Alasannya karena teknik mencuci secara tradisional memerlukan energi yang besar dengan membantingkan pakaian pada alas cuci berupa batu nisan.

Wajar saja jika di Ciguriang banyak terdapat batu nisan karena dulu daerah tersebut merupakan kompleks pemakaman Kebon Jahe Pajajaran yang kini telah dipindahkan ke Jalan Pandu.

Uniknya para dobi di Ciguriang terbiasa bekerja sedari malam hari hingga fajar menjelang. Dengan lampu cempor atau obor sebagai alat penerangan para dobi kerap bernyanyi dengan menggunakan bahasa Sunda.

Layaknya petani yang bernyanyi ketika tengah menumbuk padi sehingga menghasilkan irama ketukan maka para dobi melakukan hal serupa. Ketukan dari pakaian yang dibantingkan menghasilkan sebuah nada seraya mengusir sepi di malam hari.

"Puluhan binatu membanting cucian sehingga membentuk irama musik. Menurut catatan Haryoto Kunto yang juga tinggal di daerah Kebon Kawung jika dulu dari tengah malam hingga subuh terdengar irama musik padahal itu orang sedang mencuci," ujar Irfan.

Adapun pakaian dicuci menggunakan sabun batang yang juga dipakai untuk mandi. Setelah dicuci dan dikeringkan maka pakaian akan ditabur tepung kanji agar mengkilap. Kemudian dirapikan menggunakan setrika arang beralas daun pisang agar wangi.

Untuk dapat mencuci pakaian di mata air Ciguriang, para dobi ketika itu hanya perlu membayar uang senilai satu sen. Pesanan jasa mencuci pakaian banyak datang dari para warga Belanda dan pejabat bumiputra yang bermukim di Bandung.

Alasannya tentu karena popularitas dobi di Ciguriang sangat termasyhur seantero Bandung ketika itu. Bahkan tidak hanya warga Kebon Kawung namun masyarakat daerah lain banyak yang berminat menjadi dobi di Ciguriang.

"Pesanan banyak datang dari berbagai daerah. Bahkan pernah ada pesanan yang datang jauh dari Soreang," ujar salah satu sesepuh di sekitar mata air Ciguriang, Sarlan.

Sarlan merupakan penduduk asli Kampung Ciguriang yang lahir pada tahun 1956 silam. Ia menuturkan jika sekarang mata air Ciguriang tidak lagi dapat digunakan sebagai sumber mencuci pakaian.

Alasannya beragam, mulai dari air Ciguriang yang beranjak kotor hingga aliran berkurang karena terbagi dengan sumur buatan warga. Telebih sejak GOR Padjadjaran berdiri pada tahun 1974 saluran air terbagi dan sebagian besar tersedot ke artesis.

"Kegiatan mencuci berhenti sekitar tahun 1970 ketika saluran terbagi dengan sumur warga dan kebutuhan di GOR Padjadjaran. Padahal tahun 1960 masih digunakan anak kecil untuk berendam sebelum disunat. Kalau sekarang dipakai warga sekitar untuk memancing," ujar Sarlan.

Penemuan Batu Nisan Belanda Sarat Sejarah

Kini jejak dobi di mata air Ciguriang hanya menyisakan cerita yang dikisahkan turun menurun oleh warga Kebon Kawung. Hal serupa juga terjadi pada penemuan sejarah berupa batu nisan Belanda yang banyak ditemukan di sekitar Ciguriang.

Soalnya lahan yang kini ditempati oleh GOR Padjadjaran, dulunya merupakan Kuburan Kristen Kebon Jahe. Sekitar tahun 1970 pemakaman warga Belanda tersebut dipindahkan ke Jalan Pandu.

Maka wajar jika kemudian batu nisan banyak ditemukan dan dijadikan alas mencuci pakaian para dobi. Salah satunya adalah nisan Elisabeth Adriana Hinse Rieman yang diduga merupakan istri salah satu arsitek Lawang Sewu di Semarang.

Adapun ukuran dari nisan Elisabeth sebesar pintu rumah dengan inskripsi lengkap. Bentuk keseluruhan tulisan sangat sederhana dan tidak disertai ukiran tambahan atau hiasan apapun.

Selain nama lengkap Elisabeth, dalam nisan juga tertulis "Geb. Amsterdam 9 Maart 1859" dan "Overl. Bandoeng 13 Januari 1903." Artinya jika merujuk pada tanggal kematian Elisabeth maka batu nisan tersebut telah berusia 114 tahun.

Sebuah usia yang dapat menjelaskan beragam kisah sejarah tersembunyi. Untuk itu Komunitas Aleut melakukan penelusuran hingga akhirnya terpublikasi media dan nisan dibawa ke kelurahan setempat.

Alih-alih dirawat atau dijadikan bahan pembelajaran namun batu nisan tersebut justru ditemukan terkulai dan terbelah di Kantor Kelurahan Pasirkaliki pada tahun 2015 silam.

"Jadi serba salah ketika kita menemukan sesuatu yang memiliki nilai sejarah lalu dipublikasikan namun ketika diamankan pemerintah justru tidak terawat. Kalau tahu begitu lebih baik tetap digunakan warga untuk menyuci," ujar Irfan.

Halaman:
1
2
3
4

Tags

Terkini

200 Anak Spesial di Bandung Dapat Kado Lebaran

Jumat, 13 Mei 2022 | 16:45 WIB