Situ Ciburuy Surut, Warga dengan Mudah Berburu 'Harta Karun'

- Jumat, 20 Agustus 2021 | 09:11 WIB
Seorang nelayan sedang berupaya menjaring ikan di Situ Ciburuy, Kabupaten Bandung Barat. (Suara.com/Ferrye Bangkit Rizky)
Seorang nelayan sedang berupaya menjaring ikan di Situ Ciburuy, Kabupaten Bandung Barat. (Suara.com/Ferrye Bangkit Rizky)

PADALARANG, AYOBANDUNG.COM -- Matahari yang bersinar terik membakar kulit Dedi yang semakin keriput dimakan waktu. Sambil menenteng ember kecil berisikan jaring dan dayung, ia berjalan ke arah Situ Ciburuy yang kian menyusut.

Pria 42 tahun asal Kampung Sadang Wetan RT 01/16, Desa Ciburuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) itu kemudian menaiki rakit bambu sederhana miliknya. Ia berlayar menyusuri situ yang melegenda itu.

Dedi mulai mendayung perlahan dan jaringan yang ditentengnya mulai ia gunakan untuk menangkap "harta karun" berupa ikan. Teriknya matahari pada sekitar pukul 13.00 WIB bukan jadi penghalang.

Sebab di musim kemarau seperti inilah waktunya Dedi dan puluhan warga lainnya menjadi nelayan musiman dengan mencari ikan.

Debit air Situ Ciburuy sudah surut sejak beberapa bulan lalu. Fenomena ini menjadi kesempatan untuk mendapat hasil tangkapan yang cukup banyak.

"Saya biasanya memang mulai nyari ikan pagi sampai siang. Atau enggak siang ke sore," tutur Dedi kepada Suara.com.

Baca Juga: Situ Ciburuy Kering, Disulap Warga Jadi Lapangan Sepak Bola

Dedi terus mendayung rakitnya menjauhi bantaran Situ Ciburuy. Dari kejauhan terlihat teman-temannya sudah mencari "harta karun" terlebih dulu berupa ikan nila menggunakan jaring atau jala.

Sesekali mereka menenggelamkan tubuh ke dalam air yang hangat tersengat sinar matahari. Kedalamannya disebut menyisakan sekitar 1 meter saja dikarenakan debit airnya terus menyusut dimakan kemarau.

Penyusutan debit air itulah dimanfaatkan Dedi dan warga setempat untuk menangkap ikan sebanyak-banyaknya. Sebab ikan menjadi lebih mudah ditangkap.

Jika sedang beruntung, dalam satu tarikan jaring, ada beberapa ekor ikan yang masuk perangkap. Namun saat sedang buntung, yang terjaring hanyalah lumpur dan benda-benda lainnya yang mengendap di dasar situ.

"Setiap musim kemarau memang selalu dimanfaatkan untuk nyari ikan. Kalau lagi musim hujan paling mancing, gak bisa langsung pakai jaring," kata Dedi.

Sejak 1993 Dedi sudah menjadi nelayan musiman di Situ Ciburuy yang dibuat sekitar 1800-an oleh Bempi atas pesuruh Ratu Wilhelmina dari Belanda. Dedi menjadikan rutinitas ini sebagai mata pencaharian saat ordernya sedang sepi.

Baca Juga: Melihat Kembali Situ Ciburuy

Dedi sehari-harinya bekerja sebagai buruh bangunan. Namun sejak pandemi Covid-19 ini panggilan untuk memanfaatkan jasanya sangat jarang. Ia semakin menguras keringatnya untuk mencari ikan.

Dalam sehari, ia bisa mendapat sekitar 10 kilogram ikan nila segar. Namun jika sedang sulit, Dedi hanya mendapat sekitar 5 kilogram ikan dengan menyusuri Situ Ciburuy seluas 25 hektare.

Ikan-ikan itu dijualnya seharga Rp15.000 per kilogram. Artinya jika sehari ada 10 kilogram yang ditangkap, maka ia bisa mendapatkan pundi-pundi rupiah hingga Rp150.000 untuk dibawa pulang ke rumah.

"Kalau enggak ada yang beli, buat dimasak di rumah dan dibagikan ke keluarga," jelasnya Dedi.

Ia memprediksi musim kemarau masih akan berlangsung hingga akhir tahun nanti. Sehingga di sisa waktu ini, ia terus memanfaatkannya untuk mencari ikan-ikan segar yang bisa membantu perekonomian keluarganya.

Situ Ciburuy yang dibangun zaman Belanda ini juga dijadikan objek wisata air. Bahkan, kini kawasan tersebut tengah direnovasi Pemkab Bandung Barat dengan bantuan anggaran dari Pemprov Jabar.

Halaman:
1
2
3

Editor: Fira Nursyabani

Sumber: Suara.com

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Usia Waduk Saguling di Ujung Tanduk Ini Penyebabnya

Rabu, 19 Januari 2022 | 19:15 WIB

Gaji ASN Bandung Barat Diprediksi Cair Pekan Ini

Selasa, 18 Januari 2022 | 12:38 WIB
X