Mukti-Mukti: Senja ke Senja

- Selasa, 16 Agustus 2022 | 16:48 WIB
Mukti-Mukti. (Antorus)
Mukti-Mukti. (Antorus)

oleh Hikmat Gumelar, Sastrawan.

AYOBANDUNG.COM -- Ketika Baron Famousa, Pupuhu Padepokan Kirik Nguyuh, mengabari bahwa Mukti Mimesol meninggal dunia, pada Senin, 15 Agustus, pukul 16.00, di R.S. Bromoeus, daun-daun jambu, mangga, dan belimbing wuluh yang berserak di rumput halaman tetiba tampak serupa keping-keping hati saya. Dan dari sela-sela kepingan itu, seakan menyeruak percakapan Mukti dan saya melalui telepon seluler.

Semula kami bercakap perihal musik dan puisi, kemudian berbelok ke ke ihwal penyakit dan Tuhan.

Seperti ketika pertama kali kami bertemu pada menjelang tahun 1990, di kampus UNPAD Dipati Ukur, senja itu saya menginjeksinya untuk lebih intens mengawinkan musik dan puisi, memproduksi apa yang berulang saya sebut “mupui (musik puisi)".

Hal tersebut karena, pertama, sependek pengetahuan saya, tak sedikit para musisi (pop) yang teknik dan skill bermain gitar atau pianonya serta teknik dan karakter vokalnya yahut, tapi lagu-lagu yang ditulisnya kebanyakan liriknya amburadul. Kebanyakan lirik lagu-lagu mereka banal, berlumur metafora usang, dan karenanya memboyakkan. Cap yang diterakan Remy Sylado di tahun 1970-an, yakni bahwa lagu-lagu pop Indonesia adalah lagu-lagu yang “penuh kebebalan sang mengapa” sampai hari ini rasa-rasanya masih berlaku.

Kelebihan banyak musisi menjadi tersia-siakan. Musik pun kebanyakan menjadi racun yang mematikan individualitas dan sosialitas. Musik kebanyakan mendevaluasi apresiatornya menjadi konsumen belaka. Pematangan emosinya dan peningkatan daya imajinasinya dihambat. Mereka pun diseret ke arah terus-menerus terkepung berbagai bayang-bayang yang diproduksi industri berorientasi laba belaka.

Kedua, ada banyak anak muda yang kecanduan menulis puisi. Dan, sampai hari ini, media yang menyediakan ruang untuk puisi masih sangat terbatas. Padahal, tidak sedikit puisi anak-anak muda itu yang patut disebut bermutu. Tak sedikit dari puisi-puisi itu menyuarakan jeroan batin mereka; dari masalah cinta perempuan-laki-laki hingga masalah sosial-politik, dari masalah lingkungan hidup hingga masalah spritualitas, dari masalah pemiskinan hingga penegakan kesetaraan dan keadilan. Dan semua yang ditemukan imajinasi itu diungkapkan pula dengan imajinatif, sehingga menjadi terasa orisinal. Meski demikian, susunan baris dan bait serta tipografinya kebanyakan merupakan modifikasi dari soneta. Mengolah puisi-puisi menjadi lirik lagu yang umum di Indonesia menjadi lebih mudah, apalagi puisi--bertema apa pun--tulang punggungnya adalah ritme, apalagi untuk orang seperti Mukti.

Dia bukan saja seorang yang jari-jemari tangannya piawai dan khas memetik dan mengocok gitar. Dia bukan saja seorang yang karakter vokalnya unik dan teknik vokalnya tak berlebih jika dikata tinggi.

Dia pun seorang penyelam lautan puisi sebagaimana halnya penyelem mutiara yang tangguh. Betul bahwa Mukti bukan seorang mahasiswa fakultas sastra yang baik. Seperti saya, dia lebih getol kuliah di luar kelas.

Halaman:

Editor: M. Naufal Hafizh

Tags

Terkini

Caption Home Dirikan Toko Ke-18 Di Kota Bandung

Jumat, 30 September 2022 | 12:59 WIB

Vandalisme Mural Jalan Babakan Siliwangi Kembali Terjadi

Jumat, 30 September 2022 | 12:41 WIB
X