DLH Telusuri Industri Raksasa Dibalik Limbah Batu Bara di Situ Ciburuy KBB

- Sabtu, 23 Juli 2022 | 17:58 WIB
DLH bakal menelusuri sumber limbah batu bara yang dipakai perajin batako sehingga mencemari perairan Situ Ciburuy, Padalarang, KBB.  (Ayobandung.com/Restu Nugraha)
DLH bakal menelusuri sumber limbah batu bara yang dipakai perajin batako sehingga mencemari perairan Situ Ciburuy, Padalarang, KBB. (Ayobandung.com/Restu Nugraha)

NGAMPRAH, AYOBANDUNG.COM -- Dinas Lingkungan Hidup (DLH) bakal menelusuri sumber limbah batu bara atau fly ash and bottom ash (FABA) yang dipakai perajin batako sehingga mencemari perairan Situ Ciburuy menjadi hitam di Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Berdasarkan hasil investigasi awal DLH Jabar dan Bandung Barat, ditemukan dugaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) berupa FABA dipakai bahan baku campuran pasir untuk pembuatan batako. Limbah tersebut masuk melalui saluran air yang bermuara di Situ Ciburuy sehingga menyebabkan air berubah warna hitam. 

Pada Kamis, 21 Juli 2022, industri rumahan batako tersebut telah dihentikan sementara aktivitasnya. Namun demikian, DLH punya komitmen bahwa langkah penegakan hukum tak cuma sampai di situ. Lembaga ini berjanji bakal menelusuri industri raksasa di balik limbah FABA tersebut. 

Baca Juga: Komplotan Bagi-Bagi Tugas Sebelum Curi Ratusan Roll Kain Woven di Bandung

"Dari mana mereka mendapat limbah batu bara, itulah yang masih kita telusuri. Kita belum bisa bilang dari mana dari mananya. Kita harus telusuri dulu," kata Kepala Bidang Tata Kelola Lingkungan Hidup, DLH LBB Zamilia Floreta, Sabtu, 23 Juli 2022.

Sebelumnya, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) mendorong pemerintah melakukan investigasi sumber limbah FABA di perairan Situ Ciburuy

WALHI menilai adanya FABA yang dipakai untuk industri rumahan batako patut diduga ada pelaku industri besar yang diam-diam membuang limbah FABA tanpa melakukan pengolahan lebih dulu.

Baca Juga: 9 Wisata Kuliner Malam Bandung Terbaru 2022, Murah Meriah

"Kita akan lakukan itu, tapi upaya kita bertahap. Jadi memang prosesnya cukup panjang," terang Zamilia. 

Halaman:

Editor: Isabella Nilam Mentari

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X