Dinkes Kota Bandung Catat 7 Orang Meninggal Dunia Akibat DBD, Mayoritas Anak-anak

- Jumat, 22 Juli 2022 | 11:26 WIB
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung mencatat sepanjang Januari-Juli 2022 terdapat 3.572 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Bandung, 7 orang di antaranya mengalami kematian. mayoritas anak-anak (Pixabay)
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung mencatat sepanjang Januari-Juli 2022 terdapat 3.572 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Bandung, 7 orang di antaranya mengalami kematian. mayoritas anak-anak (Pixabay)

SUMUR BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung mencatat sepanjang Januari-Juli 2022 terdapat 3.572 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Bandung, 7 orang di antaranya mengalami kematian. Rata-rata kasus kematian ini menyerang anak berusia 1-9 tahun.

Pelaksana tugas (Plt) Subkoordinator Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular, dr. Intan Annisa Fatmawaty mengungkapkan kasus DBD di Kota Bandung selama tahun 2022, hingga saat ini paling tinggi tercatat ada dibulan Januari.

"Data yang kita lihat di Januari ini cukup tinggi. Biasanya kasus DBD muncul musim penghujan atau pancaroba, makanya meningkat di akhir tahun sampai awal tahun," ujar Intan, Jumat, 22 Juli 2022.

Baca Juga: Pabrik Modern Pengolahan Gabah Menjadi Beras Kualitas Premium Dibangun di 10 Wilayah

Ia mengakui, sepanjang 2022 ini wilayah yang memiliki kasus paling tinggi di Kota Bandung terdapat di Kecamatan Buahbatu. Secara global, faktor yang mengakibatkan sebuah daerah rawan banyak kejadian DBD biasanya terjadi di wilayah padat penduduk.

"Selain itu, faktor lainnya bisa jadi pelaksanaan dari kegiatan pemberantasan sarang nyamuknya (PSN) belum berjalan optimal," ucapnya.

Menurut Intan, salah satu upaya yang bisa dilakukan masyarakat untuk memberantas nyamuk penyebab DBD tidak hanya melalui fogging. Karena, menurutnya fogging yang dilakukan terlalu sering justru bisa berbahaya bagi kesehatan.

Baca Juga: 10 Warga KBB Meninggal Dunia Akibat DBD Sepanjang 2022

"Fogging juga jangan dilakukan terlalu sering, baiknya berjarak seminggu lebih. Sebab fogging mengandung zat kimia yang justru berbahaya kalau sering dihirup oleh masyarakat," tutur Intan.

Maka dari itu, Intan menegaskan, pemberantasan DBD paling efektif sebenarnya bukan dari fogging, melainkan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan PSN. Misalnya jangan ada pakaian habis pakai menggantung banyak di pintu karena bisa menjadi sarang nyamuk.

Halaman:

Editor: Dina Miladina Dewimulyani

Tags

Artikel Terkait

Terkini

DPRD Jawa Barat Setujui Propemperda Tahun 2023

Senin, 28 November 2022 | 14:13 WIB
X