Antisipasi Penyebaran PMK Jelang Idul Adha, Pemkot Bandung Terjunkan Satgas Hewan Kurban

- Jumat, 17 Juni 2022 | 15:48 WIB
Antisipasi penyebaran PMK jelang Iduladha 2022, Pemkot Bandung terjunkan Satgas Hewan Kurban.
Antisipasi penyebaran PMK jelang Iduladha 2022, Pemkot Bandung terjunkan Satgas Hewan Kurban.
 
SUMUR BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menerjunkan 130 petugas gabungan Satgas Pemeriksa Hewan Kurban yang terdiri atas Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung dibantu relawan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI). 
 
Kepala DKPP Kota Bandung Gin Gin Ginanjar menyebut tim satgas tersebut diturunkan lebih awal dibandingkan tahun lalu. Mereka akan disebar ke-30 Kecamatan se-Kota Bandung untuk melakukan pengawasan terkait kesehatan hewan kurban di tengah wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) pada ternak. 
 
"Hari ini melepas tim pemeriksa hewan kurban yang biasanya rutin setiap tahun, saat ini kita lebih dini menurunkan tim pemeriksa hewan kurban karena sedang marak adanya penyakit PMK, biasanya kita bentuk di H-10 sekaligus mereka ikut mengawal untuk PMK," kata Gin Gin, Jumat, 17 Juni 2022.
 
 
Nantinya, kata dia, tim Satgas Pemeriksa Hewan Kurban tersebut akan melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap sekira 4.000 ternak di Kota Bandung yang akan diperjualbelikan hingga hewan tersebut dipotong saat Iduladha Juli 2022 nanti. 
 
"Setelah dilakukan pemeriksaan, hewan yang dinyatakan sehat akan diberikan nametag tanda kalung sehat untuk membedakan dengan hewan yang belum diperiksa," paparnya.
 
Kalung tersebut, lanjutnya, akan berisi barcode atau kode batang yang dapat dipindai melalui aplikasi e-Selamat. Aplikasi ini memuat data hewan kurban yang telah diperiksa dan dinyatakan sehat oleh Tim Pemeriksa Hewan Kurban.
 
 
"Nantinya, tim pemeriksa akan mengunggah beragam informasi hewan kurban ke aplikasi e-Selamat berdasarkan hasil dari pemeriksaan," ungkapnya. 
 
"Jadi calon pembeli bisa mengecek data  hewan termasuk foto hewan yang akan dibeli melalui aplikasi tersebut dengan melakukan scan barcode," tuturnya.
 
 
Gin Gin yakin dengan aplikasi ini seleksi hewan kurban akan semakin ketat. Alasannya, satu kode barcode hanya digunakan untuk satu ekor hewan yang sudah diperiksa.
 
“Karena selama ini juga ada isu bahwa kalung yang dipasangkan bisa dipindahkan ke hewan tidak sehat. Barcode ini unik hanya untuk satu identitas hewan,” tuturnya.

Editor: M. Naufal Hafizh

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X