KTNA Kabupaten Bandung Kritisi Pembangunan Pertanian

- Rabu, 11 Mei 2022 | 17:56 WIB
[ilustrasi] KTNA Kabupaten Bandung Kritisi Pembangunan Pertanian (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)
[ilustrasi] KTNA Kabupaten Bandung Kritisi Pembangunan Pertanian (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)


SOREANG, AYOBANDUNG.COM -- Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Bandung mengkritisi pembangunan pertanian yang belum dilakukan maksimal.

Ketua Departemen Litbang KTNA Kabupaten Bandung, Andri Ramdhani, mengatakan pada dasarnya kebutuhan petani hanya ada tiga aspek, yakni air, pupuk dan harga jual.

"Untuk pupuk bersubsidi saat ini ketersediaanya semakin sulit," ujar Andri Rabu 11 Mei 2022.

Baca Juga: Ada GT Neo 3, Cek 8 Realme Terbaru 2022 Favorit Mei 2022 Lengkap dengan Harganya

Begitu juga dengan masalah harga jual yang belum digarap secara maksimal oleh pemerintah Kabupaten Bandung. Pasalnya ketika panen harga menjadi fluktuasi karena dipermainkan oleh bandar.

Padahal bagi petani kecil, harga yang merosot akan berimbas pada kemampuan untuk mempersiapkan penanaman kembali.

Pun ketika harga bagus, petani hanya bisa menjadi penonton karena tidak memiliki modal untuk membeli pupuk karena harganya tinggi atau langka.

Baca Juga: Samsung Galaxy A22 vs Samsung Galaxy A23, Cek Beda Spesifikasi Samsung Terbaru 2022

"Akhirnya penggunaan pupuk dikurangi dan itu berpengaruh kepada hasil produksi yang tidak maksimal. Ini juga kan harus menjadi perhatian pemerintah," katanya.

Seharusnya kata Andri, apabila pemerintah Kabupaten Bandung menginginkan pertanian yang maju, harus membuat kebijakan berpihak kepada petani. Salah satunya dengan membentuk sistem pemetaan pertanian yang baik dan benar sesuai kondisi eksisting lapangan.

Baca Juga: 7 Vivo Terbaru 2022 Favorit Khusus HP 5G di Mei 2022, Cek Daftar Harga Sekarang

Pemetaan tersebut diantaranya melakukan pendataan jumlah lahan pertanian basah dan kering, juga komoditas yang ditanam oleh petani untuk menjaga kestabilan harga.

"Termasuk harus ada data kebutuhan pasar terhadap suatu komoditas pertanian. Misalnya kebutuhan Kabupaten Bandung berapa, Bandung Raya berapa. Nah kalau ada pemetaan dengan database yang detail, petani punya gambaran mau tanam apa," paparnya.

Baca Juga: Penerima Pensiun Janda Duda Pensiunan PNS yang Meninggal Dapat Gaji ke 13? Ini Daftar Penerimanya

Namun hal tersebut belum dilakukan secara maksimal oleh pemerintah Kabupaten Bandung, sehingga banyak petani merugi akibat tidak bisa membaca kebutuhan pasar.

"Kalau ada pemetaan kebutuhan tidak akan ada fluktuasi harga karena antara produksi dan permintaan pasar seimbang,"tutupnya.

Editor: Eneng Reni Nuraisyah Jamil

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X