16.000 Anak Yatim Terimbas Kasus HW, Harus Kurangi Jatah Makan

- Kamis, 30 Desember 2021 | 17:53 WIB
[Ilustrasi anak yatim dan duafa] Lembaga yatim dan duafa menjadi korban lain dari kasus HW, oknum ustad yang melakukan pelecehan seksual terhadap siswinya. (Pixabay/MahmurMarganti)
[Ilustrasi anak yatim dan duafa] Lembaga yatim dan duafa menjadi korban lain dari kasus HW, oknum ustad yang melakukan pelecehan seksual terhadap siswinya. (Pixabay/MahmurMarganti)



CILEUNYI, AYOBANDUNG.COM -- Lembaga yatim dan duafa menjadi korban lain dari kasus HW, oknum ustaz yang melakukan pelecehan seksual terhadap siswinya.

Dampak yang terjadi adalah belasan ribu anak yatim harus mengurangi jatah makan.

Sejak kasus HW diekspose secara masif, lembaga yatim dan duafa yang tergabung dalam Forum Komunikasi Lembaga Peduli Yatim dan Dhuafa Jawa Barat mengalami penurunan pendapatan dari titipan sodaqoh dan infak masyarakat sampai 70 persen.

"Kepercayaan masyarakat untuk menitipkan infak dan sodaqoh menjadi berkurang. Banyak yang mengaku tidak percaya, karena adanya kasus oknum pengelola yayasan tersebut," ujar Sekretaris FKL-PYD Jawa Barat, Encep Yuyus, Kamis, 30 Desember 2021.

Padahal, pendapatan utama pengelola lembaga yatim piatu berasal dari donatur. Akibatnya banyak hal yang menjadi terganggu, seperti mengurangi besaran saluran bantuan bagi duafa yang menjadi binaan.

Baca Juga: 10 Rumah Terdampak Longsor di Cicalengka

Di lembaga yang mengurus yatim juga harus melakukan pelbagai efisiensi, seperti mengurangi jatah asupan nutrisi bagi yatim di asrama.

"Ada yang mengurangi jatah makan. Dari biasanya jatah makan itu 3 kali sehari, menjadi 2 kali sehari. Ada juga yang mengurangi nutrisi," ungkapnya.

Tidak hanya itu, kebutuhan untuk proses pembelajaran juga dikurangi, seperti mengurangi jatah buku anak untuk sekolah, kitab untuk pembelajaran keagamaan.

FKL-PYD Jawa Barat sendiri terdiri dari 126 lembaga dengan jumlah anak yatim yang diurus mencapai 16.000 orang. Seluruh anak yatim tersebut secara tidak langsung turut menjadi korban dari aksi yang dilakukan oleh HW.

"Perbuatan bejat tersebut dilakukan oleh oknum. Kami yang mendapat titipan untuk mengurus yatim mulai dari pendidikannya, sampai hal lainnya menjadi terimbas," ujarnya.

Dia berharap agar masyarakat bisa lebih mengerti kalau banyak lembaga yatim dan duafa yang tidak bersalah, namun turut menjadi kambing hitam karena kasus HW.

Baca Juga: Gara-gara Kasus HW, Pendapatan Ratusan Yayasan Yatim di Jabar Turun Drastis

"Kami berharap ada pemberian informasi yang baik kepada masyarakat. Perbuatan tersebut dilakukan oleh oknum, bukan oleh selurh lembaga. Yang terimbas itu anak yatim dan duafa, padahal mereka masih membutuhkan uluran tangan dari masyarakat yang dititipkan melalui lembaga yatim dan duafa. 16.000 anak yatim itu yang tercatat di kami, di luar FKL-PYD mungkin lebih banyak lagi," paparnya.

Padahal, lembaga yatim dan duafa tidak jarang melakukan kebaikan lain dengan menyalurkan bantuan dari donatur dengan pelbagai kegiatan positif, seperti memberi nasi boks gratis setiap Jumat.

Baca Juga: Seorang Remaja Tewas Dibacok Orang Tidak Dikenal

"Dulu kami bisa memberikan 1.000 boks nasi setiap Jumat, sekarang 100 juga susah karena pemberi donasi merasa takut,"uajrnya.

Dia juga berharap imbas dari kasus HW tidak berkepanjangan dan anak yatim tidak lagi mendapat pengurangan jatah makan dan fasilitas pendidikan. [*]

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X