Usia Waduk Saguling di KBB Terus Menyusut, Apa Penyebabnya?

- Kamis, 16 Desember 2021 | 09:34 WIB
Citarum menyebabkan usia Waduk Saguling di KBB terus menyusut tinggal 18 tahun lagi dari usia seharusnya yakni 20 tahun lagi. (Ayobandung.com/Restu Nugraha)
Citarum menyebabkan usia Waduk Saguling di KBB terus menyusut tinggal 18 tahun lagi dari usia seharusnya yakni 20 tahun lagi. (Ayobandung.com/Restu Nugraha)

NGAMPRAH, AYOBANDUNG.COM -- Laju sedimentasi di daerah aliran sungai (DAS) Citarum menyebabkan usia Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Waduk Saguling di Kabupaten Bandung Barat (KBB), terus menyusut tinggal 18 tahun lagi dari usia seharusnya yakni 20 tahun lagi.

Berdasarkan hasil studi batimetri atau pengukuran ke dalam air di Waduk Saguling oleh PT Indonesia Power, terjadi percepatan sedimentasi Waduk Saguling sejak beberapa tahun terakhir. 

"Hasil studi batimetri atau pemetaan bawah air untuk mengukur kedalaman, ada percepatan sedimentasi yang menyebabkan usia Waduk Saguling untuk pemakaian PLTA tinggal 18 tahun lagi," kata General Manager PT Indonesia Power Saguling POMU, Rudiansyah saat ditemui beberapa waktu lalu. 

Baca Juga: 2 Link Pengumuman Hasil Ujian PPPK Tahap 2 Guru, Diumumkan 16 Desember 2021

Percepatan sedimentasi berupa endapan lumpur dan tanah ini disebabkan beberapa faktor, yakni sistem pertanian dengan metode terasering vertikal, masih maraknya kolom jaring apung (KJA), dan terowongan air Curug Jompong. 

Dari ketiga faktor ini, KJA menjadi penyumbang sedimentasi paling rendah dengan presentasi tak lebih dari 1 persen. Sumbangan paling besar justru berasal dari terasering vertikal dan terowongan air Curug Jompong. 

"Kita masih menemukan banyak petani di kawasan hulu waduk Saguling memakai terasering vertikal karena kalau pakai horizontal menyebabkan air tertahan dan tanaman membusuk," jelasnya.

Baca Juga: HP Vivo Terbaru Rilis 22 Desember, Berapa Harga Vivo S12 Series?

Sistem pertanian dengan metode terasering vertikal ini sangat berdampak besar tergerusnya lapisan tanah saat hujan deras datang. Sama halnya dengan Curug Jompong, di satu sisi langkah ini berhasil menjadi solusi banjir di kawasan Kabupaten Bandung, sisi lainnya justru mempercepat sedimentasi.

Halaman:

Editor: Eneng Reni Nuraisyah Jamil

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X