Mengenal Upacara Serepan Patalekan dan Pamitan yang Ditetapkan Warisan Budaya Tak Benda

- Senin, 13 Desember 2021 | 12:54 WIB
Upacara Serepan Patalekan Kampung Pasir Ipis Desa Jayagiri Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. (dok. Disparbud Kabupaten Bandung Barat)
Upacara Serepan Patalekan Kampung Pasir Ipis Desa Jayagiri Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. (dok. Disparbud Kabupaten Bandung Barat)

NGAMPRAH, AYOBANDUNG.COM -- Dua karya budaya asal Kabupaten Bandung Barat (KBB) yakni Upacara Serepan Patalekan dan Upacara Pamitan atau Sadu Puhun, ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak benda (WBTb) tingkat Provinsi Jawa Barat.

Karya budaya yang masuk dalam kategori adat istiadat dan ritus masyarakat ini ditetapkan dalam sidang WBTb Disbudpar Provinsi Jawa Barat, di Hotel Papandayan Bandung, Jumat 26 November 2021 lalu.

Kepala Seksi Bina Budaya pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Bandung Barat, Hernandi Tismara mengatakan ditinjau dari aspek sejarah Upacara Serepan Patalekan adalah upacara buhun yang diciptakan dan digagas oleh Abah Aleh seorang tokoh pencak silat pendiri Paguron Panglipur pada 1909.

Baca Juga: Upacara Serepan Patalekan dan Upacara Pamitan Ditetapkan Warisan Budaya Tak Benda

Upacara Serepan Patalekan berasal dari Kampung Pasir Ipis Desa Jayagiri Kecamatan Lembang. Tradisi upacara serepan patalekan dilakukan sebagai standar kompetensi untuk menguji tingkatan-tingkatan pesilat di Paguron panglipur.

"Selain untuk menguji kekuatan pesilat, upacara serepan patalekan juga dilakukan pada waktu akan menghadiri undangan pentas ke luar negeri yaitu sebagai tim atraksi dan promosi penca silat ke Amerika Serikat tahun 1988," katanya, Senin, 13 Desember 2021.

Upacara Serepan Patalekan Kampung Pasir Ipis Desa Jayagiri Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. (dok. Disparbud Kabupaten Bandung Barat)

Saat itu, lanjut Hernandi, semua peserta yang akan berangkat ke Amerika Serikat harus mandi air kembang 7 rupa yang sudah dijiad atau dijampi oleh abah Aleh.

Saat ini, Serepan Patalekan dilakukan pada murid yang telah menguasai jurus tertentu dan dianggap mumpuni, sehingga perlu ada upacara menyentukan rasa dan raga dengan doa dan unsur alam semesta seperti air, bunga, tumbuhan serta sesajian lainnya.

Halaman:

Editor: Fira Nursyabani

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X