100 Tahun Gedong Tjai Tjibadak: Meretas Sejarah dan Jalan Terjal Melindungi Mata Air di Bandung

- Senin, 29 November 2021 | 13:55 WIB
Gedong Tjai Tjibadak, di Jalan Cidadap Girang, RT 3 RW 5, Kelurahan Ledeng, Kecamatan Cidadap, Kota Bandung. (Ayobandung.com/Restu Nugraha)
Gedong Tjai Tjibadak, di Jalan Cidadap Girang, RT 3 RW 5, Kelurahan Ledeng, Kecamatan Cidadap, Kota Bandung. (Ayobandung.com/Restu Nugraha)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Gedong Tjai Tjibadak, di Jalan Cidadap Girang, RT 3 RW 5, Kelurahan Ledeng, Kecamatan Cidadap, Kota Bandung, akan menginjak usia ke-100, pada 29 Desember 2021 mendatang.

Bangunan penampungan air yang dibuat Belanda ini memasok kebutuhan hampir seluruh warga Bandung. Gedungnya dari luar terlihat masih terawat dan berdiri kokoh. Sejak diresmikan 1921, bentuknya masih utuh seperti awal dibangun.

Namun, serupa mengidap tumor, Gedong Tjai Tjibadak sebenarnya tengah digerogoti penyakit ganas dari dalam yang menunggu akhir hayat. Fungsinya sebagai reservoir (sumur penampung) perlahan memudar seiring debit air dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan.

"Awalnya 50 liter per detik, sekarang anjok 18 liter per detik," kata Peneliti Geoteknologi LIPI, R Fajar Lubis saat menjadi pemateri acara Geourban#3 Ledeng yang diadakan Asosiasi Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI) di heritage Gedong Tjai Tjibadak, Jalan Cidadap Girang, RT 3 RW 5, Kelurahan Ledeng, Kecamatan Cidadap, Kota Bandung, Sabtu 30 Oktober 2021 lalu.

Baca Juga: Peringati Sumpah Pemuda, Sejumlah Komunitas Tanam Pohon dan Bersihkan Gedong Cai Tjibadak

Fajar memaparkan sumber air Gedong Cai Cibadak berasal dari air tanah yang berasal dari pegunungan di wilayah Bandung utara. Jika merujuk siklus air hujan di negara tropis termasuk di Bandung, tak ada perubahan signifikan pada siklus tersebut.

Artinya, penurunan debit di Gedong Cai Cibadak besar kemungkinan karena hilangnya daerah tangkapan air atau ekploitasi air tanah berlebih di wilayah yang lebih tinggi dari sumber air Gedong Cai Cibadak. Kondisi ini bisa dilihat dari posisi Gedong Cai Cibadak berada. Bangunan itu berdiri di tengah kepungan pemukiman mewah, hotel, dan tempat wisata.

"Siklus air di kita kan masih tetap. Bisa jadi karena ada pengeboran di daerah hulu atau tangkap airnya hilang," tambah Fajar.

Menurut Fajar, jumlah mata air di Kota Bandung saat ini tinggal tersisa 80. Duhulu jumlahnya bisa jadi lebih banyak, terbukti dengan berlimpahnya penampakan rawa, seke, leuwi, dan danau di Bandung. Kondisi ini mesti jadi kekhawatiran semua pihak agar sumber-sumber air di Bandung segera dikonservasi.

Halaman:

Editor: Fira Nursyabani

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X