Ekonomi Jabar AKan Tumbuh Setelah Pandemi, Vaksinasi Jadi Kunci

- Kamis, 18 November 2021 | 21:16 WIB
Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum meyakini ekonomi Jawa Barat akan tumbuh setelah pandemi atau kembali tumbuh positif tahun depan. (Ayobandung.com/Kavin Faza)
Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum meyakini ekonomi Jawa Barat akan tumbuh setelah pandemi atau kembali tumbuh positif tahun depan. (Ayobandung.com/Kavin Faza)


LENGKONG, AYOBANDUNG.COM — Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum meyakini ekonomi Jawa Barat akan tumbuh setelah pandemi atau kembali tumbuh positif tahun depan, bahkan bisa merata dan berkeadilan.

Angka Covid-19 yang terus menurun jadi salah satu indikator kebangkitan ekonomi di tanah pasundan.

Uu mengatakan, potensi kebangkitan ekonomi Jawa Barat sudah terasa dari saat ini. Bahkan, walaupun masih dalam masa pandemi dan PPKM level 3, namun ekonomi tetap tumbuh.

"Hari ini tercatat pertumbuhan ekonomi Jawa Barat mencapai 6,13 persen. Insyaallah tahun 2022 akan berjalan baik, ekonomi dan kesejahteraan masyarakat akan meningkat," ujar Uu saat Webinar yang dilakukan oleh Warta Ekonomi.

Pandemi Covid-19, memang memberi dampak terhadap pereokonomian Jawa Barat. Bahkan pada awal penerapan PPKM ekonomi Jawa Barat sampai terjun diangka minus 5 persen.

Namun seiring berangsurnya mobilitas masyarakat dengan kebiasaan baru, ekonomi terus tumbuh bahkan sudah berada lebih dari 6 persen.

Kembali tumbuhnya ekonomi akan dimanfaatkan Pemprov Jabar untuk dijadikan sebagai momentum peningkatan pertumbuhan ekonomi yang memiliki unsur berkeadilan.

"27 kota/kabupaten, 5312 desa, 700 kelurahan juga menikmati peluang-peluang ekonomi sehingga ada unsur pemerataan," katanya.

Di samping itu, lanjut dia, bukan hanya merata tapi juga ada unsur keadilan sehingga yang menikmati peluang ekonomi dan meningkatnya ekonomi dari tahun ke tahun bukan hanya kelompok, keluarga, komunitas atau grup yang itu-itu saja, tapi 50 juta penduduk Jabar dan sekitar 30 persen yang menjadi pelaku ekonomi ingin menikmati juga peluang-peluang ekonomi.

"Jadi tiga indikator keberhasilan ekonomi di Jabar yaitu ekonominya meningkat, di dalamnya ada keadilan dan ada pemerataan," kata Uu.

Direktur Eksekutif & Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Barat Herawanto menuturkan, Provinsi Jawa Barat termasuk salah satu provinsi yang cukup resilient ekonominya bila dibandingkan provinsi lain terutama di pulau Jawa.

Pada triwulan II 2021, ekonomi Jabar mencatatkan pertumbuhan positif di angka 6,17 persen (yoy), namun dengan diberlakukannya PPKM level 4 pada Juli hingga Agustus 2021 yang berdampak pada penurunan aktivitas membuat melambatnya pertumbuhan ekonomi Jabar menjadi 3,43 persen (yoy) di triwulan III 2021.

"Namun dengan perlambatan yang terjadi kita juga melihat ekonomi Jabar termasuk salah satu yang cukup resilient. Dengan berbagai perkembangan dan dinamika saat ini PPKM yang telah dilonggarkan maka ekonomi Jabar kembali meningkat yang didasarkan pada pergerakan masyarakat yang mningkat dan mengiringi aktivitas ekonomi yang kembali meningkat," sebut Herawanto.

Meski demikian, Direktur Hubungan Kelembagaan PT Bio Farma (Persero) Sri Harsi Teteki mengingatkan, kesehatan tetap menjadi yang utama dalam mendorong pemulihan ekonomi nasional termasuk di Jawa Barat.

Menurutnya, tanpa memprioritaskan kesehatan maka ekonomi akan hancur. Makanya ia tetap mendorong Vaksinasi yang terus dilakukan pemerintah dan disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan.

"Untuk itu salah satu mengendalikan pandemi ini ialah vaksin. Vaksin sangat strategis karena merupakan elemen penting yang menjadi prioritas kesehatan masyaraka. Tanpa kesehatan, ekonomi kita akan hancur," ungkapnya.

Baca Juga: Domba Garut Bakal Hijrah ke Bandung Barat Bantu Ekonomi Warga

Sementara itu, Direktur Bisnis Jaringan dan Layanan Keuangan PT Pos Indonesia Charles Sitorus mengungkapkan, fokus Pos Indonesia saat ini adalah berupaya memenuhi kebutuhan pasar. Pasalnya, terdapat pergeseran yang terjadi pada operasional Pos Indonesia, yang tadinya berupa surat beralih menjadi paket.

"Ini menyebabkan kami harus melakukan perubahan infrastruktur kami, baik yang sifatnya keras maupun lunaknya. Keduanya kita lakukan dan ini sedang berjalan," jelas Charles.

Selain itu, juga terdapat perubahan dari sisi permintaan pasar. Kini, pelanggan meminta agar barangnya dijemput, mengutamakan kecepatan, hingga menimbang biaya yang diperlukan untuk pengiriman. "Nah, ini memang kuncinya di digitalisasi sebenarnya. Kami mengembangkan program PosAja! di mana pelanggan Pos bisa melakukan order lewat aplikasi itu," tambahnya.

Aplikasi PosAja! juga menyediakan pengiriman yang sifatnya instan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang ingin barang kirimannya cepat sampai. Akan tetapi, kata Charles, Pos Indonesia memiliki sistem yang sedikit berbeda dengan jasa pengiriman instan lainnya.

"Kiriman paket ini biasanya ada konsep konsolidasi dan kirimannya antarkota, kalau ojol kan hanya satu kota. Jadi, semua kombinasinya kami lakukan," tandasnya.

Dalam diskusi yang sama, Direktur Strategi Bisnis PT Pindad (Persero) Syaifuddin secara garis besar Pindad mempunyai dua lini bisnis yaitu dibidang pertahanan dan industrial. Pindad sendiri bertekad untuk menjadi top 100 perusahaan pertahanan global di 2024.

"Strategi utama yang kita lakukan untuk mencapai itu adalah membangun ekosistem end to end untuk produk strategis dan berkolaborasi dengan mitra kita. Dan kami bersinergi dengan 271 perusahaan di dalam negeri," pungkas Syaifuddin.

Dalam kolaborasi itu, lanjut dia, ada pula UMKM yang bekerja sama dan memiliki kompetensi untuk mengembangkan produk-produk unggulan nasional. Menurutnya dalam memproduksi senjata, Pindad tidak sendirian. Pindad bersama-sama 17 perusahaan lokal dan UMKM memproduksi senjata dengan melibatkan sekitar 3269 tenaga kerja.

"Kami yakin bahwa kolaborasi menjadi poin penting dalam membangun kualitas produk, di samping kolaborasi menjadi salah satu tools untuk melakukan efisiensi dan mmperkuat daya saing kita. Dan kita masih terus membuka bagi mitra lokal kita yang memiliki kompetensi di bidang ini untuk sama-sama meningkatkan kemampuan dan kualitas produk yang kita miliki," jelasnya.

Selanjutnya untuk kendaraan tempur, pihaknya bahkan melibatkan 30 perusahaan lokal dan UMKM dengan melibatkan 2.310 tenaga kerja.

"Jadi intinya semua lini produk yang ada di Pindad melakukan konsep yang sama, dan pasca pandemi kami siapkan strategi untuk meningkatkan kapasitas. Dan kita berharap akan menyerap jauh lebih banyak mitra-mitra lokal yang ada di Jabar untuk melakukan kolaborasi strategis," tutur Syaifuddin. [*]

Baca Juga: Indonesia Digital Confrence: Digitalisasi Desa Bakal Jadi Mesin Penggerak Ekonomi

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terkait Pertalite Terasa Lebih Boros, Ini Kata Pertamina

Jumat, 23 September 2022 | 14:26 WIB

Prospek Tanaman Karnivora yang Beromzet Jutaan Rupiah

Selasa, 20 September 2022 | 16:54 WIB

Gaji Kru Doni Salmanan Lebih Besar dari UMK Bandung

Senin, 19 September 2022 | 17:20 WIB
X