Mengenang Sejarah Perjalanan Damri: Bagi Kami Damri Saksi Perjuangan Hidup

- Jumat, 12 November 2021 | 16:15 WIB
Mengenang sejarah perjalanan Damri, bagi sebagian orang mungkin hanya sebuah bus. Tapi, bagi sebagian lainnya jadi saksi perjuangan hidup. ilustrasi (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)
Mengenang sejarah perjalanan Damri, bagi sebagian orang mungkin hanya sebuah bus. Tapi, bagi sebagian lainnya jadi saksi perjuangan hidup. ilustrasi (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)
 
ARCAMANIK, AYOBANDUNG.COM -- Mengenang sejarah perjalanan Damri, bagi sebagian orang mungkin bus Damri hanya sebuah moda transportasi yang sesekali digunakan dalam situasi tertentu. Bagi sebagian orang lagi mungkin hanya sebuah kendaraan besar yang sering berhenti seenaknya dan mengganggu kelancaran arus lalu lintas.
 
Tapi, bagi sebagian orang lainnya Damri merupakan pahlawan dari perjuangan hidup. Mungkin sebagian dari pembaca mengerutkan dahi ketika membaca kalimat sebelumnya. 
 
Namun, bagi kami para pengguna setia Damri paham makna dari kalimat untuk mengenang sejarah perjalanan Damri: "Damri merupakan pahlawan dari perjuangan hidup".
 
 
Kisah saya jadi pengguna setia Damri berawal dari tahun 2009 ketika saya memasuki jenjang pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan memilih salah satu SMK swasta di Kota Bandung.
 
Karena saya berdomisili asli dari Tanjungsari, Kabupaten Sumedang maka setiap harinya harus menempuh perjalanan menggunakan Damri rute 8 jurusan Tanjungsari-Kebon Kalapa untuk mencapai sekolah.
 
Pukul 4:30 pagi saya harus bergegas setiap harinya agar tak ketinggalan bus Damri pertama yang berangkat ke Bandung. 
 
Biasanya, bus pertama ini diburu berbagai kalangan dari mulai pedagang, karyawan, hingga pelajar. Kami semua berdesakkan dalam bus yang kala itu masih jadul hingga tak jarang bus agak miring ke sebelah kiri akibat penuhnya penumpang.
 
 
Mengenang sejarah perjalanan Damri (Ayobandung.com/Fathia Uqimul Haq)
 
Terkadang, bus yang sudah usang ini mengepulkan asap hitam yang tak jarang mengganggu pengguna jalan lain. 
 
Pernah satu waktu ada celotehan dari salah satu penjual peuyeum yang berkelakar.
 
"Mun ditanya kumaha carana urang ngahirupan keluarga? Wareg ku nyeuseupan kebul Damri (kalau ditanya bagaimana cara saya menghidupi keluarga, saya kenyang dengan menghirup asap Damri)."
 
Banyak dari kami yang menggunakan Damri sebagai tumpuan dalam perjalanan hidup. Baik yang mencari nafkah, menuntut ilmu hingga sekadar bertamasya ke Kota Kembang. 
 
 
 
Bak disambar petir, datanglah kabar Damri berhenti beroperasi. Tepatnya mulai Kamis, 28 Oktober 2021 Damri mengeluarkan pengumuman resmi penghentian operasi sementara. 
 
Setelah isu berkembang, ternyata Damri mengalami kerugian sebesar Rp220 Milyar akibat hantaman badai pandemi di tahun 2020.
 
Setelah sebelumnya santer kabar karyawan Damri yang gajinya belum dibayarkan selama 7 bulan, berita berhentinya Damri bagaikan berita duka bagi kami semua. 
 
Bagaimana tidak, setiap hari selama bertahun-tahun lamanya banyak orang yang menggantungkan hajat hidup dengan beroperasinya Damri ini. 
 
 
Kami paham betul, para karyawan Damri ini harus rela berangkat pukul 2 pagi dari Tanjungsari untuk mengambil bus dari Pool Damri yang berada di Jalan Soekarno-Hatta ke Tanjungsari agar bisa mengantarkan kami ke Kota Bandung tepat waktu. 
 
Angkutan Klasik Damri; Mengenang sejarah perjalanan Damri
 
Kami selaku pengguna setia Damri pada masa tertentu sangat sedih, ketika perusahaan yang selama ini membantu meringankan kami dalam urusan transportasi justru harus tersungkur tak bisa lagi berjuang membantu masyarakat yang betul-betul mengandalkan Damri setiap harinya.
 
 
Banyak kenangan tercipta dalam bus yang kadang kala mogok di tengah perjalanan akibat termakan usia ini. Canda, tawa, tangis, marah dan kecewa pernah saya alami selama saya menggunakan Damri. 
 
Saya ingat betul perjalanan terakhir saya di sekitar tahun 2016 dengan bus kode 2209 dengan supir Pak Joy didampingi Mas Sugeng sebagai kondektur. 
 
Yang menjadi kenangan, supir, kondektur dan bus yang saat itu saya gunakan akan memasuki masa pensiun dan dilakukan peremajaan, seolah menjadi perjalan terakhir yang mengharukan. 
 
 
Saya yakin, setiap orang memiliki ceritanya tersendiri saat mengenang sejarah perjalanan Damri. Yang jelas, bagi saya Damri adalah saksi perjuangan hidup di mana saya berjibaku dengan dinginnya pagi untuk menuntut ilmu hingga mencapai titik dimana hari ini saya bisa menulis kenangan dan sejarah perjalanan Damri ini. 

Editor: Eneng Reni Nuraisyah Jamil

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sepeda Listrik Ramah Lingkungan Hadir di ITB

Rabu, 5 Oktober 2022 | 19:51 WIB
X