Makam Tua di Cimahi: Zaman Hindu-Budha, Kerajaan Sunda, hingga Era Kolonial

- Minggu, 7 November 2021 | 13:56 WIB
Kota Cimahi memiliki kekayaan peninggalan sejarah bernilai luar biasa. Mulai dari bangunan, artefak, hingga nisan-nisan makam tua. (Dok. Komunitas Tjimahi Heritage)
Kota Cimahi memiliki kekayaan peninggalan sejarah bernilai luar biasa. Mulai dari bangunan, artefak, hingga nisan-nisan makam tua. (Dok. Komunitas Tjimahi Heritage)


CIMAHI, AYOBANDUNG — Kota Cimahi memiliki kekayaan peninggalan sejarah bernilai luar biasa. Mulai dari bangunan, artefak, hingga nisan-nisan makam tua, banyak ditemukan di kota ini.

Keberadaan makam tua di Cimahi bahkan melintasi berbagai zaman. Mulai dari zaman Hindu-Budha, Kerajaan Sunda, Penyebaran Islam, hingga Era Kolonial.

Selain bukti konkrit di lapangan, eksistensi makam tua di Cimahi juga tercatat dalam tulisan atau jurnal perjalanan orang-orang Eropa. Salah satunya seorang Naturalis Jerman bernama Salomon Muller.

Muller adalah salah satu anggota Natuutkundige Commissie voor Nederlandsch-Indie atau Komisi Ilmu Alam Hindia Belanda yang ditugaskan untuk meneliti kondisi geografis, flora, dan fauna di Priangan.

Dalam laporan perjalanan Muller pada 3 Januari 1833, ia menemukan sebuah makam tua di Distrik Cilokotot atau sekarang dikenal Cimahi, tepatnya di daerah Jambu Dipa atau kawasan Cisarua, sekarang.

Dahulu Cimahi merupakan daerah di bawah distrik bernama Cilokotot yang merupakan bagian dari Kabupaten Bandung. Wilayah Cilokotot meliputi daerah setingkat kecamatan (onderdistrik) yaitu Cimahi, Padalarang, Batujajar, dan Cisarua.

Menurut Muller, makam tersebut terdapat di Kaki Gunung Burangrang, tepatnya di kebun Kopi Jambu Dipa. Strukturnya berupa tanah yang dikelilingi oleh kanal cukup dalam. Di tengah-tengahnya terdapat makam tua berupa batu memanjang ditutupi pohon hanjuang.

"Jika kita pergi ke hutan di sekitar Burangrang , kita akan temukan makam-makam tua di kebun Kopi Jambu Dipa. Strukturnya berupa struktur tanah yang dikelilingi oleh kanal cukup dalam.

Menurut warga setempat, itu merupakan sisa-sisa peradaban lampau, mereka menyebutnya Negara Dalam Djamboe Diepa. Di tengah-tengahnya ada makam tua beruapa batu memanjang ditutupi pohon hanjuang. Penduduk Cilokotot sampai sekarang masih menghormati tempat itu
," tulis Muller dilansir dari Buku Naturalis Jerman di Tanah Priangan (2021).

Kota Cimahi memiliki kekayaan peninggalan sejarah bernilai luar biasa. Mulai dari bangunan, artefak, hingga nisan-nisan makam tua. (Dok. Komunitas Tjimahi Heritage)

Ketua Komunitas Tjimahi Heritage, Machmud Mubarok mengatakan, jika melihat gambaran makam tua yang ditulis Muller, besar kemungkinan makam tersebut adalah peninggalan Sunda Kuno.
 
Pasalnya, cerita tentang pohon hanjuang yang dikaitkan dengan kematian terdapat dalam kisah peperangan Sumedang Larang dengan Cirebon.  
 
"Ini adalah tipikal makam sunda kuno. Kalau kita pernah mendengar cerita Sumedang Larang ketika berperang dengan Cirebon, penandanya adalah pohon hanjuang," kata  Machmud dalam acara Diskusi Virtual Makam-makam Tua di Cimahi, Sabtu 6 November 2021. 
 
Makam Tua di TPU Cipageran
 
Keberadaan makam-makam tua di Cimahi tersebar di hampir seluruh kecamatan. Terletak di pemakaman umum atau milik pribadi, salah satunya di TPU Cipageran.
 
TPU Cipageran berada tak jauh dari Kampung Buyut Cipageran (Kabuci) di Kota Cimahi yang konon sudah berdiri sejak abad ke-17. Wilayah Cipageran berbatasan dengan daerah Jambu Dipa atau wilayah Negara Dalam Cisarua.
 
Komunitas Tjimahi Heritage menyebut, di TPU Cipageran terdapat makam tua tokoh bernama  Wirasuta Widjaya dan Istri Patimah Sekarwangi. Masyarakat Kabuci meyakini Wirasuta adalah orang pertama yang membangun Desa Cipageran. 
 
"Belum ada cerita jelas kapan tokoh ini hidup dan meninggal di tempat itu. Namun berdasarkan cerita masyarakat adat Cipageran, ia hidup sekitar abad ke-17 atau sekitar tahun 1600-an dan membangun Desa Cipageran," papar  Machmud. 
 
Selain makam Wirasuta Widjaya, di TPU ini juga terdapat makam seorang pangeran raja di Cirebon, bernama Soebrata Warsokusuma serta makam-makam muslim yang ditandai batu tanpa nisan. 

"Di TPU Cipageran memang banyak makam tua, ada makam Raden Roro Nitimirah istri Patih Sumedanglarang, Harjawinata. Ada pula makam keluarga Hardjakusumah yang pernah menjadi wedana di Cimahi, dan banyak lagi," jelasnya.
 
Makam Orang Belanda
Kota Cimahi memiliki kekayaan peninggalan sejarah bernilai luar biasa. Mulai dari bangunan, artefak, hingga nisan-nisan makam tua. (Dok. Komunitas Tjimahi Heritage)
Makam orang-orang belanda berada di Ereveld Leuwigajah. Pertama kali diresmikan tanggal 20 Desember 1949. Menampung sekitar 5.600 jasad di luas lahan sekitar 3 hektar.
 
Mayoritas orang Balenda yang dikubur di sini merupakan tawanan tentara Jepang di kamp konsentrasi di wilayah Kota Cimahi. Mereka yang gugur bukanlah mati di tengah medan perang, melainkan akibat kekejaman tentara Jepang saat itu.
 
Tokoh Belanda paling terkenal di tempat ini adalah Herman Thomas Karsten, ia merupakan arsitek asal Belanda yang meninggalkan jejak berupa desain tata kota Semarang, Pasar Gede Surakarta, Pasar Cinde Palembang, Istana dan Masjid Besar Mangkunegara.    
 
"Selain di Kerkof dan Ereveld Leuwigajah, pemakaman orang belanda ada pula ditemukan di TPU Baros (ada satu tersembunyi dan masih utuh), kemudian di daerah Gunung Bohong yang kemudian dipindahkan ke Kerkof," jelas Machmud.
 
Makam Kaum
Kota Cimahi memiliki kekayaan peninggalan sejarah bernilai luar biasa. Mulai dari bangunan, artefak, hingga nisan-nisan makam tua. (Dok. Komunitas Tjimahi Heritage)
Pemakaman tua lainnya di Cimahi terdapat di dekat Kompleks Masjid Agung Cimahi. Di tempat ini terdapat makam orang-orang yang menghibahkan atau mewakafkan tanahnya untuk  Masjid Agung Cimahi
 
Konon, Masjid Agung Cimahi di Bangun tahun 1817 atau 7 tahun setelah selesai pembangunan Jalan Raya Pos oleh seorang bernama H Nasir.
 
Namun, klaim waktu pembangunan masjid ini tak bisa dipertanggungjawabkan, karena hanya berdasarkan sebuah foto tahun 1895 ketika Masjid Agung Cimahi belum ada.
 
"Istilah Kaum ini berkaitan dengan masjid, di sini makam pendiri atau orang-orang yang mewakafkan tanahnya untuk Masjid Agung Cimahi, ini makam keluarga H. Nasir," papar  Machmud.
 
Terlepas dari kedua klaim itu,  Machmud melihat makam di tempat itu terlihat lebih tua karena dilihat dari sebagian nisan mirip pedagang gujarat.
 
"Kalau dilihat dari nisan, ini makam bergaya Gujarat. Tapi kita gak tahu mana yang benar karena belum ada catatan resminya," jelasnya.  

Tak jauh dari kompleks Makam Kaum, ada sebuah makam bernama Mbah Panjang. Kondisi di lokasi, makam tersebut tergerus longsor karena berada di lereng.
 
 
Makam Wali Kundu di Leuwigajah

Makam Enyang Dalem Santoan Wali Kundu terletak di gang keramat, Leuwigajah. Wali Kundu adalah cucu dari Adipati Kertamanah, seorang keturunan kelima dari Prabu Siliwangi yang dimakamkan di daerah Soreang.

Adipati Kertamanah mempunyai cucu, Eyang Santoan Kobul, Santoan Kundu, dan Santoan Kulur. Makam tersebut diduga dibuat sekitar tahun 1500.
 
"Wali Kundu dan 2 saudaranya adalah orang-orang penyebar agama Islam di daerah Leuwigajah," kata Machmud. 
 
Makam Utsman Dhomiri dan Mbah Dalem Tumpang
 
K.H. Utsman Dhomiri adalah pemimpin Tarekat Tijaniyah yang berasal dari Hadramaut Yaman.
 
Makamnya terletak di kawasan Padasuka, Cimahi. Selain pemimpin tarekat, Ia juga tokoh pejuang yang memimpin laskar-laskar melawan Belanda dan meninggal tahun 1955.
 
Sedangkan makam Mbah Dalem Tumpang berada di daerah Gandawijaya, belakang pertokoan. Di tempat itu terkubur pula istri Dalem Tumpang, Raden Linggar. 
 
Sosok Mbah Dalem tumpang dalam banyak versi. Ada yang menyebutnya perwira Mataram. Ada pula yang menyatakan putra dari Pangeran Syamsudin dari Cirebon, karena lama mencari ilmu ke Mataram, lalu tinggal Cimahi.
 
Ia menikah dengan putri bupati Bandung, Angga Direja II sekitar tahun 1700-an.

"Antara versi satu dan versi dua sangat jauh tahunnya. Mataram ketika ke Priangan 1628, kalau ini 1700 beda 1 abad. saya percaya versi kedua karena merujuk silsilah keluarga," pungkasnya. [*]
 

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

ODGJ dan Disabilitas Cimahi Bakal Dibuatkan KTP

Selasa, 30 November 2021 | 17:24 WIB
X