Sekolahnya Langganan Banjir, Siswa SDN 7 Dayeuhkolot Belajar untuk Olimpiade di Pengungsian

- Jumat, 5 November 2021 | 15:50 WIB
Ruang kelas SDN 7 Dayeuhkolot terendam banjir. (Ayobandung.com/Hengky Sulaksono)
Ruang kelas SDN 7 Dayeuhkolot terendam banjir. (Ayobandung.com/Hengky Sulaksono)



DAYEUHKOLOT, AYOBANDUNG.COM -- Sekolah yang selalu menjadi langganan banjir tak lantas membuat siswa SDN 7 Dayeuhkolot surut akan prestasi. Sejumlah prestasi akademik dan olahraga pernah disabet di SD yang berada di Kampung Bolero, Desa Dayeuhkolot, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung tersebut.

SDN 7 Dayeuhkolot, memang menjadi langganan banjir. Lokasinya yang berdampingan dengan Sungai Citarum membuat bangunan selalu terendam air saat banjir menerjang Dayeuhkolot, Bojongsoang, dan Baleendah.

"Beberapa prestasi alhamdulillah bisa didapat, walaupun setiap tahun selalu tergenang banjir," ujar Gartina Rismayani, salah seorang guru di SDN 7 Dayeuhkolot, Jumat, 5 November 2021.

Baca Juga: Daftar Wilayah Bandung yang Terdampak Gangguan PDAM Tirta Raharja

Prestasi paling berkesan yang dirasakan Gartina terjadi pada 2016 lalu. Waktu itu, banjir sedang menggenang kawasan Kabupaten Bandung, termasuk SDN 7 Dayeuhkolot.

Salah seorang anak didiknya sedang berada di pengungsian. Padahal siswa tersebut sedang dalam persiapan mengikuti Olimpiade MIPA tingkat Provinsi Jawa Barat.

SDN 7 Dayeuhkolot pada waktu itu, menjadi perwakilan olimpiade MIPA tingkat Jawa Barat setelah berhasil menjadi juara 2 tingkat Kabupaten Bandung.

Gartina terpaksa harus bolak-balik ke pengungsian untuk membimbing anak didiknya agar saat pelaksanaan olimpiade tingkat Provinsi Jawa Barat berjalan lancar. Kondisi sekolah yang terendam banjir, membuat pembelajaran tidak bisa dilakukan dengan lancar.

"Alhamdulillah, masuk finalis, walaupun tidak jadi juara umum," ucapnya.

Baca Juga: Puluhan Korban Banjir Masih Mengungsi Walau Air Sudah Surut di Kabupaten Bandung

Kondisi sekolah, rumah yang kebanjiran mungkin mempengaruhi anak didik Gartina ketika mengikuti olimpiade MIPA tingkat Provinsi Jawa Barat. Belajar dalam keterbatasan ketika di pengungsian juga bisa menjadi salah satu pengganggu konsentrasi. Berbeda dengan peserta lain yang memiliki suasana yang lebih nyaman dan tenang dalam belajar.

Tidak hanya dalam MIPA, SDN 7 Dayeuhkolot juga pernah menyabet juara 1 lomba Calistung tingkat Kabupaten Bandung pada 2011.

Juga pernah menjadi juara harapan cabang olah raga Sepak Takraw dalam O2SN Tingkat Kabupaten Bandung. "Banyak sebenarnya prestasi yang ditorehkan," ujarnya.

Tidak hanya siswa, guru di SDN 7 Dayeuhkolot juga memiliki prestasi yang memukau. Salah satunya 3 orang guru yang terlibat dalam riset dengan sebuah universitas di Jepang terkait pendidikan.

Tiga orang guru tersebut adalah Gartina Rismayani, Yanti dan Wati Rohmawati. Bahkan, Wati sampai pergi ke Jepang untuk mengikuti kuliah singkat dan melakukan penelitian.

"Penelitiannya tentang pendidikan lingkungan hidup," ujar imbuh Wati.

Untuk bisa mengikuti program tersebut, diharuskan melakukan pendaftaran dan seleksi ketat. Wati menjadi salah satu yang lolos dan bertolak ke Jepang.

Riset yang dikerjasamakan tersebut masih berjalan hingga saat ini. Padahal, status Wati dan Gartina pada waktu itu masih sebagai sebagai guru honorer.

Baca Juga: Banjir Dayeuhkolot, Baleendah, dan Bojongsoang Surut

Wati juga pernah menjadi juara 1 karya tulis ilmiah tingkat wilayah Margahayu. Tulisannya mengenai pendidikan lingkungan di SDN 7 Dayeuhkolot yang membawanya menjadi juara.

"Sebenarnya, asal kita mau bertekad, dalam kondisi apapun bisa berkembang. Sekolah yang sering kebanjiran, tidak harus menyurutkan untuk bisa berprestasi," tutupnya.

Editor: Fira Nursyabani

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X