Pernikahan Anak di Bawah Umur Jadi Masalah Serius di Kabupaten Bandung

- Kamis, 21 Oktober 2021 | 19:45 WIB
[Ilustrasi pasangan menikah] Pemerintah Kabupaten Bandung meminta masyarakat untuk tidak menikahkan anaknya yang masih belia atau dibawah usia 19 tahun.
[Ilustrasi pasangan menikah] Pemerintah Kabupaten Bandung meminta masyarakat untuk tidak menikahkan anaknya yang masih belia atau dibawah usia 19 tahun.

SOREANG, AYOBANDUNG.COM — Pemerintah Kabupaten Bandung meminta masyarakat untuk tidak menikahkan anaknya yang masih belia atau di bawah usia 19 tahun.

Angka pernikahan anak di Kabupaten Bandung dalam 3 tahun terakhir terus mengalami peningkatan. Hingga pertengahan tahun ini, jumlah anak yang menikah mencapai 46,44% dari angka pernikahan secara umum.

Artinya penikahan yang terjadi di Kabupaten Bandung, hampir setengahnya merupakan anak dibawah usia 19 tahun.

Banyak dampak negatif yang diakibatkan oleh pernikahan dibawah usia 19 tahun. Dari sisi kesehatan, perempuan mengandung usia di bawah 19 tahun rawan terhadap kematian, karena rahim yang belum matang.

"Dari sisi ekonomi juga, usia belasan juga masih belum mapan. Sehingga kemungkinan besar akan menggantungkan hidup kepada orang tuanya walaupun sudah berkeluarga," ujar Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Muhammad Hairun, Kamis, 21 Oktober 2021.

Secara psikologis, usia remaja juga masih belum siap memiliki keluarga. Dampaknya, umur pernikahan tidak terlalu lama, karena di usia tersebut, anak masih belum memiliki tanggung jawab terhadap keluarga.

"Risiko perceraian jadi lebih tinggi karena psikologisnya belum matang," katanya.

Salah satu solusi yang dilakukan oleh Pemkab Bandung dalam memerangi pernikahan usia dini adalah dengan membuat program Bedas (Berencana Dewasakan Anak agar Sejahtera) Sapujagat (Akselerasi Pendewasaan Usia Kawin Terjaga Keluarga Sehat).

Hairun menjelaskan, pada praktik di lapangan, program Bedas Sapujagat akan mendorong agar anak didewasakan dulu sebelum dinikahkan agar kualitas keluarga bisa terjaga.

"Masalah pernikahan anak ini harus menjadi komitmen bersama," katanya.

Baca Juga: Hampir 3 Anak Putus Sekolah dan Menikah Dini di Kabupaten Bandung Setiap Hari

Di Lapangan, pihaknya akan membuat buku panduan yang akan disosilaisasikan kepada seluruh pihak, baik ustad, guru ngaji, PKK, dan pihak lainnya. Buku panduan tersebut juga memuat pentingnya mencegah penikahan anak.

"Disosialisasikan juga kaitan Undang-undang Perlindungan Anak yang mana salah satu isinya adalah ancaman pidana bagi orang tua yang memaksakan anaknya menikah," katanya.

Hairun melanjutkan, usia ideal pernikahan adalah 21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi laki-laki. Pada usia tersebut, rata-rata warga Kabupaten Bandung sudah mapan secara ekonomi dan psikologis. [*]

Baca Juga: Angka Pernikahan Anak Kabupaten Bandung Terus Meningkat dalam 3 Tahun Terakhir

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

DBHCHT Kabupaten Bandung Memiliki Nilai Manfaat

Jumat, 3 Desember 2021 | 15:46 WIB

Pemadaman Listrik Bandung Hari Ini 3 Desember 2021

Jumat, 3 Desember 2021 | 10:00 WIB

Kecelakaan di Jalan Kopo-Soreang, Dua Remaja Tewas

Kamis, 2 Desember 2021 | 17:37 WIB

UMK Kabupaten Bandung 2022 Tidak Naik!

Rabu, 1 Desember 2021 | 12:54 WIB

Ribuan Orang Ikuti Gebyar Vaksinasi Polresta Bandung

Selasa, 30 November 2021 | 16:40 WIB

Pemadaman Listrik Hari Ini di Bandung 30 November 2021

Selasa, 30 November 2021 | 09:47 WIB
X