Hampir 3 Anak Putus Sekolah dan Menikah Dini di Kabupaten Bandung Setiap Hari

- Kamis, 21 Oktober 2021 | 16:59 WIB
Jika dirata-rata, setiap hari terdapat lebih dari 2,5 atau hampir 3 anak yang menikah dan dimungkinkan putus sekolah di Kabupaten Bandung. (Pixabay/Tumisu)
Jika dirata-rata, setiap hari terdapat lebih dari 2,5 atau hampir 3 anak yang menikah dan dimungkinkan putus sekolah di Kabupaten Bandung. (Pixabay/Tumisu)



SOREANG, AYOBANDUNG.C0M — Rata-rata anak di Kabupaten Bandung putus sekolah setiap hari karena menikah pada usia dini.

Pandemi Covid-19 dan lingkungan juga menjadi penyebab tingginya angka pernikahan anak hingga menyebabkan putus sekolah.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Muhammad Hairun mengatakan, selama 2021 ini, angka pernikahan anak di Kabupaten Bandung mencapai 46,44 persen.

"Sampai juli 2021, terdapat 679 anak di Kabupaten Bandung yang menikah," ujar Hairun, Kamis 21 Oktober 2021.

Jumlah tersebut masih dimungkinkan terus bertambah, mengingat data yang didapat baru sampai Juli 2021. Sehingga dalam beberapa bulan belakangan masih ada data yang belum terekap.

Jika dirata-ratakan, setiap hari terdapat lebih dari 2,5 atau hampir 3 anak yang menikah dan dimungkinkan putus sekolah.

Pasalnya, kata Hairun, anak yang menikah tersebut berusia dibawah 19 tahun. Jadi masih masuk kategori di bawah umur atau usia sekolah sesuai dengan undang-undang pernikahan.

"Rata-rata anak yang menikah itu berusia 16-18 tahun. Artinya masih usia sekolah. Usia SMP atau SMA," ujarnya.

Ada beberapa penyebab anak menikah diusia dini, seperti pandemi Covid-19, lingkungan, dan sosial budaya, yang terbentuk selama ratusan tahun.

Dia menjelaskan, selama pandemi Covid-19, seluruh sekolah melakukan pembelajaran jarak jauh.

Karena kondisi itu, kata Hairun, anak mencari alasan kepada orang tua untuk bekerja kelompok, namun malah terjebak dalam pergaulan bebas.

"Mungkin karena kurang pengawasan, jadinya anak melakukan pergaulan bebas selama pembelajaran jarak jauh ini," ungkapnya.

Baca Juga: Banyak Anak Perempuan di Cimahi Menikah Dini, Ini Bahayanya

Hal tersebut berdasarkan data yang menunjukan peningkatan drastis pernikahan anak usia dini.

Pada 2020 lalu, total tercatat ada 669 kasus anak yang menikah. Namun tahun ini, baru sampai pertengahan tahun sudah didapatkan data 679 anak yang menikah.

Selain karena pandemi, pernikahan anak juga disebabkan oleh sosial budaya. Di sebagian besar wilayah Kabupaten Bandung masih memiliki sebuah budaya kalau perempuan yang telah berusia 18 tahun atau lebih namun belum menikah akan menerima stigma negatif.

Dari 679 kasus anak yang menikah itu, sebanyak 567 berjenis kelamin perempuan dan 112 laki-laki.

"Ekomomi juga menjadi faktor lainnya. Jadi anak yang sudah dewasa kalau belum menikah, terutama perempuan, masih dianggap beban keluarga," katanya.

Sebagai salah satu upaya yang dilakukan untuk menekan angka pernikahan anak, DP2KBP3A Kabupaten Bandung akan meluncurkan program Bedas Sapujagat. [*]

Baca Juga: Banyak Siswa Menikah Dini dan Putus Sekolah, Gegara Belajar Daring

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

DBHCHT Kabupaten Bandung Memiliki Nilai Manfaat

Jumat, 3 Desember 2021 | 15:46 WIB

Pemadaman Listrik Bandung Hari Ini 3 Desember 2021

Jumat, 3 Desember 2021 | 10:00 WIB

Kecelakaan di Jalan Kopo-Soreang, Dua Remaja Tewas

Kamis, 2 Desember 2021 | 17:37 WIB

UMK Kabupaten Bandung 2022 Tidak Naik!

Rabu, 1 Desember 2021 | 12:54 WIB

Ribuan Orang Ikuti Gebyar Vaksinasi Polresta Bandung

Selasa, 30 November 2021 | 16:40 WIB

Pemadaman Listrik Hari Ini di Bandung 30 November 2021

Selasa, 30 November 2021 | 09:47 WIB
X