Temuan Fosil di Saguling Dilaporkan Sejak 1970, Penelitian Terhenti Setelah Dibangun Waduk

- Kamis, 14 Oktober 2021 | 17:54 WIB
Penemuan fosil gajah di Waduk Saguling jadi titik terang baru bagi ilmu pengetahuan. fosil itu membuktikan gajah pernah pernah hidup di Pulau Jawa lalu punah pada satu waktu. (Ayobandung.com/Restu Nugraha)
Penemuan fosil gajah di Waduk Saguling jadi titik terang baru bagi ilmu pengetahuan. fosil itu membuktikan gajah pernah pernah hidup di Pulau Jawa lalu punah pada satu waktu. (Ayobandung.com/Restu Nugraha)

NGAMPRAH, AYOBANDUNG.COM -- penemuan fosil gajah di Waduk Saguling, Kampung Suramanggala RT 01 RW 01 Desa Baranangsiang, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat (KBB) menjadi titik terang baru bagi ilmu pengetahuan.

fosil gajah tersebut membuktikan bahwa gajah pernah hidup di pula Jawa lalu punah pada satu waktu. Meski begitu, laporan fosil gajah di wilayah Saguling ternyata bukan kali pertama. Badan Geologi telah mencatat laporan fosil sejak tahun 1970.

Badan Geologi pernah kerja sama dengan beberapa ahli dari dalam dan luar negeri seperti Belanda dan Australia. Waktu itu kita mengumpulkan fosil yang ditemukan di daerah kawasan sini sebelum ada waduk. Memang sudah ada laporan," kata Penyelidik Bumi dari Badan Geologi Bandung, Johan Budi Winarto, Kamis 14 Oktober 2021.

Baca Juga: Waspadai Efek Kekurangan Vitamin C pada Kesehatan Tubuh

Selain di wilayah Saguling, Badan Geologi juga mencatat laporan adanya fosil di kawasan Cililin dan Cipeundeuy. Namun, penelitian itu terhenti sejak dibangunnya Waduk Saguling tahun 1980.

"Tahun 70-an itu ditemukan juga di Cililin dan Cipeundeuy. Itu terhenti sejak ada bendungan. Saya yakin ini masyarakat menemukan udah lama, tapi terinformasikan setelah ada pemerhati," paparnya.

Baca Juga: 23 HP Samsung Terbaru 2021 dan Harganya

Oleh karena itu, Badan Geologi mengusulkan kawasan Sirtwo Island dilindungi pasalnya di tempat itu melimpah dan banyak ditemukan fosil binatang verterbrata mulai dari gajah, sapi, rusa, dan kerbau.

"Kita usulkan untuk dilakukan konservasi, biasanya dilindungi bukan berarti tak boleh dimanfaatkan. Tetep bisa untuk pendidikan, penelitian, dan wisata juga bisa, tergantung dari pemerintah daerah mau diapakan ini, tugas kami hanya meneliti kolaborasi dengan akademisi dari UI , UNPAD dan ITB," paparnya.

Halaman:

Editor: Eneng Reni Nuraisyah Jamil

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pendidikan Islam Melahirkan SDM Unggul dan Berkualitas

Selasa, 7 Desember 2021 | 15:24 WIB
X