PTM: Antara Pembelajaran Paling Efektif dan Kerawanan Siswa Terpapar Covid-19

- Minggu, 10 Oktober 2021 | 20:24 WIB
[Ilustrasi siswa belajar di sekolah kala pandemi Covid-19]. Pembelajaran Tatap Muka (PTM) dipandang menjadi pembelajaran paling efektif dibanding dengan sistem daring yang dilakukan selama pandemi. (Ayobandung.com/Kavin Faza)
[Ilustrasi siswa belajar di sekolah kala pandemi Covid-19]. Pembelajaran Tatap Muka (PTM) dipandang menjadi pembelajaran paling efektif dibanding dengan sistem daring yang dilakukan selama pandemi. (Ayobandung.com/Kavin Faza)

SOREANG, AYOBANDUNG.COM — Pembelajaran Tatap Muka (PTM) dipandang menjadi pembelajaran paling efektif dibanding dengan sistem daring yang dilakukan selama pandemi Covid-19.

Kembalinya digelar PTM disambut baik oleh banyak pihak.

Namun di lain sisi, siswa menjadi rawan terpapar terutama saat dalam perjalanan, baik saat berangkat sekolah maupun ketika pulang ke rumah, terutama menggunakan angkutan umum.

Di sekolah, penerapan protokol kesehatan dijaga seketat mungkin. Masker menjadi sebuah atribut wajib dikenakan siswa dan guru ketika belajar; penyediaan tempat cuci tangan pun jadi hal wajib diadakan oleh pihak sekolah.

Dalam menjaga jarak, siswa yang hadir juga dibatasi, kerumunan dijaga seketat mungkin.

Namun hal tersebut hanya berlaku ketika sedang berada di sekolah, ketika keluar gerbang. Kerumunan sulit terhindarkan, termasuk ketika sedang berada di dalam angkutan umum.

"Sesuai dengan Imendagri terbaru, untuk angkutan umum sudah boleh mengakut 70 persen dari kapasitas," ujar Kepala Seksi Angkuta Orang Berbasis Jalan Dinas Perhubungan, Kabupaten Bandung Eric Alam Prabowo, Jumat 8 Oktober 2021.

Di beberapa sekolah yang ada di Kabupaten Bandung, dengan kapasitas penumpang sudah boleh 70 persen, siswa harus berada dengan setidaknya 9-10 orang di dalam angkutan. Walaupun tidak berjejal, namun bukan jarak aman untuk bisa terhindar dari paparan Covid-19.

Kerentanan tersebut diungkapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Grace Mediana.

Menurutnya, protokol kesehatan di sekolah lebih terkontrol, namun ketika siswa dalam perjalanan menjadi kekhawatiran sendiri.

"Saat dalam perjalanan itu yang perlu diwaspadai. Siswa harus benar-benar bisa menjaga protokol kesehatan ketika pulang atau berangkat sekolah," ujarnya.

Verawati, salah seorang orang tua siswa juga mengaku sedikit was was membiarkan anaknya yang babru masuk SMP ketika diliran PTM.

Masker dan hand sanitizer menjadi tambahan bekal anaknya ketika pergi sekolah.

"Khawatir iya, hanya kalau terus daring juga dirasa kurang efektif. Anak diwanti-wanti saja untuk mengenakan masker," ujarnya.

Kepala Dinas Pendidikan Juhana juga mengakui jika hal yang perlu diwaspadai ketika berada di dalam perjalanan.

Terlebih selama satu tahun lebih, siswa belajar secara daring, sehingga terjadi euforia untuk berkumpul bersama teman-temannya.

"Kalau di sekolah akan mudah dikendalikan. Sulit mengendalikan itu ketika di luar sekolah, kalau terpapar di luar bagaimana? misalnya ketika di dalam angkutan umum, kan tidak ada yang bisa menjamin," ujar Juhana beberapa waktu lalu.

PTM Menjadi Pembelajaran Paling Efektif

[Ilustrasi sekolah tatap muka] berdasarkan data dari Dinas Komunikasi dan Informatika, terdapat sekitar 60 desa di Kabupaten Bandung yang masuk dalam kategori blank spot sinyal telepon seluler. (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)

Di lain sisi, PTM dipandag menjadi pembelajaran paling efektif dibanding dengan pembelajaran Daring. Belajar dari sistem Daring selama tiga semester terakhir, pembelajaran daring dirasa kurang begitu membantu siswa.

Verawati mengatakan, selama belajar daring, sebagian besar waktu dihabiskan oleh anaknya untuk bermain, sementara untuk belajar tidaklah terlalu memakan waktu.

"Justru lebih ribet kalau harus daring," ucapnya.

Bantuan orang tua saat belajar daring juga dirasa kurang mendongkrak pembelajaran anak. Bahkan beberapa tetangga Verawati, justru harus mengerjakan tugas anaknya yang masih berada di kelas 3 SD.

Bahkan, tidak jarang anak malah menjadi kecanduan gawai atau bermain game online ketimbang memanfaatkan telepon pintar untuk belajar.

Di Kabupaten Bandung juga terkendala masalah jaringan, terutama daerah yang berada di pelosok atau pegunungan.

Bahkan berdasarkan data dari Dinas Komunikasi dan Informatika, terdapat sekitar 60 desa di Kabupaten Bandung yang masuk dalam kategori blank spot sinyal telepon seluler.

Kepala Dinas Pendidikan mengakui pembelajaran daring kurang efektif bagi transfer ilmu.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

DBHCHT Kabupaten Bandung Memiliki Nilai Manfaat

Jumat, 3 Desember 2021 | 15:46 WIB

Pemadaman Listrik Bandung Hari Ini 3 Desember 2021

Jumat, 3 Desember 2021 | 10:00 WIB

Kecelakaan di Jalan Kopo-Soreang, Dua Remaja Tewas

Kamis, 2 Desember 2021 | 17:37 WIB

UMK Kabupaten Bandung 2022 Tidak Naik!

Rabu, 1 Desember 2021 | 12:54 WIB
X